Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 25 Mencoba menerima Keadaan


__ADS_3

"Jangan, Tolong jangan mendekat, jangan sakiti aku. Aku mohon," teriak Fina histeris ketika Arga mendekatinya.


"Tidak apa-apa Fin, ini Kak Arga. Kakak gak akan menyakiti kamu," ucap Arg berusaha untuk menenangkan Fina sambil memeluknya.


Tetapi Fina seperti tak ingin di sentuh oleh Arga, ia berkali-kali mendorong Arga yang sedang merangkulnya.


"Fin, ini Kak Arga. Kamu jangan takut ya," pinta Arga.


"Tidak, tolong jangan sakiti saya. Saya tidak ingin melakukannya lagi," kata Fina sambil menangis.


Tangisannya semakin kencang ketika ia mengingat kejadian di rumah kosong tersebut bersama para preman-preman tersebut.


"Bos, jangan di paksa. Fina masih trauma dengan kejadian itu," ucap Sandi yang baru masuk ke ruangan Fina.


"Huhh!" Arga menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Ini semua gara-gara Kurnia, kalau dia tidak mengajak Fina untuk menemui Bara pasti tidak akan menjadi seperti ini," kata Arga marah.


"Bos, lebih baik Bos minta keterangannya sama Kurnia. Dia sudah sadarkan diri," ucap Sandi memberikan solusi.


Arga yang mengetahui bahwa Kurnia sudah sadar bergegas keluar menuju ruangan Kurnia yang di rawat di sebelah ruangan Fina.


"Kurnia, mengapa kamu tega mengorbankan sahabat kamu demi kepuasan kamu sendiri," ujar Arga ketika sudah sampai di ranjang Kurnia.


Kurnia yang masih bingung, bertanya "maksud perkataan Bos apa? Fina kenapa?" tanya Kurnia yang sudah tahu siapa orang yang di bicarakan oleh Arga.


"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu lihat ini," Arga menunjukkan foto Kurnia yang tidur seranjang dengan Bara.


Kurnia membelalakkan matanya, terkejut melihat foto dirinya yang bermesraan denga Bara.


"Sedang asik bermesraan dengan dia, kamu tidak tahu kalau Fina habis di perk*sa oleh banyak preman. Bahkan pria yang ajak kamu itu adalah tersangka kita," teriak Arga marah.


"Tapi, saya sama sekali tidak pernah tidur dengan seranjang dengan Bara. Seingat saya, Fina dan saya di culik oleh para preman di tengah jalan," ucap Kurnia memberi penjelasan.


"Jangan bohong kamu, saya tidak akan percaya dengan kata-katamu lagi. Apa kamu tahu keadaan Fina sekarang seperti apa? Dia ketakutan dan tidak mau dekat dengan saya," kata Arga.


"Bos maafkan saya, tapi saya juga korban di sini," kata Kurnia.


"Alah! Jangan kira dengan kamu memelas seperti ini saya menjadi kasihan sama kamu," kata Arga.


Kurnia terdiam, rasanya sakit sekali di tuduh seperti itu oleh orang yang ia cintai. Kurnia berusaha menahan tangis di depan Arga agar tidak di ucap sandiwara lagi olehnya.

__ADS_1


"Kalau kamu berhasil membuat Fina tidak merasa ketakutan lagi, saya akan maafkan kamu. Tapi kalau tidak, kamu harus menikah dengan saya, melayani saya di r*njang. Saya akan memberimu uang, tapi jangan harap kamu mendapat kasih sayang saya," ucapnya.


"Saya beri kamu waktu seminggu, jika gagal kamu harus menikah dengan saya. Dan kamu saya pecat sebagai asisten saya," kata Arga kemudian meninggalkan Kurnia di ruangannya.


Air mata Kurnia tak bisa di tahan lagi, ia menangis tanpa suara. Berusaha menahan isaknya agar tidak terdengar oleh orang lain.


Di satu sisi ia sangat senang menikah dengan Arga yang merupakan pria yang Kurnia cintai. Tetapi di sisi lain, Arga menganggapnya hanya seorang pel*cur saja dan tidak lebih dari itu.


'Arga, kenapa kamu seperti ini. Aku juga korban di sini, tapi kenapa kamu tidak mempercayainya dan bahkan menuduhku. Apa kamu tidak tahu kalau aku suka sama kamu? Apa perasaanmu tidak sama seperti aku?" Bathin Kurnia yang di iringi dengan tangisannya.


Kurnia kemudian menghapus air matanya dan menunggu agar wajahnya tidak terlihat habis menangis. Setelah menyeka air matanya dan wajahnya kembali seperti semula, dia bangkit dari bangsalnya.


Kepalanya terasa sakit, tetapi ia memaksakan dirinya untuk pergi melihat sahabatnya. Dia tidak ingin menjalin pernikahan dengan cara seperti itu, apalagi pernikahan itu sakral.


"Mba mau kemana?" tanya Sandi yang menemukan Kurnia keluar dari ruangannya.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Kurnia yang baru pertama kalinya melihat Sandi.


"Saya salah satu bawahan bos Arga, sama seperti Mba. Ngomong-ngomong, mba mau kemana?" tanya Sandi.


"Saya mau ke ruangan Fina, adiknya Arga. Apa anda tahu dimana?"


"Oh di sebelah Mba, tapi Mba jangan masukin ke hati kalau Bos Arga berkata kasar ya. Dia memang sifatnya seperti itu, apalagi yang terluka adalah adik tersayangnya," kata Sandi memberitahu Kurnia.


Dia sudah tahu bagaimana reaksi Arga jika dia datang.


"Permisi," ucap Kurnia ketika sudah berada di ruangan Fina.


Melihat Fina yang masih menangis, Kurnia menghampirinya dan menyarankan Arga untuk keluar terlebih dahulu agar tidak memperkeruh suasana.


Arga menuruti perintah Kurnia dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Fina, Fina," Kurnia melambaikan tangannya di hadapan Fina.


"Kamu masih ingat aku kan? Aku Kurnia sahabat kamu," kata Kurnia mencoba menenangkan Fina.


Fina hanya terdiam tak merespon, ia seperti orang kehilangan akalnya.


Melihat Fina tak meresponnya, Kurnia merogoh sakunya. Kurnia mengambil HP nya dan menunjukkan sebuah foto kepada Fina.


"Fina, dengan ini kamu harus percaya kalau aku teman dekat kamu. Bukankah kamu merasa ceria dan merasa aman saat di dekatku dulu?" Kata Kurnia.

__ADS_1


Fina memperhatikan fotonya bersama Kurnia, ia menatap Kurnia lekat-lekat.


"Tapi benar kan, kamu tidak akan membawa aku kepada preman-preman itu lagi?" Fina masih meragukan Kurnia.


"Tidak akan Fina, kamu tidak akan lupa kan sama sahabatmu ini. Orang kamu tidak amesia kok, masa iya kamu lupa sama seorang yang bernama Kurnia," ucap Kurnia mencoba menghibur Fina.


Fina tersenyum tipis kepada Kurnia yang membuat Kurnia sedikit bahagia.


Pelan-pelan Kurnia memulihkan rasa takut Fina, hingga sudah di rasa Fina sudah sediakala ia mulai bertanya tentang kejadian yang sebenarnya.


"Fina, boleh kamu jelaskan kenapa kamu bisa sampai seperti ini? Karena seingatku kita berdua di culik oleh penjahat itu," kata Kurnia.


Mendengar pertanyaan tersebut, Fina kembali merasa takut dan khawatir.


"Tidak apa Fina kalau tidak mau menjelaskan sekarang. Aku nunggu kamu siap dulu deh," kata Kurnia memberikan waktu untuk Fina.


Dia tidak ingin Fina kembali menjadi seperti tadi.


"Fina apa yang kamu rasakan saat ini? Apa masih merasa takut?" tanya Kurnia.


"Kurnia, aku takut. Aku sangat takut, aku tidak ingin bertemu dengan laki-laki lagi," kata Fina berucap sambil memeluk Kurnia erat.


Kurnia mengelus punggung Fina halus.


"Fin, kamu tidak boleh terus-terusan seperti itu. Kakakmu laki-laki, suatu saat kamu akan menikah dengan laki-laki. Lagipula tidak semua pria seperti preman-preman itu Fin," Kurnia memberikan nasehat kepada Fina, tujuannya agar tidak membuat Fina agar tidak berlanjut pada rasa takut tersebut.


"Laki-laki mana yang mau menikahi aku Nia? kehormatanaku sudah di rampas oleh pria-pria itu. Aku malu sama Kakakku Nia, aku malu bertemu orang sekitar," keluh Fina.


"Fin, tidak semua orang akan memandahg rendah kamu, pasti ada laki-laki yang mau menerima aku apa adanya," kata Kurnia.


Fina terdiam, mencoba mencerna nasehat-nasehat yang diberikan oleh Kurnia tetapi rasa takutnya lebih besar.


"Fina, kalau aku tidak bisa menghilangkan rasa trauma kamu selama seminggu ini, kakakmu akan menikahiku dan memperlakukan aku layaknya p*lacur. Apa kamu mau aku menikah dalam keadaan sengsara? Dan apakah kamu mau kakakmu menikahi wanita yang tidak ia cintai?" kata Kurnia berterus terang kepada Fina.


"Kenapa Kak Arga seperti itu kepads kamu?" tanya Fina.


"Karena Kak Arga mengira aku yang mengajak kamu ke sana, dan dia mendapat kiriman foto aku bersama pria lain saling berpelukan. Makanya dia mengancamku seperti itu," kata Kurnia


"Aku tidak mau kalian menikah jika tidak bahagia," ucap Fina.


"Makanya Fin, bantu aku ya kali ini saja," pinta Kurnia.

__ADS_1


"Aku berjanji akan menemanimu seminggu ini agar bisa percaya diri lagi dan kembali seperti Fina yang seperti dulu," lanjutnya.


Fina mengangguk yang artinya menyetujui untuk membantu sahabatnya itu. Tentu saja hal ini membuat Kurnia sangat senang, setidaknya masih ada harapan untuknya.


__ADS_2