
"Kamu kenapa gak bilang dari dulu kalau suka sama Kak Arga?" tanga Fina.
"Ya gak mungkin lah, malu aku,"
"Alah kamu ini,"
Kring...Kringg...Kring...
"Siapa yang nelpon? Kok gak di angkat?" tanya Fina yang melihat Kurnia memandangi handphonenya.
"Ayah aku," kata Kurnia.
"Angkat aja, siapa tahu penting," ujar Fina.
Kurnia pun menjawab telepon Anto yang sedari tadi menelepon berkali-kali.
"Ada apa?" tanya Kurnia ketus.
"Ada yang mau ayah omongin Kurnia," jawabnya.
"Maaf Anda bukan ayah saya lagi, dan sekalipun Anda memiliki sesuatu yang penting tidak ada urusannya dengan saya," sahutnya.
"Tapi ini serius sangat penting Kurnia," kata Anto.
"Tidak ada yang lebih penting dari uang kan? Saya tidak punya waktu untuk meladeni Anda," kata Kurnia lalu menutup teleponnya.
Tapi beberapa detiknya Anto meneleponnya hingga berkali-kali membuat Kurnia kesal.
"Ada apa lagi? Saya sudah bilang masalah apapun yang Anda punya sudah tidak ada hubungannya lagi sama Saya," bentak Kurnia membuat Fina terkejut.
"Tapi beri saya waktu untuk menjelaskannya dulu, entah ini penting atau tidak, itu terserah kamu. Ini tentang Bara," ucap Anto di dalam telepon.
"Ada apa sama dia?" tanya Kurnia yang sedikit penasaran.
"Dia suka sama kamu, perusahaan Ayah masih ada kerjasama yang belum dia tandatangani. Jadi, Ayah akan mengatur perjodohan kamu sama Bara," jelas Anto.
"Anda ini keterlaluan sekali ya, belum cukup uang yang di beri oleh Arga waktu ini? Lagipula saya sudah tegaskan kita tidak memilik hubungan apa-apa lagi, apa kamu mengerti bahasa manusia? Apa perlu saya menggunakan bahasa Anj*ng?" Kurnia mendamprat Anto.
"Kamu jangan kurang ajar ya, selama ini kamu belum pernah membuat saya bangga. Saya sudah menghidupimu selama bertahun-tahun, sekarang giliran kamu membalas budi kepada saya," balas Anto yang tak mau kalah.
"Memberi saya makan, menyekolahkan saya itu memang kewajiban Anda dan hak saya. Jika anda masih mengharapkan balas budi itu, lebih baik Anda tidak membuat anak," hardik Kurnia.
"Lagipula untuk seorang Ayah yang mata duitan seperti Anda tidak akan bisa bangga dengan keberhasilan anak-anaknya jika tidak menghasilkan uang," lanjut Kurnia.
Karena tidak ada hal penting lagi yang ingin disampaikan Kurnia jadi, ia memutuskan untuk menutup teleponnya.
__ADS_1
Dia tidak ingin berdebat dengan orang yang tidak tahu malu.
"Br*ngsek, anak tidak tahu di untung. Berani-beraninya dia menutup teleponnya, benar-benar kurang ajar," Anto melempar teleponnya membuat istrinya segera menghampiri.
"Ada apa Mas?" tanya Sarah tergesa-gesa menghampiri Anto yang tengah berdiri di ruang tamu.
Di lihatnya Handphone yang sudah terbelah menjadi dua akibat di lempar oleh Anto.
"Mas ada apa? Apa yang membuat kamu marah sampai-sampai handphone kamu terbelah seperti itu," kata Sarah menunjuk handphone milik Anto yang sudah terbelah itu.
"Aku pusing Sarah, kerjasama dengan perusahaan Bara belum di tandatanganinya. Dan lebih parahnya lagi dia akan tandatangan jika aku berhasil membuat Kurnia jatuh cinta padanya," keluh Anto.
"Mas suruh saja Kurni agar mau dijodohkan oleh Bara," kata Sarah.
"Sudah, barusan Mas sudah telepon tapi apa? Dia malah berani melawan Mas dan berkata kasar pula," gerutu Anto.
"Mari kita buat rencana, dengar-dengar Arga akan pergi ke pesta ulang tahun Pak Reza kemungkinan besar Arga akan membawa Kurnia kan?. Bukankah Mas pernah bekerjasama dengan Pak Reza,"
"Rencana apa yang kamu buat?" tanya Anto.
Sarah membisikkan tentang rencana yang akan dia buat di pesta ulang tahun tersebut.
"Bagus juga ide kamu," puji Anto setelah Sarah memberitahu rencananya.
"Iya dong Mas, aku gitu loh," ucapnya.
Keesokan Harinya....
"Kurnia! Fina! Kalian sudah selesai belum siap-siapnya?" Arga berteriak memanggil Fina dan Kurnia yang sangat lama di kamarnya.
"Iya sudah Kak," sahut Fina keluar dari kamarnya bersama dengan Kurnia.
Arga terpukau melihat Kurnia yang sangat cantik. Biasanya saat bekerja dia tidak pernah memakai pakaian yang terbuka.
"Ciee Kak Arga, terkejut ya melihat penampilan Kurnia," goda Fina yang sadar akan pandangan Arga.
"Apa sih Fin, mulai deh," ucapnya sedikit malu.
Fina cekikikan melihat tingkahnya Arga yang salah tingkah seperti itu. Sedangkan Kurnia hanya diam saja, dia sangat malu terlebih lagi ketika Fina sudah mengetahui rahasianya bahwa dia menyukai kakaknya.
"Yuk berangkat," ajak Arga.
Mereka bertiga pun masuk ke mobil Arga dan di sopiri oleh Arga, karena tidak mungkin Kurnia yang menyetir.
Sesampainya di lokasi, Arga disambut oleh Reza dan Indri. Terlihat mereka sangat senang atas kehadiran Arga dan Fina.
__ADS_1
"Arga ini siapa?" tanya Reza sambil menunjuk Kurnia dengan sopan.
"Oh ini asistenku namanya Kurnia," sahut Arga.
"Sekaligus sahabat aku Om," ucap Fina.
Reza mengulurkan tangannya hendak bersalaman dan memperkenalkan dirinya.
"Saya Reza teman orang tuanya Arga," ucapnya memperkenalkan dirinya.
"Iya Tuan, saya Kurnia," ucapnya sambil tersenyum.
"Cantik Arga, gak sekalian angkut jadiin pacar," ejek Reza.
"Ah, Om ini bercanda terus," kata Arga malu.
Semua yang ada di sana tertawa kecuali Indri yang tak senang dengan candaan ayahnya.
"Oh iya, Indri selamat ulang tahun ya. Ini hadiah dari Kakak," kata Arga menyodorkan hadiah yang sempat ia beli disuatu toko sebelum berangkat ke pestanya.
"Makasih Kak Arga," ucapnya.
"Om mau nyambut tamu yang lain dulu ya, kalian duduk-duduk saja dulu cari makan dan minum," kata Reza.
"Ayah aku mau di sini sama Kak Arga," pinta Indri.
"Ya sudah, kamu ngobrol-ngobrol saja dulu ya. Lagipula kalian sudah lama tidak bertemu," ujarnya.
"Baik Om," sahut Arga.
"Kurnia, Fina kalian duduk saja dulu. Kakak mau temani Indri dulu sambil berbincang-bincang," kata Arga.
Arga dan Indri pergi meninggalkan Fina dan Kurnia. Ada sedikit rasa cemburu ketika melihat Indri bergandengan tangan layaknya seperti pasangan bersama Arga.
"Kamu jangan cemburu ya Nia, dia itu gak pantas jadi saingan kamu," ucap Fina yang peka terhadap perasaan Kurnia.
"Gak lah Fin, lagipula ada hak apa aku cemburu sama dia," sahut Kurnia.
"Jangan gitulah, aku pasti bantu kamu agar Kak Arga juga suka sama kamu. Lagipula aku yakin banget kalau Kak Arga suka sama kamu, tadi aja dia sampai pangling lihat kamu," kata Fina.
"Udah ah, gak pingin bahas. Lebih baik cari makan aja dulu, lumayan gratis," ucap Kurnia.
Mereka berdua pun menuju ke sebuah meja yang berisi banyak makanan di atasnya. Setelah mengambil sepotong kue dan segelas minuman Kurnia dan Fina mencari tempat duduk.
Fina sengaja mencari tempat duduk yang strategis untuk mengawasi kakaknya dan Indri. Ia ingin tahu gerak geriknya Indri.
__ADS_1
"Upss! Maaf ya minumanku tumpah di gaunmu, tidak apa-apa kan?" kata seorang wanita yang tiba-tiba datang.
Dari gerak geriknya, wanita itu memang sengaja menumpahkan minumannya ke gaunnya Kurnia.