
"Nia, kamu pacaran ya sama Kak Arga?" tanya Fina yang membuat Kurnia tersedak saat minum air putih.
"Kamu dapat darimana informasi yang gak jelas itu?" tanya Kurnia.
"Ini, ada yang ekspos kamu di medsos," Fina memperlihatkan foto Kurnia bersama Kakaknya.
Kurnia terkejut melihat foto dirinya dan Arga yang sedang makan direstaurant tersebut. Ia duduk di tepi ranjang disamping Fina.
"Itu kan waktu aku makan sama Kakakmu," kata Kurnia.
"Kalian sempat makan berdua? Dinner gitu?" tanya Fina penasaran.
"Gak seperti yang kamu bayangin. Kemarin kakakmu...," kata Kurnia terhenti ketika mengingat kejadian kemarin.
Ia tak mungkin menceritakannya kepada Fina tentang ia akan dijadikan istri oleh kakaknya, walaupun ia menganggap itu hanya sebagai candaan. Ia tak mau Fina semakin salah faham.
"Kak Arga kenapa?" tanya Fina yang semakin penasaran.
"Enggak,, kemarin kita cuma makan malam aja sepulang kerja, gak ada apa-apa lagi," kata Kurnia berusaha menjelaskan agar Fina tidak salah paham lagi.
"Tapi jarang-jarang lho Kak Arga mau makan sama wanita lain selain aku, apalagi itu karyawannya," selidik Fina.
"Ya mungkin karena aku sahabat kamu. Lagipula kan tadi pagi aku juga tidak makan,"
"Ya sih, mungkin saja Kak Arga khawatir sama kamu. Padahal biasanya dia tidak akan pernah mengkhawatirkan karyawannya," Fina menggoda Kurnia lagi.
Kurnia memukul Fina dengan bantalnya saking gregetannya dengannya. Fina membalas pukulan itu dengan bantal juga sehingga keduanya saling memukul layaknya anak kecil.
...****************...
Di pagi hari, Kurnia sudah berada dimeja makan. Ia sengaja bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan untuk bosnya yang tak lain adalah Arga.
"Pagi Kak Arga," sapa Kurnia ketika melihat Arga mendatangi dirinya di meja makan.
"Iya pagi. Fina mana?" tanya Arga.
"Masih dikamar Kak,"
"Belum bangun?" tanya Arga sambil membenahi jam tangannya yang terlingkar di pergelangan tangannya itu.
"Sudah, dia masih mandi," sahut Kurnia.
Kemudian menghidangkan makanan dipiring Arga.
"Ohhh, gak usah tunggu dia makan. Sekarang kita ada meeting, jadi berangkat pagi," kata Arga.
"Baik Kak," Kurnia menatap Arga ingin mengatakan sesuatu tentang foto mereka yang tersebar di sosmed tetapi ia tak berani.
"Kenapa menatap saya?" tanya Arga yang membuat Kurnia terkejut.
Ia tidak tahu mengapa Arga bisa memperhatikannya padahal jelas-jelas Arga menundukkan kepalanya memakan makanannya.
"Mmmm.. masalah foto kita yang tersebar di sosmed. Kak Arga sudah tahu?"
"Sudah," jawab Arga singkat sambil mengunyah makanannya.
Tidak ada reaksi terkejut dari Arga, itu membuat Kurnia bingung. Jadi ia memutuskan untuk diam saja.
***
__ADS_1
"Baik terimakasih atas kerjasamanya. Semoga lancar sampai akhir," kata seorang pria bertubuh tinggi, tetapi tidak lebih tinggi dari Arga.
Pria itu menjabat tangan Arga, begitupula dengan Arga. Sedangkan Kurnia berdiri disamping Arga, pikirannya melayang jauh memikirkan foto dirinya bersama Arga yang tersebar di sosmed.
"Kamu kenapa?" tanya Arga setelah clientnya pergi.
"Tidak apa-apa Bos," sahut Kurnia.
"Ya sudah. Kita makan siang dulu yuk," ajak Arga.
"Siap Bos".
Arga dan Kurnia pergi ke tempat dimana Arga memarkirkan mobilnya. Di perjalanan menuju tempat parkir ada banyak karyawan wanita yang tengah berbisik melihat mereka berdua.
"Beruntung banget deh dia bisa jadi asisten Bos," kata salah satu karyawan.
"Iya tuh. Aku juga pingin jadi Asisten Bos," sahut karyawan lainnya.
Kurnia sangat tak nyaman menjadi pusat perhatian di sana.
Di dalam mobil Kurnia melamun memikirkan sesuatu yang tak berani ia ungkapkan kepada Arga. Tetapi jika tidak di bicarakan akan membuat hatinya gelisah, akhirnya ia memutuskan untuk memberanikan dirinya.
"Bos, saya boleh jujur tidak?" tanya Kurnia dengan jantung yang berdetak kencang.
"Apa?" sahut Arga singkat.
"Saya kurang nyaman menjadi pusat perhatian di tempat kerja," kata Kurnia.
"Maksudnya?" tanya Arga.
"Ya maksudnya seperti tadi Bos," ucap Kurnia.
"Mmm gimana ya, bikin supaya tidak menjadi pusat perhatian lagi," kata Kurnia.
Arga memikirkan cara yang tepat untuk permasalahan Asistennya. Ini adalah pertama kalinya dia memikirkan perasaan karyawannya.
"Gimana Bos? Udah ada cara belum?" tanya Kurnia.
Tetapi Arga hanya menggelengkan kepalanya yang artinya belum.
"Kamu tidak akan bisa lepas dari perhatian orang-orang, jadi kamu harus terbiasa dengan hal itu," ucap Arga.
Ya memang benar karena Kurnia berjalan dengan Bos Besar yang sangat terkenal dikalangan masyarakat.
Beberapa menit kemudian Arga dan Kurnia sampai di sebuah restaurant bintang lima. Kurnia turun terlebih dahulu membukakan pintu mobil Arga, memang terlihat sedikit aneh tetapi itulah tugas Kurnia yang tercantum di kontrak mereka.
"Silahkan Bos," kata Kurnia setelah membukakan pintu mobil Arga.
Arga turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam restaurant yang sangat mewah itu diikuti oleh Kurnia di belakangnya.
"Bos juga suka makan di sini?" tanya Kurnia tanpa disadarinya.
"Kamu juga?" tanya Arga balik.
Arga sebenarnya tahu kehidupan Kurnia, walaupun tidak terlalu mengenalnya tapi Arga tahu dari cerita orang-orang. Dan dengan kehidupan yang menderita itu, Arga menebak tidak akan mungkin keluarganya mengajak ia makan di sini.
"Iya Bos," kata Kurnia.
"Owh," jawab Arga singkat.
__ADS_1
"Tuan Arga, silahkan mau meja berapa?" tanya seorang petugas di restaurant itu.
Lagi-lagi Arga menjadi sorotan pusat perhatian orang-orang. Ini membuat Kurnia tak nyaman, ia juga tidak tahu mengapa dirinya menjadi seperti ini. Padahal dikehidupan yang dahulu Kurnia adalah CEO yang banyak bertemu dengan banyak orang, dan terkadang menjadi pusat perhatian seseorang.
"Seperti biasa, saya mau ruangan VIP" ucap Arga.
Kurnia terkejut mendengar Arga memesan ruangan VIP, seumur-umur di kehidupan yang dulu ia tak pernah memesan ruangan VIP itu karena harganya yang sangat mahal.
"Mari Tuan, saya antarkan," kata petugas tersebut kemudian berjalan menuju ruangan yang dipesan Arga.
"Silahkan Tuan,"
"Iya terimakasih," ucap Arga kepada petugas tersebut.
Arga dan Kurnia duduk di kursi yang sudah di sediakan. Lalu mereka memesan makanan yang ada di menu tersebut
"Kurnia saya ke toilet dulu ya," ucap Arga.
"Siap Bos," sahut Kurnia memberi hormat kepada bosnya.
Tak berapa lama, terjadi keributan di dekat sana. Terlihat seorang petugas yang sedang ribut dengan pelanggan.
"Maaf tuan, ruangan VIP ini sudah ada yang pesan," kata petugas itu menaikkan nada bicaranya, karena sudah berkali-kali dijelaskan tetapi si pelanggan masih bersikeras.
"Kalau tuan seperti ini terus, kami akan memanggil security untuk mengusir Tuan dan Nona," kata petugas itu lagi.
"Saya tidak mau tahu, usir saja orang yang memesan ruangan VIP ini," kata pelanggan itu yang ternyata Alex dan Karina.
Mendengar ada suara yang tak asing, Kurnia menolehkan wajahnya ke arah keributan itu terjadi. Bersamaan dengan itu, Alex melihat Kurnia juga.
Melihat mantan kekasihnya yang memesan ruangan VIP, Alex langsung menghampirinya diikuti oleh Karina.
"Ohhh ternyata ini tamu yang sangat kamu hormati," kata Alex setelah sampai di meja Kurnia.
"Aku kira siapa, ternyata hanya wanita murahan," imbuh Karina.
"Pria tua mana yang mau mengajakmu ke sini. Sampai memesan ruangan VIP," ejek Karina.
"Maaf Nona, saya tidak mampu mencegahnya," kata petugas itu kepada Kurnia.
"Tidak apa-apa. Biar saya urus, Anda pergi saja," kata Kurnia.
Petugas itu pun pergi meninggalkan ruangan VIP itu dengan perasaan was-was. Karena tidak mampu melaksanakan tugasnya, sudah pasti gajinya dipotong apalagi tamunya adalah Arga. Jika Arga komplain mengenai hal tadi petugas tersebut sudah tidak mendapat ampun.
Kurnia berdiri dari tempat duduknya, lalu...
PLAK! PLAK!
Kurnia menampar wajah Karina dan Alex, sehingga membuat mereka terkejut.
"Kamu! Kenapa kamu menampar kita?" tanya Karina yang tidak terima.
"Kamu mau tau apa?" tanya Kurnia mendekatkan dirinya ke telinga Karina.
Sedangkan Karina gemetar.
"Itu karena tidak ada hal lagi yang harus di sampaikan kepada sampah seperti kalian," ucap Kurnia.
"Dasar kamu wanita sialan," Alex mendorong Kurnia dan tertangkap oleh Arga.
__ADS_1
"Aku kira siapa yang membuat keributan, ternyata hanya dua ekor Anj*ng," kata Arga kemudian membantu Kurnia untuk duduk.