Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
28


__ADS_3

“Hai, sayang— aku senang kau menjatuhkan harga dirimu untuk menemuiku.”


Bramantyo menyeringai tipis, menatap seduktif pada wanita cantik di depannya ini. Ia dengan berani mencolek pipi Sharon yang kemudian ditepis cepat oleh wanita itu.


Pria itu terkekeh pelan, “Kenapa kau tidak membiarkan pria lain menyentuhmu sesuka hati?” tanya Bramantyo membuat Sharon semakin kesal.


“Itu karena tubuhku adalah milik suamiku! Pria brengsek sepertimu mana pantas menyentuh kulitku!” jawab wanita itu memancing Bramantyo untuk kembali tertawa.


Pria itu masih melayangkan tatapan meremehkan pada Sharon, “Benarkah?”


“Kalau begitu betapa ruginya kau, Sharon.” ucap Bramantyo penuh arti.


“Kau menjaga mati-matian tubuhmu atas kepemilikan Hartono, sementara pria itu dengan teganya tidak menjaga dirinya sendiri lalu menyentuh wanita lain.” tutur Bramantyo sambil tersenyum culas pada Sharon.


“Bicara apa kau?!” ketus Sharon.


Bramantyo mengangkat kedua bahunya acuh. Pria itu kemudian berdiri dari kursi kehormatannya dan melangkah untuk mendekati Sharon.


“Bukankah tujuanmu datang kemari untuk menanyakan itu?” tanya Bramantyo tepat di samping telinga Sharon.


“Kau yang mulai meragukan kesetiaan suamimu, menuntunmu datang padaku.”


Sharon tidak mampu bersuara. ia memang tidak berniat untuk menyanggah tuduhan Bramantyo, karena tujuannya datang menemui pria itu memang untuk mengetahui sesuatu yang disembunyikan suaminya.


Tapi semakin besar keinginan dirinya untuk mengetahui itu, maka semakin besar pula rasa takutnya. Ia takut informasi yang didapatkannya dari Bramantyo justru akan membuat hatinya hancur.


Melihat lawan bicaranya yang berubah seperti patung, senyum culas di wajah Bramantyo semakin melebar. Ia senang karena Sharon mulai terpengaruh oleh perkataannya.


“Jadi, apa suamiku berselingkuh di belakangku?” Sharon bertanya dengan rasa takut yang kian menjalar memenuhi relung hatinya.


“Aku tidak tahu dia berselingkuh atau tidak.” jawaban Bramantyo sukses membuat Sharon menoleh pada pria itu.


“Lalu ucapanmu kemarin apa?!” emosi Sharon mulai tersulut gara-gara Bramantyo terkesan bertele-tele padanya.


“Aku belum selesai bicara, Sharon.” Bramantyo berucap tegas dan berhasil membuat Sharon bungkam.


“Satu tahun yang lalu aku dengan suamimu menjalin kerjasama. dan sebagai ucapan terima kasihku pada Hartono, aku menyediakan wanita-wanita cantik untuk menemani suamimu makan dan minum.


Kau tahu Sharon? Beberapa pertemuan kami, suamimu tidak tertarik sama sekali dengan para wanita yang kesediakan. Tapi di pertemuan terakhir kami, aku mengganti beberapa wanita yang bertugas pada malam itu.”


Sharon mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Bramantyo tanpa terkecuali. Dan tentu saja dengan keadaan jantung yang berdebar kencang.


“Dan kau tahu apa?” Bramantyo menatap Sharon seraya memamerkan senyum culasnya pada wanita itu.

__ADS_1


“Ternyata suamimu memiliki ketertarikan pada wanita yang baru kutugaskan itu.” ungkap Bramantyo.


Sharon bergeming di tempatnya, wanita itu perlahan merasakan rasa sakit yang menyusup memenuhi rongga dadanya. Padahal semuanya belum jelas, tapi dirinya sudah merasakan sakit hingga seperti ini.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi di malam itu. namun setelah satu bulan berlalu Hartono kembali datang padaku dan meminta alamat rumah wanita itu.” tutur Bramantyo mengakhiri penjelasannya yang panjang.


Pria itu memperhatikan Sharon yang mulai kehilangan kekuatannya hanya untuk sekedar berdiri. Ia hanya menatapnya tanpa berniat membantu wanita itu untuk mencapai kursi dan kemudian duduk di sana.


Bramantyo sadar, jika kebenaran ini mungkin akan sangat menyakiti wanita itu. Mengingat bagaimana jalin kasih antara keduanya telah berlangsung sangat lama.


“Boleh aku meminta informasi lengkap tentang wanita itu?” Sharon bertanya tanpa menatap wajah Bramantyo.


“Tentu, aku akan memberikannya padamu.”


..


Sharon menangis sendirian di dalam mobil, sementara wajahnya menimpa kedua tangannya yang berada di atas setir. Di sebelahnya terdapat selembar kertas berisi informasi tentang wanita yang diduga selingkuhan suaminya.


Dan yang membuat Sharon terkejut bukan main adalah kenyataan bahwa perempuan yang dimaksud merupakan Mia.


Orang yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Ia tidak menyangka suaminya dan juga perempuan itu menipunya hingga separah ini. Dan apa yang dilakukan Hartono benar-benar membuat dirinya hancur hingga yang tersisa saat ini adalah rasa sakit.


Hartono pulang sebelum hujan benar-benar turun menghujami bumi yang ia pijak. Ia menatap bunga yang berada di tangan kanannya, lalu tersenyum kecil.


Saat ini telah terlintas dalam bayangannya tentang raut muka istrinya yang berseri-seri saat menerima hadiah kecil darinya.


Karena dirinya merasa sudah terlalu lama tidak memberikan bunga pada Sharon.


Saat memasuki mansion, Hartono disambut oleh menantunya. Ia menyunggingkan senyum ramah pada wanita itu.


“Kau melihat Ibumu?” tanya Hartono di mana pertanyaannya merujuk pada keberadaan Sharon.


“Ibu sepertinya sedang ada di kamar.” jawab Laura terdengar tidak yakin.


Mendengar itu Hartono kembali melanjutkan perjalanannya menuju lantai atas di mana kamar keduanya berada.


Laura tersenyum simpul, ia barusan melihat ayah mertuanya membawa bunga.


“Aku tidak tahu kalau Ayah ternyata romantis juga.” ucap Laura.


Pantas saja Fabian sangat pandai bersikap manis padanya, rupanya hal tersebut menurun dari perilaku Ayah mertuanya.

__ADS_1


Sementara itu Hartono kini telah berdiri di depan pintu kamarnya bersama Sharon. ia kemudian membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Dan setelah ia membukanya, Hartono disuguhi pemandangan kamarnya yang berantakan dengan keberadaan Sharon yang duduk membelakanginya.


“Sharon, apa yang terjadi padamu?” Hartono bertanya seraya mengayunkan langkahnya untuk mendekati wanita itu.


“Kenapa kau membuat kamar kita berantakan?” tanya pria itu lagi.


Sharon masih bergeming di tempatnya, dan membuat Hartono jadi tidak tenang.


“Apa yang telah kau lakukan di belakangku, Hartono?”


Kedua obsidian hitam milik Hartono melebar seketika tatkala Sharon memanggil dirinya tanpa panggilan sayang.


Wanita itu kemudian memutar tubuhnya untuk menatap Hartono, dan seketika pria itu sadar kalau istrinya tidak sedang baik-baik saja.


Ada jejak-jejak air mata yang menempel di wajah cantiknya, dan itu menandakan kalau istrinya baru saja menangis.


“Kau berselingkuh dariku, benar kan?” tanya Sharon sarat akan rasa sakit.


Pertanyaan yang jelas tidak bisa dihindari oleh Hartono, juga jenis pertanyaan yang membuat tubuh pria itu membeku di tempatnya.


Melihat bungkamnya sang suami membuat tangis Sharon kembali pecah. Wanita itu kemudian berdiri dan menerjang tubuh suaminya.


“Katakan!”


“Apa benar kau berselingkuh dengan perempuan itu?!”


“Perempuan yang sudah kuanggap sebagai putriku sendiri?”


Suara Sharon terdengar bergetar karena wanita itu itu berbicara sambil menahan tangisannya. Hartono merasakan dadanya sesak melihat bagaimana istrinya nampak kesakitan seperti itu.


Sharon menunggu Hartono untuk bersuara, dan menyangkal semua tuduhannya. Namun pria itu masih diam layaknya sebuah patung yang tidak diberi nyawa.


Hal tersebut benar-benar menyakiti dirinya, karena secara tidak langsung Hartono membenarkan semua tuduhan yang mengarah padanya.


“Kenapa kau diam saja Hartono? Jawab aku! Sanggah semuanya!” teriak Sharon tidak lagi terbendung.


Wanita itu juga dengan brutal memukul dada suaminya hingga tangannya ikut merasakan sakit. Sharon benci saat Hartono masih saja diam tanpa melakukan apapun untuk menenangkannya.


“Maaf, aku minta maaf.”


dan balasan dari pria itu sukses membuat tangisan Sharon semakin kencang bersamaan dengan turunnya hujan yang disertai guntur yang menggelegar.

__ADS_1


Langit yang menangis menjadi pelengkap untuk menemani hancurnya seorang Sharon karena perselingkuhan suaminya.


__ADS_2