
Cinta pertama memang selalu membekas dalam ingatan. entah kenangan manisnya, atau justru luka yang ditorehkannya.
Cukup merepotkan karena termasuk jenis cinta yang sukar untuk dilupakan. meski perasaan itu terkadang hilang terkikis oleh waktu, namun semua hal-hal yang berkaitan dengan cinta pertama cenderung melekat.
Sharon merasakan semua itu ketika ia kembali bertemu dengan Hartono di sidang perceraian mereka yang pertama.
Semua kenangan mereka di masalalu kembali berputar layaknya sebuah film.
Lalu setelah dirinya merasa terlena hingga menciptakan rindu, tiba-tiba ia kembali teringat akan pengkhianatan yang dilakukan Hartono menjadikan dirinya kembali diserang rasa sakit.
Pria itu hanya meminta maaf, lalu pergi tanpa memperdulikan apakah dirinya telah memberi pengampunan atau tidak. Hartono juga tidak mencoba memohon tentang sebuah kesempatan kedua darinya. hal itu membuat Sharon yakin kalau pria itu memang tidak lagi mencintainya.
Rasanya benar-benar menyakitkan. perasaan yang tumbuh dan bersemayam lebih dari 20 tahun seolah hilang tanpa bekas karena sebuah cinta yang baru pria itu rasakan.
“Bagaimana kabarmu?” Hartono bertanya pada Sharon saat keduanya baru selesai menghadiri sidang pertama mereka.
“Kau masih berani menanyakan kabarku? Setelah semua yang telah terjadi?” tutur Sharon seraya mencoba menguatkan hatinya.
Ia tidak ingin terlihat hancur di depan orang yang telah menghancurkan dirinya hingga tak tersisa.
Pria itu terdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita yang pernah ia cintai dulu.
“Maaf, Sharon.” ucap Hartono yang membuat wanita itu kembali mengingat rasa sakit yang dideritanya karena perbuatan Hartono.
“Aku menyesal karena telah menyakitimu.” ujarnya lagi dengan penuh penyesalan.
Sharon tersenyum tipis, meski bibirnya mengulas sebuah senyuman namun kedua matanya kini telah berkaca-kaca dan hampir menangis.
“Simpan saja rasa sesalmu itu, Hartono.”
“Permintaan maafmu tidaklah berarti karena apa yang kau lakukan telah membuatku merasakan hal seperti ini.” Sharon berujar dengan tenang meski dadanya telah bergemuruh karena rasa marah.
“Sharon—”
“Dengar Hartono, meski aku telah memaafkanmu sekali pun, kau tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya Karma!”
Perkataan Sharon benar-benar menancap tepat ke jantung hatinya. Ia tidak akan bisa mengelak karena perkataan mantan istrinya itu memang benar adanya.
Karena setiap manusia akan mendapatkan balasan dari apa yang mereka telah lakukan, entah baik maupun buruk. Seharusnya Hartono mulai waspada dari sekarang, karena di masa dirinya mungkin akan menuai hukuman akibat perbuatan buruknya di masa lalu.
Sharon mengamati ekspresi wajah Hartono setelah mendengar perkataannya. Sepertinya pria itu mulai kepikiran dengan ucapannya barusan.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, di mana selingkuhanmu itu? Aku tidak melihatnya lagi setelah dia pergi dari rumah kita dulu?” tanya Sharon berhasil menarik kembali Hartono dari lamunannya.
Sharon cukup penasaran dengan kelanjutan hidup Mia setelah Hartono membuang wanita itu demi dirinya. Meski pada kenyataannya apa yang dilakukan Hartono berakhir sia-sia.
“Dia pergi, Sharon.” jawab Hartono sambil menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kerinduan.
“Dia pergi meninggalkanku setelah aku membuangnya.” ungkapnya.
Sharon dapat merasakan mantan suaminya itu benar-benar terpukul karena kepergian Mia. Dan itu membuat Sharon sakit bukan main.
Sebesar itu kah cinta Hartono untuk wanita itu?
Hartono menatap wajah mantan istrinya dengan lekat. ia tahu kesalahannya ini memang sangat fatal, namun ia tetap berharap kalau wanita itu sudi memaafkan dirinya.
“Sharon, sekali lagi aku minta maaf.”
“Maaf karena telah memberikanmu luka sebesar ini.”
Sharon bergeming di tempatnya, ia membiarkan Hartono memeluk dirinya sebagai permintaan maaf. lalu pria itu pergi begitu saja meninggalkan Sharon yang masih setia menatap punggungnya yang kian menjauh.
“Tuhan, mungkin ini takdir yang harus kuterima dengan lapang dada.”
Karena seerat apapun dirinya menggenggam, dia yang pada dasarnya bukan milikmu tetap akan lepas dari genggaman.
Meski hubungannya dengan Haru hanya sandiwara belaka, namun Mia tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri sebagai mana mestinya.
Seperti membantu lelaki itu berpakaian rapi saat hendak pergi bekerja.
“Pulang nanti kau mau aku bawakan apa?” Haru bertanya saat Mia masih sibuk memasangkan dasi di kerah kemejanya.
Mia nampak berpikir sejenak, untuk saat ini dirinya tidak memiliki sesuatu yang diinginkan. tapi tidak tahu nanti, mungkin saja dirinya berubah pikiran.
“Aku akan mengirimmu pesan kalau aku menginginkan sesuatu.” jawab Mia.
Wanita itu kemudian tersenyum puas melihat tampilan Haru saat ini yang telah rapi. Haru yang melihat itu ikut menarik kedua sudut bibirnya, ia senang melihat Mia yang sekarang mulai sering tersenyum.
Karena saat pertama kali mereka bertemu, wanita itu benar-benar nampak suram dan tidak bercahaya.
“Haru, apakah aku boleh keluar rumah?” Mia bertanya sambil menatap wajah tampan milik lelaki itu. Andai saja di hatinya saat ini tidak ada nama Hartono, mungkin Mia sudah dibuat jatuh cinta oleh Haru.
Lelaki itu tampan dan juga baik hati. wanita mana yang tidak akan tertawan hatinya jika diperlakukan sebaik ini?
__ADS_1
Haru tersenyum tipis sambil memegangi kedua bahu milik istrinya. Ia menatap wanita itu dengan lembut.
“Memangnya kau mau kemana?” tanya Haru.
“Aku bosan di rumah terus, Haru.” jawab Mia pelan.
Haru yang mendengar itu menjadi merasa bersalah. semenjak kedatangan mereka ke Jepang, dirinya memang belum pernah mengajak Mia untuk jalan-jalan atau mengunjungi tempat pusat perbelanjaan.
Jadi Haru bisa memaklumi kalau Mia merasa bosan.
“Begini saja, besok aku libur kerja. Bagaimana kalau kita gunakan waktu itu untuk pergi jalan-jalan?” tanya Haru memberikan tawaran menarik untuk istrinya.
Mia tidak keberatan dengan ide Haru, maka dari itu dirinya tanpa ragu menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban atas tawaran lelaki itu barusan.
..
“Bu, sudah minum obatnya?”
Mia menghampiri Nana yang pada saat itu sedang berbaring di tempat tidurnya. Sejak semalam wanita itu mengeluhkan kepalanya yang kembali sakit.
Nana tersenyum lemah menyambut kedatangan menantunya. Wanita itu kemudian menyuruh Mia untuk duduk di sampingnya.
“Sudah, sayang.” jawab Nana.
Mia terenyuh melihat bagaimana kondisi ibu mertuanya saat ini. meski mereka baru mengenal satu sama lain, tapi ia sudah merasa dekat dan sayang pada wanita itu.
“Ibu harus sembuh.” Mia berkata sambil menitikan air matanya.
“Aku tidak mau kehilangan seorang Ibu untuk kedua kalinya.”
Ungkapan Mia barusan mampu menggetarkan hati Nana. Ia merasa tersanjung dengan ketulusan menantunya itu. Dan di satu sisi Nana merasa sakit mendengar penuturan wanita itu, karena dirinya jelas tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi dan memenuhi keinginan Mia.
Nana memeluk Mia, lalu membelai rambut wanita itu dengan ringan layaknya bulu. begitu lembut dan menenangkan.
“Ibu senang bertemu denganmu. Dan Ibu bahagia karena Haru memilihmu.”
Ucapan Nana laksana sebuah batu besar yang menghantam kewarasan Mia. Mia merasa jahat karena telah membohongi Nana tentang pernikahannya dengan Haru.
Nana begitu baik dan menerimanya dengan tulus, namun dirinya lagi-lagi mempermainkan kepercayaan orang lain. Hal itu mengingatkan Mia pada Sharon yang dulu juga telah ia tipu bersama Hartono.
Ia benar-benar wanita yang buruk. dirinya tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Nana.
__ADS_1
Haruskah Mia mengatakan hal yang sebenarnya pada Nana? Tentang pernikahannya dengan Haru yang ternyata hanya sandiwara belaka.