Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
33


__ADS_3

Haru memperhatikan Mia sedari tadi. sejak dirinya pulang bekerja, wanita itu nampak termenung. Ia penasaran apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.


“Mia, kau kenapa?”


Haru mendekati wanita itu yang sedang duduk di sisi ranjang. Ia pun melakukan hal yang sama dengan menjatuhkan pantatnya di dekat Mia.


Mia menoleh dan menatap suaminya dengan penuh keraguan. dirinya memang tengah gamang antara harus mengungkapkan keinginannya pada Haru atau tidak.


Dan pada akhirnya Mia memilih untuk mengungkapkan segala resah yang mengganggu pikirannya pada Haru. Ia tidak ingin menyimpan segalanya sendiri, sementara kegelisahan yang ia rasakan berkaitan dengan lelaki itu.


“Aku merasa bersalah pada ibumu, Haru.” tutur Mia tanpa mengalihkan pandangannya dari lelaki itu.


“Kita membohongi Ibumu dan memberinya harapan palsu. Aku tidak sampai hati jika terus-menerus menipunya.” ungkapnya lagi.


Haru mengangguk paham, ia tentu saja mengerti tentang itu. Namun rasanya jika apa yang sedang mereka lakukan ini disebut menipu, Haru pikir itu tidaklah benar.


“Kita tidak menipunya, Mia.”


“Kau tidak lupa kan kalau kita menikah secara sah? Pernikahan kita telah terdaftar.” Haru mencoba mengingatkan Mia kalau pernikahan mereka benar-benar terjadi.


“Hanya saja kita sedang pura-pura menjadi sepasang suami-istri yang saling mencintai. Hanya itu kebohongan kita pada Ibu.” jelasnya.


Mereka secara teknis memang suami-istri betulan, hanya saja mereka tidak saling mencintai. dan semua keromantisan itu adalah palsu.


Mia tertegun mendengar penjelasan dari Haru. lelaki itu membuat Mia yang tadinya merasa sangat bersalah, mulai dapat mengurangi perasaan tersebut.


“Tidak semua orang menikah karena cinta. ada banyak pasangan yang menjalani pernikahan tanpa adanya cinta di dalamnya.” ucap Haru.


“Kita bukan satu-satunya yang menikah tanpa cinta, Mia.”


Haru menatap wanita itu dengan sorot mata yang teduh. Ia berusaha menyalurkan rasa nyaman pada Mia melalui tatapan matanya. Haru tidak ingin wanita itu terus terjebak dalam perasaan bersalahnya.


“Tapi pernikahan kita tidak bersifat permanen. akan ada waktunya kita mengakhiri pernikahan ini.” Mia membalas pernyataan Haru yang kemudian disetujui oleh Haru.


“Tidak apa-apa, Mia. Mereka yang menikah karena saling mencintai saja masih bisa bercerai.


Jadi, jangan terlalu dipikirkan.” Haru mengakhiri pembicaraannya dengan Mia.


Lelaki itu kemudian menyuruh Mia untuk berbaring dan dirinya juga menyelimuti tubuh wanita itu dengan selimut.


Haru tersenyum tipis sambil memandangi wajah cantik istrinya. Meski tidak ada cinta untuk wanita itu, tapi Haru cukup nyaman dengan keberadaan Mia di sisinya.


“Kau harus tidur. Karena besok kita akan pergi jalan-jalan.” ucap Haru.

__ADS_1


“Kau sendiri bagaimana?” Mia bertanya karena merasa heran dengan Haru yang tidak ikut berbaring bersamanya.


“Aku akan tidur setelah menyelesaikan pekerjaanku.” ungkap Haru lalu pergi meninggalkan Mia di kamar mereka.


..


Perasaan rindu ini begitu menyiksa, membuat dadanya sesak hingga tanpa sadar ia terisak karena tangisnya yang pilu.


Hampir setiap malam Mia merindukan Hartono dan terkadang hal itu membuatnya kesulitan untuk tidur.


Haru baru saja pergi meninggalkannya untuk mengerjakan pekerjaan lelaki itu. Dan tepat setelah kepergian Haru, Mia termenung karena tiba-tiba dirinya merindukan Hartono.


Sambil mengusap perutnya yang masih datar, Mia melihat foto-foto dirinya saat bersama Hartono dulu di ponsel. dan seketika hal itu meluruhkan air matanya yang memang telah berkumpul di ujung pelupuk mata.


Mia merasa bodoh karena masih mencintai pria itu. atas semua yang telah dilakukan Hartono padanya, perasaan cintanya untuk pria itu tidaklah berubah.


Apalagi setelah dirinya mengandung, rasa-rasanya perasaan cinta ini semakin membesar untuk Hartono.


“Meski kamu telah menorehkan luka padaku, perasaanku padamu tetap tidak berubah.”


“Aku masih sangat mencintai kamu, Schatz.”


**


Haru benar-benar hancur melihat kondisi ibunya yang saat ini terbaring lemah di ruang ICU. Dan Mia sebagai seorang istri berusaha untuk menenangkan Lelaki itu.


Sebenarnya bukan cuma Haru saja yang merasa terpukul dengan kondisi Nana, Mia juga ikut terpukul melihat mertuanya seperti itu.


Apalagi wanita itu sangat baik padanya, dan Mia sudah menganggap mertuanya seperti ibunya sendiri.


“Maaf ya, kita harus menunda acara kita.” Haru merasa menyesal karena harus membatalkan janjinya dengan Mia.


Mia menggeleng pelan, “Tidak apa-apa, Haru. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah kondisi ibu saat ini.” jawab Mia membuat lelaki itu tertegun.


Mungkin jika dirinya tidak menikah dengan Mia, saat ini ia akan sendirian menanggung semua kesedihan ini.


Haru mengangguk singkat, ia kemudian teringat kalau istrinya belum sarapan sama sekali.


“Kamu tunggu sebentar di sini, oke?”


Mia menahan tangan Haru yang sudah beranjak dari tempat duduknya, “Mau kemana?” tanya Mia penasaran.


“Aku mau pergi membeli sarapan.”

__ADS_1


“Kau dan anak dalam kandunganmu belum sarapan, bukan?” tanya Haru sambil menatap lekat pada Mia.


Wanita itu merasa tersentuh dengan perhatian Haru, padahal dirinya sendiri lupa kalau ia belum menyantap makanan apapun.


Mia kemudian melepaskan pegangannya di tangan Haru dan membiarkan lelaki itu pergi untuk membeli sarapan. Mia menatap punggung Haru yang kian menjauh dari pandangannya.


Dan selang beberapa menit kemudian, Haru kembali dengan membawa makanan dan minuman untuk Mia.


“Ini apa?” tanya Mia pada makanan yang diberikan Haru padanya.


“Nasi kare, kau pasti suka.” jawab Haru tanpa memudarkan senyum tipisnya.


Haru kemudian mengambil alih kotak makanan milik Mia, ia mengambil sendok dan menyuapkan nasi kare ke dalam mulut Mia.


Mia menerima semua perlakuan manis Haru saat ini. Ia tidak akan mempermasalahkannya.


“Bagaimana, enak kan?” tanya Haru yang kemudian dibalas anggukkan oleh Mia.


“Enak, aku suka. Terima kasih, Haru.”


Haru tersenyum tipis melihat Mia yang nampak lahap menerima tiap suapan nasi darinya. Tanpa sadar perasaannya mulai menghangat sedikit demi sedikit karena melihat tingkah wanita itu.


..


Ibu mertuanya telah sadar, namun tentu saja wanita itu belum bisa dibawa pulang. sehingga malam ini Haru menginap di rumah sakit, sementara Mia sendiri diperintahkan oleh Haru untuk pulang ke rumah.


Lelaki itu tidak kerasan membiarkan Mia ikut menginap di rumah sakit menemani dirinya dan sang Ibu. Apalagi istrinya itu sedang hamil muda.


Mia sebenarnya ingin menemani Haru, tapi karena lelaki itu melarangnya, menjadikan Mia tidak bisa memaksakan diri.


“Tubuhku terasa pegal-pegal.” gumam Mia saat dirinya hampir sampai di rumah Ibu mertuanya.


Setelah ini dirinya akan langsung mandi dan beristirahat. Mia tersenyum tipis membayangkan tubuh lelahnya menimpa empuknya kasur milik Haru.


Ia kemudian mempercepat langkah kakinya agar segera sampai, namun ketika pagar rumah Haru mulai tertangkap oleh kedua retina matanya, Mia seketika menghentikan langkah kakinya.


Kedua matanya menangkap siluet seorang pria yang berdiri di depan pagar rumah milik Haru. Dari perawakan orang itu Mia jelas tahu siapa dia.


Mia merasa dadanya kembali bergemuruh karena beberapa alasan. Entah karena rasa senang bercampur rindu, atau justru karena takut.


Maka sebelum orang itu menyadari keberadaannya, Mia pun mencoba untuk berbalik arah. namun sial saja pergerakannya kalah cepat dengan orang itu yang lebih dulu menyadari keberadaan Mia.


“Mia—”

__ADS_1


__ADS_2