Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 32 Hukuman menanti Anto


__ADS_3

Sesampainya Anto di rumahnya, anak dan istrinya menyambut Anto dengan gembira. Sudah pasti Sarah dan Karina mengharapkan hadiah yang dijanjikan oleh Anto sendiri sebelum pergi.


Melihat raut wajah Anto yang tidak senang seperti tadi sebelum pergi, Kartika menghampiri suaminya.


"Ada apa Mas? kenapa wajah Mas seperti itu? Mana hadiah kita Mas?" Sarah memberikan Anto pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Iya nih Pa, mana hadiahnya? Kok Papa pulang dengan tangan kosong? Apa jangan-jangan Papa suruh kita milih sendiri ya? Mana uangnya Pa?" Karina juga ikut bertanya kepada Anto.


Ini membuat Anto semakin kesal dan emosi.


"Kalian ini hadiah..hadiah..hadiah terus!!! Bisanya cuma ngabisin uang saja, sesekali hasilin uang dong!" Anto membentak anak dan istrinya.


Saat ini suasana hati Anto sedang tidak baik, terlebih lagi setelah mendengar ocehan anak dan istrinya. Sangat-sangat kalut, bagaimana tidak? Kerjasama yang seharusnya berjalan dengan lancar malah dibatalkan oleh perusahaan Bara. Bahkan Bara tidak menerima lagi kerjasama dalam bentuk apapun dari perusahaan Anto.


Masih ada lagi, sebentar lagi dirinya akan berada di dalam sel menurut ancaman dari Bara. Anto benar-benar pusing memikirkannya dan juga ada rasa takut di dalam dirinya.


"Bukankah itu tadi kamu yang menjanjikan hadiah kepada kami? Wajar dong kalau kami menagihnya," bantah Sarah yang membuat Anto semakin emosi.


"Kamu sudah melihat wajah Mas sedang suram, seharusnya kamu lebih memperhatikan Mas daripada memikirkan hadiah itu," ujar Anto marah.


"Bukankah aku sudah bertanya kepada Mas, tapi Mas langsung marah-marah kan sama aku!!!" Sarah ikut berteriak karena emosi.


"Bukan gitu, CK! Arghhh!!" Anto sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sarah sangat berbeda dengan Alm. Istri pertamanya yang sangat perhatian kepada Anto. Dia merindukan istri pertamanya lagi, menyesal dia menikahi Sarah.


"Mas lagi pusing!! Kamu tahu tidak, sebentar lagi polisi akan datang ke rumah kita," ujar Anto.


"Kenapa ke sini Mas?" tanya Sarah yang belum mengerti maksud Anto.


"Iya Pa kenapa ada polisi yang datang ke sini? Aku gak mau ya nikah sama polisi kalau dia sudah tua," ujar Karina ke PD-an.


"Ahhh!! Kamu lagi Karina jangan terlalu percaya diri kamu!!. Sudah pasti polisi kemari untuk menangkap seorang penjahat," kata Anto yang tidak habis pikir dengan jalan pikir anaknya.


"Loh emang siapa penjahatnya Pa?" tanya Karina.


"Tentu saja Papa yang jadi tersangka akibat mengikuti rencana bodoh ibumu itu," kata Anto melempar kesalahannya kepada Sarah.

__ADS_1


"Loh kok aku lagi sih Mas?" tanya Sarah tidak terima.


"Iyalah, kalau bukan kamu yang memberikan ide untuk menculik Kurnia dan Bara, aku gak akan jadi tersangka. Aku gak mau tahu, pokoknya nanti kalau polisi datang aku akan menyerahkan kamu," kata Anto yang langsung meningalkan Karina dan Sarah.


Dia tidak ingin berdebat lagi, sudah lelah.


"Ma gimana nih? Masa iya Mama di penjara sih?" Karina menggenggam tangan Sarah, dia tidak ingin Sarah masuk dalam sel.


"Mama juga tidak tahu Karina, menurut sifat papamu itu dia tidak akan main-main dengan ucapannya. Selain itu juga dia akan mengorbankan segala cara agar mendapat tujuannya termasuk kita Kar," Sarah ikut gelisah.


"Jadi gimana dong Ma?" Karina memasang raut wajah cemas begitupula dengan Sarah yang tak kalah cemasnya.


***


Di sisi lain, Kurnia sedang makan bersama di rumahnya Arga bersama Fina. Mereka bertiga sedang asik berbincang-bincang di sana, terlihat sudah seperti keluarga.


"Kurnia, apa rencana kamu selanjutnya tentang kasus ini?" tanya Arga.


"Saya mau menyelidiki ayah saya terlebih dahulu Kak, karena saya curiga dia pelakunya," kata Kurnia.


"Kamu ingat gak waktu dia telepon aku? Waktu di kamar kamu, ayahku bilang akan menjodohkan aku dengan Bara. Kamu ingat kan?" Kurnia mencoba membangkitkan memori ingatan Fina.


"Oh ingat, ingat," sahut Fina.


"Ya itu, aku sangat yakin kalau dia pelakunya," ujar Kurnia.


"Ya sudah kalau begitu Aku sama Kak Arga akan bantu kamu selidiki juga ya," ucap Fina menawarkan dirinya.


"Oke!" Kata Kurnia mengacungkan jempolnya.


Keesokan harinya, Fina sudah mulai kuliah lagi. Walaupun berita tentangnya sudah dihapus oleh Arga, tetapi sebagian teman kuliahnya sudah tahu kasus tersebut. Sebagian orang yang tahu kasus itu memilih untuk diam karena takut kepada Arga. Sebagiannya lagi masih berani untuk mengejek Fina karena keperawanannya sudah di renggut oleh preman-preman.


Tetapi Fina tak menggubrisnya, dia selalu mengingat kata-kata semangat Kurnia bahwa itu bukan kemauannya dan Fina tidak perlu mendengarkan ocehan orang lain.


Di taman, terlihat Karina yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Awalnya Fina memilih untuk melewatinya dan masa bodo, tetapi mendengar nama sahabatnya di sebut-sebut, Fina memutuskan untuk menguping pembicaraan Karina dan teman-temannya.

__ADS_1


"Jadi, itu ulah orang tua kamu Kar? Gak nyangka ya orang tua kamu seberani itu," ucap salah satu teman Karina.


"Kenapa takut? Lagipula Kurnia tidak sehebat yang kita bayangkan. Dulu saja dia anggap aku sebagai budak " kata Karina sombong.


"Tapi hati-hati loh, orang tua kamu berurusan sama Arga. Soalnya Kurnia kan punya dukungan dari Arga sekarang," temannya memperingati Kurnia tetapi dia tetap dengan angkuhnya membantah.


"Tidak mungkin ketahuan oleh Arga. Adiknya saja sudah di perkosa oleh preman itu sampai tak sadarkan diri. Sekarang sahabat Kakakku itu pasti depresi berat. Sudah tidak di ragukan kalau Arga akan membenci Kurnia karena Arga sangat menyayangi Fina. Dan setelah itu Kurnia tidak mempunyai dukungan lagi," ucap Karina.


"Nah justru itu, karena Arga sangat menyayangi Fina. Kakaknya Fina pasti akan menyelidiki siapa dalangnya," kata temannya lagi.


Karina sebenarnya sudah takut, apalagi Bara sudah curiga kepada ayahnya dan menjadikannya tersangka. Tetapi dia tidak peduli, dia tidak ingin terlihat takut di depan teman-temannya.


Sedangkan Fina yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka merasa kesal.


"Untung aku sudah merekamnya," gumam Fina sembari mebaruh handphonenya di saku lalu pergi meninggalkan tempat itu agar tidak ketahuan.


***


Sepulang dari tempat kuliah, Fina kembali ke rumahnya dengan cepat. Terlihat Arga yang sedang duduk di ruang tamu, Fina pun menghampirinya.


"Tumben gak ke kantor Kak?" tanya Fina.


"Gak ah, Kakak khawatir kamu kenapa-kenapa lagi," kata Arga yang masih trauma meninggalkan adiknya.


"Enggak kok Kak, aman!" kata Fina.


"Oh ya Kak, Kurnia mana?" tanya Fina yang tidak melihat Kurnia.


"Di kamarmu. Ada apa mencarinya?" tanya Arga balik.


"Aku mau kasih tunjuk video menarik Kak," kata Fina.


"Video apa?" tanya Arga penasaran.


"Tunggu Kurnia keluar dari kamar, kita tonton videonya bareng. Aku mau panggil Kurnia dulu," kata Fina bersemangat.

__ADS_1


Melihat Fina yang sangat bersemangat itu, Arga merasa senang. Dia sudah mendapatkan Fina yang dulu.


__ADS_2