Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
40


__ADS_3

Hartono berjalan cepat layaknya orang panik saat menyadari kalau dirinya terlalu lama meninggalkan Mia.


Wanita itu pasti menunggunya di parkiran tanpa bisa masuk ke dalam mobil lebih dulu, dikarenakan kunci mobilnya masih ada pada dirinya.


“10 panggilan tidak terjawab.” gumam Hartono setelah mengecek notifikasi ponselnya.


Pria itu memijit keningnya, ia mengedarkan pandangannya menyapu area parkiran mobil untuk mencari keberadaan Mia. Wanita itu tidak ada ketika dirinya sampai di sana, dan hal itu membuatnya resah bukan main.


Hartono takut Mia marah dan pergi meninggalkannya dalam keadaan marah seperti itu.


Tanpa banyak berpikir lagi, Hartono mencoba menghubungi Mia dan tidak butuh waktu lama ia juga mendapatkan jawaban.


“Kamu di mana?” Hartono bertanya dalam sambungan teleponnya.


Terdengar suara bising yang berasal dari kendaraan yang tengah melaju, dan Hartono rasa wanita itu sedang berada di pinggir jalan raya.


“Aku sedang makan.” jawab Mia dengan nada ketus.


“Itu gara-gara kamu terlalu lama.” ungkapnya lagi.


Hartono mengulum senyum kecilnya, “Kirim aku lokasinya, aku akan segera kesana.” titahnya.


“Baiklah..” Mia menyahut pasrah lalu menutup panggilan telepon dari Hartono.


Hartono menatap ponselnya sambil menunggu Mia mengirimnya lokasi di mana wanita itu berada. Dan setelah mendapatkannya, Hartono bergegas ke sana dengan mengendarai mobil.


Tidak membutuhkan banyak waktu, Hartono kini telah sampai di tempat Mia berada. Wanita itu rupanya berada di sebuah tempat makan bakso yang tidak jauh dari rumah sakit.


Pria itu turun dari mobil dan menghampiri Mia, wanita itu tersenyum cerah menyambut kedatangannya. Di mana senyum wanita itu berhasil membuat perasaan Hartono menghangat.


Hartono mendekati Mia dan ia terkejut saat melihat dua mangkuk kosong berada di depan wanita itu.


“Aku telah menghabiskan dua mangkuk bakso.” ujar Mia seraya menahan malu.


Mia tidak pernah makan sebanyak ini, biasanya satu mangkuk bakso saja sudah cukup membuat perutnya kenyang. Tap tadi entah kenapa Mia merasa kurang jika hanya memakan satu mangkuk.


Hartono tidak masalah dengan itu, ia senang melihat wanitanya makan banyak seperti itu. Lagi pula sekarang Mia bukan hanya mengisi perut untuk dirinya sendiri, wanita itu jelas akan berbagi apa yang ia makan dengan calon anak mereka.


“Mau nambah lagi?” tanya Hartono lembut.


Mia menggeleng pelan, “Aku sudah kenyang. Tapi aku mau makan rujak yang ada di seberang jalan sana.” jawab Mia.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong kamu kenapa lama sekali? Aku menunggu sampai kesal.” Mia bertanya dengan wajah memberengut.


Pertanyaan wanita itu sontak membuat Hartono diam, ia tidak tahu harus menjawab apa. karena tidak mungkin juga dirinya mengatakan pada Mia kalau tadi ia lama karena sedang menemani Sharon.


“Tadi di loket obatnya cukup mengantri, dan jaraknya juga lumayan jauh dari tempat kita berada tadi.” Hartono beralasan yang kemudian diangguki oleh Mia.


Wanita itu sama sekali tidak menyimpan kecurigaan pada Hartono dikarenakan alasan pria itu cukup masuk akal.


“Mau pulang sekarang, sayang?” tanya pria itu dan Mia mengangguk mengiyakan.


Hartono kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi untuk membayar makanan yang telah Mia makan terlebih dahulu. Lalu setelahnya ia mengajak Mia untuk keluar dari sana.


Mia senang sekali hari ini, pada akhirnya dirinya bisa merasakan bagaimana jalan bersama pasangan di tempat umum tanpa mengkhawatirkan apapun.


Dulu ia hanya bisa bermesraan di dalam ruangan, tapi sekarang tidak lagi. Mia bisa memamerkan kemesraanya dengan Hartono tanpa keraguan apapun.


**


Fabian dan Laura datang ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Hartono. Pria itu memberitahu Fabian kalau Sharon saat ini sedang dirawat.


Berita tersebut membuat Fabian terkejut, terlebih lagi ia mendapatkan kabar tersebut dari ayahnya. Dan hal itu cukup menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak Fabian.


Sharon tersenyum kecil, meski sedang sakit tapi ia tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya itu pada Fabian.


“Kalian sudah datang.” ucapnya terdengar lemah.


“Bagaimana keadaan Ibu?”


“Kenapa bisa seperti ini?”


Fabian memberi pertanyaan dua sekaligus, dan itu membuat Sharon tersenyum tipis. Putranya semakin perhatian setelah menikah dengan Laura, padahal dulu Fabian termasuk anak yang acuh padanya.


“Ibu tidak apa-apa, sayang. Ibu hanya kecapean.” jawab Sharon tanpa memudarkan senyum lemahnya.


Fabian terdiam sambil menatap wajah pucat ibunya. Ia mengetahui kalau kondisi ibunya yang seperti ini bukan hanya karena kelelahan. tapi juga disebabkan karena Ibunya masih sering memikirkan ayahnya.


Ibunya pasti masih sangat terpukul dengan perpisahan itu.


“Kemana Ayah sekarang?” tanya Fabian menanyakan keberadaan Hartono.


Sharon hendak menjawab kalau Hartono sudah pergi karena dirinya yang mengusir pria itu. Namun kedatangan seorang perawat menghentikan niat Sharon.

__ADS_1


..


“Kakiku pegal.” Mia mengadu pada Hartono saat keduanya baru pulang ke apartemen.


Wanita itu duduk di sofa, lalu meluruskan kedua kakinya di sana. Hartono menghampiri Mia setelah mencuci tangannya.


“Lain kali jangan kenakan heels,” tutur Hartono lalu mulai memijit kaki Mia.


Wanita itu tersenyum cerah saat kakinya dipijit dengan lembut oleh pria itu. Rasanya nyaman hingga membuatnya ingin tertidur.


Saat memijit kaki Mia, Hartono kembali teringat pada Sharon. Ia ingin tahu bagaimana keadaan wanita itu sekarang.


“Kamu melamun,” perkataan Mia berhasil menarik kembali kesadaran Hartono yang sempat tersita karena memikirkan mantan istrinya.


“Sedang memikirkan apa?” tanya Mia lagi penuh selidik.


Hartono tersenyum tipis lalu mengecup bibir wanita itu alih-alih menjawab pertanyaannya.


“Bukan apa-apa, sayang.”


“Kamu mau tidur sekarang?” tanya Hartono setelah melihat pandangan mata Mia terlihat sayu.


Mia menguap sekilas dan kemudian mengangguk mengiyakan, “Aku mengantuk.” tuturnya.


Hartono dengan sigap menggendong tubuh Mia dan membawanya ke kamar. Wanita itu menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu, dan mencoba memejamkan matanya.


“Temani aku tidur ya...” pinta wanita itu dengan manja.


Lagi-lagi Hartono menyanggupinya, pria itu ikut berbaring di samping Mia. Ia harus segera membuat Mia tertidur agar dirinya bisa menghubungi Fabian untuk menanyakan kabar mantan istrinya.


Hartono merasa aneh dengan dirinya, padahal kemarin-kemarin ia tidak seperti ini. Ia tidak pernah memikirkan Sharon setelah sidang perceraian mereka yang pertama.


Tapi semenjak melihat Sharon jatuh sakit dan memperlihatkan sisi lemah wanita itu. Tiba-tiba saja perasaan cemas sekaligus bersalah menghantui pikiran Hartono.


“Selamat tidur, calon istri.” bisik Hartono setelah melihat Mia telah terlelap dan bersiap mengarungi lautan mimpi.


Pria itu perlahan bergerak untuk mengecup kening wanita itu, lalu menatap Mia dengan sorot mata yang teduh.


Setelah puas memandangi wajah damai wanitanya, Hartono kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Fabian.


[Ayah sangat mencemaskan Ibumu. Bagaimana keadaannya saat ini?]

__ADS_1


__ADS_2