Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 6 Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Keesokan harinya, Kurnia bangun lebih awal untuk siap-siap berangkat bekerja. Ini adalah hari pertama Kurnia bekerja jadi ia tak ingin terlambat.


"Udah selesai siap-siapnya Nia? Kak Arga sudah menyiapkan makanan di ruang makan," ucap Fina.


"Iya sebentar lagi siap kok Fin, kamu duluan saja," kata Kurnia sambil mengikat rambutnya.


"Oh yasudah, nanti ke ruang makan ya,"


"Iya Fin,"


Fina keluar dari kamar meninggalkan Kurnia menuju ke ruang makan. Terlihat Arga yang sudah selesai menghidangkan makanannya.


Fina dan Arga menyiapkan makanan di piring mereka masing-masing.


Beberapa menit kemudian Kurnia keluar dari kamar Fina. Ia duduk di sebelah Fina, tetapi pada saat itu Arga sudah selesai makan.


"Saya kan sudah bilang kamu bangun lebih pagi," kata Arga sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Tapi saya kan sudah bangun pagi Kak," kata Kurnia.


"Kamu tahu tugas Asisten itu apa?"


"Melayani Bos ketika dibutuhkan,"


"Apakah saya tidak butuh Makan dan minum?" tanya Arga lagi.


"Iya kebutuhan, tetapi itu kan kebutuhan yang bersifat pribadi. Bukankah tugas seorang asisten hanya melayani Bosnya di perusahaan saja?" tanya Kurnia balik.


Arga pun beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah katapun, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Beberapa saat kemudian Arga keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah map berwarna merah.


"Tolong di baca dong Nona Asisten," kata Arga setelah membuka map tersebut dan menunjuk ke salah satu persyaratan kontrak.


"Sebelum Bos berangkat ke perusahaan makanan harus sudah tersedia di meja makan," Kurnia membaca Persyaratannya.


"Maaf Bos tapi bukankah saya menjadi asisten bukan pembantu?" bantah Kurnia.


"Bukankah saya sudah mengingatkan kamu untuk membaca isi kontraknya terlebih dahulu sebelum kamu menandatangani kontraknya?" tanya Arga balik.


"Lagipula apa gunanya bagi saya mengijinkan kamu tinggal di rumah saya kalau tidak ada urusan pekerjaan," imbuh Arga.


"Yasudah, kalau seperti itu saya mencari tempat tinggal saja. Bukankah dengan seperti ini berguna?" sahut Kurnia.


"Baca yang ini dulu Nona Asisten," kata Arga sambil menunjuk persyaratan yang paling akhir.


Ternyata di sana tertulis bahwa jika sudah menandatangani kontrak, pihak kedua yang merupakan Kurnia tidak di ijinkan untuk merubah atau komplain lagi masalah isi kontrak. Jika sudah menandatangani kontrak itu sama saja kalau pihak kedua sudah setuju dengan seluruh isi kontraknya.


Kurnia menggigit bibirnya, ia kalah telak. Memang itu salahnya dia tidak membaca isi kontrak terlebih dahulu. Kemudian ia membaca isi kontrak lainnya, dan ternyata selain menjadi asisten di kantor ia juga harus siap siaga di rumah. Apapun yang Arga butuhkan, ia harus menyiapkannya dengan cepat.

__ADS_1


Bahkan ada persyaratan jika membuat bos tidak senang gaji akan di potong seharga 500rb. Itu artinya Kurnia tidak boleh membuat Arga marah ataupun emosi.


Kurnia menyesal tidak membaca isi kontrak terlebih dahulu, tetapi ia lebih menyesal bekerja di perusahaan Arga, dan menganggap Arga orang yang baik.


"Kak tidak boleh seperti itu sama sahabat aku, Kak Arga jangan berbuat curang," bantah Fina membela Kurnia.


"Diluar pekerjaan Kamu dan Kurnia bersahabat. Tapi kalau dalam pekerjaan tidak ada sahabat-sahabat lagi. Dan juga Kakak tidak curang, dianya aja yang malas membaca dan menganggap enteng," sahut Arga.


Fina tak mampu berkata-kata lagi, begitu juga dengan Kurnia.


"Untuk saat ini kamu saya maafkan, tetapi kalau kamu melakukan kesalahan lagi saya akan potong gaji kamu. Satu kesalahan dipotong 500 ribu, jika kamu melakukan kesalahan 2 kali itu artinya 1juta, dan begitu seterusnya," Ucap Arga.


" Nanti saya salinkan isi kontraknya agar kamu bisa membaca isi kontraknya. Tetapi setelah membacanya, walaupun kamu ada keluhan saya tidak akan mengubah isi kontraknya. Apa kamu mengerti Asisten Kurnia?" Imbuh Arga.


"Mengerti Kak," ucap Kurnia sambil menahan amarahnya.


"Oke kalau sudah paham, sekarang berangkat ke perusahaan," kata Arga.


"Tapi saya belum sarapan," bantah Kurnia.


"Itu urusan kamu, salahkan diri kamu bangun kesiangan," ucap Arga.


"Kak Arga! Kakak memang bosnya Nia, tapi Kak Arga tidak boleh seenaknya seperti itu. Setidaknya kasih Nia waktu makan, toh juga kalau Nia sakit kakak juga yang rugi," bentak Fina kepada kakaknya.


"Fina, ini masalah pekerjaan. Walaupun Kurnia itu sahabat kamu tapi kamu tidak ada hak untuk mencampuri pekerjaannya. Di sini kakak yang berhak Kurnia mau ngapain. Dan kamu juga tidak ada hak untuk membentak Kakak," jelas Arga.


"Kak Arga sedang mengajari Asisten Kakak untuk disiplin, bukan malas-malasan. Kalau diluar dari perusahaan kakak, sahabatmu ini tidak akan mendapat pekerjaan seperti ini dengan gaji yang besar," ucap Arga sombong.


"Sudah, kalian jangan bertengkar lagi. Fina biarkan aku bekerja dengan baik,Oke?. Aku butuh uang, lagipula kontrak sudah aku tandatangan. Biarkan kakakmu menjalani tugasnya sebagai Bos aku," kata Kurnia.


Kurnia tak mau melihat dua bersaudara itu bertengkar karena dirinya.


"Bos, mari kita berangkat kerja," kata Kurnia mengajak Arga ke perusahaan.


Fina merasa sedih sahabatnya harus sesusah itu menghadapi pekerjaannya. Tetapi ia percaya kalau Kurnia pasti kuat menghadapi rintangannya, lagipula Bos Kurnia adalah kakaknya sendiri jadi tidak mungkin Kurnia sampai ada masalah.


***


Setibanya di perusahaan, seluruh pandangan karyawan tertuju pada Kurnia. Mungkin karena mereka pertama kalinya melihat Kurnia di sana.


"Hei, siapa itu di belakang Bos Arga. Apa dia asisten Bos Arga?" tanya karyawan perempuan dengan karyawan lainnya.


"Mungkin iya. Tapi bukankah biasanya Bos Arga tak suka kalau ada asisten di sampingnya?" tanya karyawan lainnya.


"Mungkin wanita itu menggoda Bos Arga supaya bisa menjadi asisten Bos,"


"Sudah selesai bergosip?" tanpa di sadari oleh mereka Arga tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

__ADS_1


Mereka yang bergosip sangat ketakutan, mereka merasakan aura dinginnya Arga.


"Ma-maaf Bos. Kami akan lanjut bekerja," kata karyawan-karyawan tersebut dan kemudian pergi terburu-buru meninggalkan Arga dan Kurnia.


"Lumayan juga ya kamu bisa mendapat banyak perhatian dari karyawan-karyawan saya," kata Arga mengejek Kurnia.


"Itu karena Bos yang terlalu mencolok, bukan saya," kata Kurnia.


Tanpa sepatah katapun Arga melangkahkan kakinya menuju ruangannya yang diikuti oleh Kurnia.


"Ini ruangan kamu dan saya. Di sini hanya ada meja saya, jika tidak ada tamu kamu boleh duduk disofa sana," kata Arga sambil menunjuk ke sofa yang di depannya berisi meja.


"Dan jika ada tamu, kamu bisa berdiri di samping saya," kata Arga.


"Apa? tidak di sediakan meja untuk saya. Lalu nanti kalau saya mau mengerjakan sesuatu yang harus menggunakan meja bagaimana?" tanya Kurnia sedikit terkejut.


Ia tak menyangka Arga sepelit ini dengan asistennya.


"Bukankah di depan sofa ada meja?" tanya Arga balik.


"Yasudahlah. Lagipula jika pekerjaan saya tidak bagus, Bos tidak berhak untuk komplain karena fasilitas yang diberikan perusahaan tidak lengkap," kata Kurnia.


"Siapa bilang? Bukankah sudah ada di kontrak Bos berhak komplain kepada karyawan, tetapi sebaliknya karyawan tidak boleh komplin kepada Bos".


"Apa ada isi kontrak yang seperti itu?," tanya Kurnia terkejut.


"Ini," kata Arga sambil menunjukkan kontraknya.


"Tapi kan..."


"Eittss... kalau kamu membuat saya tidak senang lagi gaji kamu bisa di potong loh," kata Arga sambil menggoyang-goyangkan kontraknya kepada Kurnia.


"Yasudahlah. Saya nyerah, terserah Bos," kata Kurnia pasrah.


"Dasar pelit," umpat Kurnia.


"Apa kamu bilang?" tanya Arga.


"Saya bilang TERSERAH BOS," kata Kurnia mengulang perkataannya.


"Bukan yang itu, kamu tadi bilang saya pelit," kata Arga yang ternyata mendengar umpatan Kurnia.


"Ya kan fakta kalau Bos Arga yang terhormat ini pelit," kata Kurnia yang tak bisa menahan emosinya lagi.


"Ok Gaji kamu saya potong," ucap Arga.


Kurnia ternganga, tak mampu berkata sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2