Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 41 Kurnia mengambil alih Perusahaan


__ADS_3

Malam hari setelah selesai makan malam, Fina kembali ke kamarnya sendirian karena dia sudah tidak tidur lagi dengan Kurnia.


Sebelumnya, Kurnia sudah memindahkan semua barang yang dia tempatkan di kamar Fina dan membawanya ke kamarnya.


"Sayang, apa mau melanjutkan yang tadi?" tanya Arga.


"Gak sayang, aku mau tidur," kata Kurnia sembari mengangkat piring-piring kotor untuk dia cuci sebelum tidur.


Arga menguntit di belakangnya.


"Kenapa sih sayang kok kamu menjauh gitu," ujar Arga.


"Gak sayang, aku mau nyuci dulu. Kamu kembali gih ke kamar," usir Kurnia.


Namun Arga menolak, dia lebih memilih untuk tinggal di sana menemani Kurnia sembari memeluk Kurnia.


Jantung Kurnia berdebar-debar ketika di peluk oleh Arga, karena ini adalah pertama kalinya dia dipeluk oleh seorang pria.


"Sayang kenapa berhenti?" tanya Arga sembari meniup-niup telinga Kurnia.


"Kak Arga aja yang lanjutin ya, aku mau ke kamar," kata Kurnia pergi meninggalkan Arga dengan wajah yang memerah.


"Yah di panggil Kak lagi," gumam Arga.


Dia melanjutkan pekerjaan Kurnia yang hampir selesai.


Sedangkan Kurnia, dia tergesa-gesa menutup pintunya karena malu.


'Kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku? Ada apa ini?' tanyanya pada dirinya sendiri.


Dia menggosok-gosong wajahnya naik turun berharap dapat melupakan kejadian tadi. Namun dia mendengar suara pintu terbuka, dia lupa mengunci pintunya.


"Kak Arga ngapain ke sini?" tanya Kurnia.


"Tuh kan manggil Kak lagi," Arga memasang wajah cemberut sembari melangkah masuk dan menutup pintu.


"Eh maksudnya sayang," kata Kurnia meralat panggilannya.


"Nah gitu dong kan enak di dengar," kata Arga duduk di atas ranjang mendekati Kurnia.


"Kamu kenapa sih sayang? Kok kayak takut gitu lihat aku? Apa aku semenakutkan itu?" tanya Arga.


"Tidak apa-apa sayang, A-aku cuma gerogi aja," sahut Kurnia gugup.


"Udah santai aja sama aku. Aku loh sayang sama kamu, gak mungkin aku ngapa-ngapain kamu," kata Arga membelai rambut Kurnia.


Kurnia mengangguk, dia tersenyum ke arah Arga membuat pria itu senang.


"Sayang, aku mau tidur sama kamu. Aku takut kamu tidur sendiri," ucap Arga mencari alasan.


"Gak ah. Lagipula siapa suruh kamu pisahin aku sama Fina," sahut Kurnia.

__ADS_1


"Ya kan biar kita punya privasi, eh maksudnya kamu," kata Arga sembari menunjukkan gigi putihnya.


"Alasan aja, udah ah kamu kembali ke kamarmu," usir Kurnia.


"Gak mau, aku mau tidur sama kamu," rengek Arga.


"Enggak sayang, kamu harus kembali ke kamar," ucap Kurnia.


Tapi Arga tetap menolak, hal itu membuat Kurnia harus mengeluarkan tenaga untuk menyeret Arga keluar dari kamarnya.


"Udah ya, kamu kembali ke kamar," kata Kurnia setelah berhasil membawa Arga keluar dari kamarnya.


Lalu dia menutup pintu dan menguncinya agar Arga tidak bisa masuk lagi.


Kurnia menghela nafas panjang.


"Pintar juga Arga memilih pengharum ruangan, wanginya membuat aku rileks," kata Kurnia sendirian.


Kurnia melanjutkan untuk tidur karena besok dia berencana akan pergi ke perusahaan yang sudah dia beli.


...****************...


Keesokan Harinya...


"Pak Anto ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang penjaga yang berada di kantor polisi.


Penjaga tersebut membuka pintu penjara dan menggenggam tangan Anto.


Sesampainya di ruang temu, Anto hanya melihat seorang pria asing baginya. Dia belum pernah bertemu dengan pria ini, dia bertanya-tanya tujuan pria itu menemui dirinya.


"Halo Pak Anto," sapa pria itu.


Pria itu berdiri menjulurkan tangannya kepada Anto. Anto yang tidak tahu itu siapa menyambut tangan pria itu dengan raut wajah yang masih bingung.


Anto dan pria itu pun duduk berhadapan.


"Anda siapa?" tanya Anto.


"Oh iya, perkenalkan nama saya Dodi. Mungkin Anda tidak pernah melihat Saya dan apa tujuan saya. Maka darivitu, ijinkan saya menjelaskan tujuan saya," ucap pria itu yany menyebut namanya Dodi.


Anto hanya mengangguk, karena memang itu yang sedang dia tanyakan di dalam hatinya.


"Saya asisten Jordan, tentu Pak Anto tidak asing lagi dengan nama itu kan?. Nah, saya di perintahkan ke sini untuk membuat perjanjian kepada Pak Anto," kata Dodi.


"Perjanjian? Perjanjian apa?" tanya Anto yang semakin bingung.


"Iya. Perjanjian, jika Pak Anto siap bekerjasama dengan Jordan maka Pak Anto akan bebas," kata Dodi.


"Kerjasama apa itu?" tanya Anto.


"Membalaskan dendam Bos Jordan kepada Arga," sahut Dodi.

__ADS_1


Anto terkejut karena dia tidak mungkin bisa melakukan itu, tetapi ini kesempatan yang langka dia bisa bebas dari penjara. Namun, dia juga berfikir jika mencari masalah dengan Arga lagi juga tidak membuat dirinya merasa tenang. Ini namanya lepas dari mulut harimau, masuk ke dalam mulut buaya.


Anto bingung mengambil keputusan apa, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja yang ada di depannya dan menunduk tidak berani melihat ke arah Dodi.


"Kalau Pak Anto tidak bersedia saya pulang dulu," kata Dodi yang beranjak pergi.


Melihat kegelisahan Anto tadi, Dodi berencana pura-pura pergi agar Anto cepat mengambil keputusan, karena waktunya juga sudah tinggal 5 menit untuk bertemu Anto.


"Eh Pak Dodi, tunggu sebentar," kata Anto menahan Dodi.


'Kena kau,' batin Dodi.


"Ada apa Pak? Saya tidak punya banyak waktu," ucap Dodi ketus, tidak seramah tadi.


'Cih, hanya seorang asisten saja belagu,' ucap Anto dalam hati.


"Saya, saya bersedia bekerjasama dengan Tuan Jordan," sahut Anto.


"Baik, kalau begitu saya akan segera mengurus kebebasan Pak Anto," kata Dodi kemudian pergi meninggalkan Anto.


"Waktunya sudah habis Pak, silahkan kembali ke dalam sel," kata penjaga tersebut.


Di dalam sel, Anto terus kepikiran tentang kerjasama yang dia setujui dengan Jordan. Anto beberapa kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, dia merasa pusing.


...****************...


Sedangkan di kantor, terlihat Kurnia yang sedang berbicara dengan staf di sana.


"Tolong perintahkan mereka untuk rapat jam 9 nanti ya," ujar Kurnia.


"Baik Bu," kata asistennya.


Kurnia meninggalkan asisten tersebut dan menghampiri Arga yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Makasih ya Sayang, kamu sudah bantu bereskan semuanya. Sampai-sampai asistenpun kamu urus," kata Kurnia kepada Arga.


"Iya sama-sama sayang, aku cuma gak mau kamu di tipu sama orang yang kamu percayai. Apalagi kamu pertama kali pegang perusahaan," ucap Arga khawatir.


"Tenang aja Sayang, aku bisa handle kok," sahut Kurnia tersenyum.


'Kamu tidak tahu saja kalau di kehidupan dulu aku sudah mengambil alih perusahaan papaku. Dan ahli dalam mengurus bisnis,' batin Kurnia.


"Tapi sebentar!" Arga seperti mengingat sesuatu.


"Kenapa?" tanya Kurnia.


"Gak jadi, hehe," kata Arga tersenyum.


"Dasar Aneh! lebih baik kita makan dulu sebelum rapat," ajak Kurnia.


Arga mengangguk dan mengikuti langkah Kurnia.

__ADS_1


__ADS_2