Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
31


__ADS_3

“Ah— Babi panggang.”


Haru yang tadi berjalan di sekitaran emperan toko menghentikan langkahnya di depan kedai makanan yang menjual babi panggang.


“Kira-kira Mia mau tidak ya kubelikan ini?” Haru bertanya pada dirinya sendiri.


Karena dirinya tidak bisa memastikan sendiri, Haru pun memutuskan untuk bertanya pada Mia langsung. Ia mengirim pesan dan menanyakan apakah wanita itu suka babi panggang atau tidak.


Dan setelah menunggu kurang dari dua menit, Haru mendapatkan balasan yang mengatakan kalau wanita itu menginginkannya.


Maka dengan senyum cerahnya, Haru mulai melangkahkan kedua kakinya memasuki kedai tersebut. Namun sebelum itu seseorang menepuk pundaknya dengan pelan hingga membuat lelaki itu terkejut.


“Haru?!”


“Ini beneran kau?”


Tubuh Haru membeku dibuatnya. Lelaki itu memperlihatkan raut muka yang sarat akan keterkejutannya. sementara kedua orang di depannya justru terlihat antusias saat melihat dirinya.


“Ryuken, Alice—” gumam Haru terdengar samar.


Lelaki itu menatap Ryuken cukup lama, dan kemudian pandangannya beralih menatap pada Alice, Istri dari Ryuken.


Seketika kilasan masa lalu di antara mereka bertiga kembali berputar dengan cepat. menciptakan banyak kenangan yang sejujurnya ia rindukan begitu dalam.


Ryuken, Alice, mereka telah bersama Haru sejak keduanya memulai pendidikan sekolah dasar. Dan mereka bersekolah di tempat yang sama hingga sekolah menengah atas. Sampai pada akhirnya Haru memilih ikut bersama ayahnya ke Indonesia untuk melanjutkan pendidikan strata satu di sana.


“Astaga, aku merindukanmu, Haru!” Ryuken memeluk tubuh Haru tanpa rasa canggung, sementara Haru hanya bisa terdiam. Ia melirik Alice yang terlihat jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.


Wanita itu tumbuh semakin cantik dan memesona. Haru tersenyum tipis pada Alice, dan wanita itu membalas hal yang serupa dengannya.


“Haru, kapan kau kembali ke sini?” Ryuken bertanya pada sahabat lamanya itu.


Haru yang ditanya mulai salah tingkah, ia cukup canggung dengan lelaki itu lantaran sudah lama tidak bertemu.


“Sekitar tiga minggu yang lalu. Aku datang bersama Istriku.” Haru menjawab pertanyaan Ryuken.


“Jadi, kau sudah menikah?” tanya Alice dan juga Ryuken secara bersamaan.


Lihatlah, keduanya bahkan sangat kompak ketika melemparkan pertanyaan padanya. Diam-diam Haru merasa iri karena sepertinya hubungan kedua orang itu semakin membaik.


“Aku baru-baru ini menikah.” ucap Haru.


Ryuken merasa masih kurang puas mengobrol dengan Haru. Hingga ia pun mengajak Haru untuk mampir di kedai ramen langganan mereka saat sekolah dulu.


Inginnya Haru menolak ajakan itu, namun ia tidak enak hati saat Alice ikut memohon padanya. Dan pada akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan kedai tadi dan berpindah tempat ke kedai ramen langganan mereka.

__ADS_1


..


Haru pulang tengah malam setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk mengobrol bersama Ryuken dan Alice.


Lelaki itu tidak mengira akan dapat bertemu lagi dengan mereka. Karena ia sempat berpikir kalau Ryuken dan Alice pergi meninggalkan kota ini.


Saat bersama mereka, Haru kembali merasakan hatinya menghangat. rasa yang membuatnya seakan terlempar ke masa lampau, di mana mereka bertiga masih sering bersama.


Dan pertemuannya dengan Ryuken serta Alice, membuat rasa cinta yang sedang coba ia kubur kembali mencuat ke permukaan.


Haru menghela nafas di sepanjang perjalanannya menuju kamar. Mia pasti sudah tertidur karena dirinya terlalu lama di luar.


“Babi panggangnya juga pasti sudah dingin.” bisik Haru sambil melirik bingkisan yang ada di tangan kanannya.


“Haru—”


Lelaki yang hampir menyentuh gagang pintu kamarnya itu lantas terhenti ketika mendengar suara istrinya dari belakang. Membuatnya tanpa ragu segera memutar tubuhnya untuk menghadap Mia.


Dilihatnya wanita itu sedang berdiri sambil memegang mug yang masih mengepulkan uap panasnya.


Haru tersenyum tipis pada wanita itu, “Kupikir kau sudah tidur.” ucap Haru.


“Aku menunggumu pulang.” jawab Mia membuat lelaki itu mulai dliputi rasa bersalah.


“Maaf, aku terlalu lama.”


Dan ketika Mia mendengar nama Ryuken, ia kini jadi tertarik untuk mengamati raut muka Haru.


“Mia, kau tunggu di sini dulu dan aku akan mengganti baju.”


“Kita akan makan ini bersama.” ujar Haru sambil memperlihatkan bingkisan yang ia bawa pada Mia.


Wanita itu mengangguk dengan semangat. Kebetulan sekali dirinya sedang lapar karena menunggu Haru membawakan makanan untuknya.


“Tunggu ya...” kata Haru sambil mengusap puncak kepala Mia dengan lembut.


Mia termangu ditempatnya. rasanya sudah lama sekali ia tidak mendapatkan usapan kecil di atas kepalanya. meski rasanya berbeda dari yang dilakukan Hartono, tapi gara-gara Haru melakukan itu padanya, Mia kembali merindukan ayah dari janinnya itu.


Tangannya kemudian menyentuh perutnya, lalu mengusapnya secara perlahan.


“Mama rindu pada ayahmu, Nak.” bisik Mia terdengar nelangsa.


**


Tidak selamanya keheningan itu terasa menyiksa. adakalanya keheningan tersebut justru menciptakan ketenangan tersendiri.

__ADS_1


Dan tidak semua keheningan itu bersifat canggung, karena ternyata ada beberapa orang yang justru merasa nyaman meski diliputi hening.


Seperti yang sedang dirasakan oleh Haru dan Mia. dua orang yang terjebak dalam keheningan itu terlihat nyaman satu sama lain. Setelah menghabiskan babi panggang yang dibeli Haru, keduanya kini hanya terdiam satu sama lain tanpa berniat memulai obrolan untuk memecah keheningan.


Mia dengan perasaan rindunya pada Hartono membuat wanita itu larut dalam angannya. Sementara Haru diam karena dirinya tengah menahan gejolak cinta terlarang pada sosok di masa lalu yang kembali ia temui.


Haru melirik Mia yang sepertinya masih nyaman dengan lamunannya. tapi mengingat jika ini sudah terlalu larut, dan wanita itu harus cepat mengistirahatkan dirinya, Haru pun memutuskan untuk mengajak Mia kembali ke kamar.


“Ayo, kembali ke kamar.”


“Kau harus tidur, Mia.”


Haru mengulurkan tangannya untuk Mia, dan wanita itu berpikir sejenak sebelum benar-benar menerima uluran tangan suaminya.


“Lain kali, jika aku terlambat pulang kau tidur duluan saja.” Haru berkata pelan.


“Dan lain kali kalau mau pulang terlambat minimal memberi kabar.” Mia menimpali perkataan Haru.


Lelaki itu melongo mendengarnya, hingga beberapa detik kemudian ia pun tertawa. Haru sadar kalau penyebab Mia menunggunya adalah tidak lain karena dirinya sendiri tidak memberi kabar tentang keterlambatannya.


“Maaf, aku lupa memberitahumu.” ucap Haru menjadi tidak enak hati pada Mia.


Wanita itu menanggapinya dengan sebuah anggukkan. kemudian Haru membuka pintu kamar mereka dan mempersilakan Mia untuk masuk lebih dulu.


Mia melepaskan genggamannya di tangan Haru, dan kemudian berjalan mendekati tempat tidur. Wanita itu berdiri dengan ragu, sementara matanya mencuri-curi pandang pada Haru.


“Ada apa?” tanya Haru yang sadar tengah diperhatikan oleh Mia.


Wanita itu menatapnya dalam diam dan hal tersebut cukup membuat Haru penasaran.


“Bisakah mulai sekarang kita tidur satu ranjang?” tanya Mia dengan raut muka datarnya.


Haru terkejut mendengar itu. dirinya sama sekali tidak menyangka Mia akan berujar seperti itu.


“Aku merasa tidak enak melihatmu terus-menerus tidur di sofa.” ungkap Mia lagi.


Lelaki itu masih diam tanda sedang berpikir. ia tengah menimbang-nimbang apakah dirinya harus menerima tawaran dari Mia atau tidak.


Mia yang melihat keterdiaman Haru mulai merasa tidak nyaman. Sepertinya permintaannya itu terlalu lancang dan membuat Haru tidak senang.


“Kalau tidak mau, juga tidak apa-apa.”


ucap Mia dengan terburu-buru.


Wanita itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan membelakangi posisi Haru. Dan siapa yang menyangka kalau ternyata Haru menyusul Mia dengan berbaring di tempat tidur yang sama dengan istrinya.

__ADS_1


“Mulai sekarang aku akan tidur di sini, bersamamu.” bisik Haru tepat di samping telinga Mia.


__ADS_2