
"Bu, ibu tidak apa-apa?" tanya Karina.
"Badan Ibu sakit semua Kar, tapi siapa yang bawa Ibu kemari?" tanya Sarah.
"Kurnia Bu," sahutnya.
Sarah terkejut melihat Kurnia yang datang bersama Arga dan Fina.
"Oh, tau diri juga dia. Apa mungkin dia sudah tobat?" kata Sarah tidak tahu terimakasih.
"Bu jangan gitu, masih untung Kurnia mau membantu aku bawa Ibu kesini," ujar Karina.
Namun Sarah tetap kekeh dan tidak menghargai Kurnia di sana. Dia berfikir kalau itu memang tugasnya Kurnia sebagai anaknya, walaupun anak tirinya.
"Karina, kita pamit pulang. Kamu ingat dengan apa yang sudah kamu katakan tadi," ujar Kurnia lalu berlalu dari hadapan Karina tanpa menunggu jawaban Karina.
Kurnia melangkahkan kakinya keluar ruangan bersama dengan Arga dan juga Fina.
"Bu kenapa Ibu seperti itu. Kurnia sudah baik kepada kita walaupun kita dulu jahat sama dia, tapi dia masih mau membantu kita," ujar Karina kepada Sarah.
"Aduh Karina, kenapa kamu jadi memihak ke dia?" kata Sarah dengan nada kesal.
"Bu aku bukannya memihak sama dia, tapi memang benar tadi aku sampai memohon sama dia buat bawa Ibu ke rumah sakit. Tapi saat Ibu sudah sadar, Ibu malah bersikap seperti itu, bahkan bilang makasi saja tidak sama dia," kata Karina marah.
"Lagipula dia siapa sih Karina, apa kamu lupa dia itu saingan kita? Kalau gak ada dia nanti kita akan mendapat kasih sayang dari papa kamu," kata Sarah.
"Dia saudara Karin Bu, dia bukan saingan kita. Lagipula apa yang Ibu harapkan dari lelaki bajingan itu?" tanya Karina.
"Karin, kamu jangan tidak sopan seperti itu memanggil papa kamu. Ini nih, akibat bergaul sama Kurnia jadi nular sifat durhakanya. Buktinya, sekarang kamu udah berani melawan Ibu," bentak Sarah.
"Bu apa Ibu tidak sadar? Papa memperlakukan kita seperti peliharaannya? Saat emosi dia akan melampiaskan kepada kita, saat dia senang dia tidak menoleh kepada kita. Dia bertindak seenaknya kepada kita," ujar Karina berusaha menyadarkan Ibunya.
"Bu, setelah Ibu sembuh aku akan mengajak Ibu pergi dari sini," lanjut Karina.
"Gak Karina, Ibu gak mau pergi meninggalkan papa kamu. Ibu masih cinta sama Papa kamu," ujar Sarah.
"Cinta? Ibu dulu Ibu hanya mengincar hartanya bukan? Kenapa sekarang Ibu mencintainya? Apa ibu masih belum sadar juga dia memperlakukan Ibu seperti ini? Lihat saat ini Ibu di rumah sakit apa dia datang kemari untuk menengok Ibu? Gak kan?" teriak Karina.
__ADS_1
Karina sudah tidak tahu lagi apa yang dipikirkan oleh Ibunya. Jika memang karena cinta, dia percaya kalau ada istilah cinta itu buta.
"Karina kamu tidak mengerti Ibu. Ibu melakukan ini juga demi kamu, Ibu tidak mau kamu menjadi anak yang tanpa ayah," kata Sarah yang sudah mulai melemahkan suaranya.
"Bu, aku tidak peduli itu lagi Bu. Aku cuma mau kita hidup bahagia berdua," ujar Karina, matanya berlinangkan air mata.
Sarah menghapus air mata Karina, dia tidak ingin anaknya merasakan kesedihan. Namun, Sarah juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Karin, kita gak akan bisa hidup bahagia tanpa Papa. Kita mempunyai tempat tinggal dan bisa makan itu karena papa kamu. Kita bergantung sama papa kamu Karin," ujar Sarah memberikan pengertian kepada Karina.
"Bu kita masih bisa kerja. Kalau Ibu gak mampu, biar aku saja yang kerja Bu. Aku gak apa-apa putus kuliah Bu, daripada aku kuliah juga nantinya gak bisa apa-apa," kata Karina.
"Gak Karin, kamu gak boleh putus kuliah. Ibu tidak mau masa depan kamu berantakan karena Ibu".
"Ibu gak usah khawatirin itu Bu, justru masa depan aku akan hancur jika kita tetap tinggal sama Papa," ujar Karina.
"Oke, oke. Terus kamu akan kerja dimana? Kamu pikir dapat pekerjaan itu mudah? Dunia luar itu keras Karin, gak semudah yang kamu bayangkan," kata Sarah.
"Aku akan usaha Bu, mau sekeras apapun itu aku akan berusaha," sahut Karina.
"Oke jika itu mau kamu, Ibu memberimu waktu satu minggu untuk mendapatkan pekerjaan, jika kamu mampu mendapatkan satu pekerjaan yang tetap Ibu akan pergi sama kamu," ujar Sarah.
Kring...Kring!
Suara telepon Karina berbunyi, dia mengambil handphonenya yang dia letakkan diatas meja.
"Halo, ada apa Kurnia?" tanya Karina setelah telepom diangkat.
"Kamu lagi sibuk?" tanya Kurnia.
"Masih jagain Ibu, kenapa emang?" tanya Karina.
"Aku mau dalam beberapa hari ini kamu mata-matai Anto dari gerak geriknya. Dan cari tahu apa penyeban Anto bisa bebas dadi penjara," perintah Kurnia.
"Nanti aku akan membayar sesuai kinerjamu," lanjutnya.
"Baik, aku akan mencoba mencari informasinya. Tapi aku ingin minta tolong sama kamu," kata Karina.
__ADS_1
"Minta tolong apa?" tanya Kurnia.
"Nanti saja aku bilang saat sudah mendapatkan informasinya. Untuk bayarannya pakai itu saja, tidak usah mengeluarkan uang lagi untuk aku," ucap Karina.
Mereka akhirnya saling menyetujui kesepakatan yang sudah mereka buat.
"Siapa Kurnia?" tanya Sarah.
"Temen Bu," ucap Karina berbohong.
Karina tidak mau Ibunya tahu soal dia disuruh memata-matai Anto, karena dia tahu Ibunya masih belum berada di pihaknya. Dia takut Sarah akan melaporkan rencananya kepada Anto.
...****************...
Sedangkan Anto yang bertemu dengan Jordan di sebuah restaurant.
"Bagaimana? Apa Bapak setuju dengan rencananya?" tanya Jordan.
"I-iya Tuan, saya setuju," ujar Anto.
"Ingat, jangan sampai gagal ya," pesan Jordan.
"Iya Tuan, saya usahakan berhasil," kata Anto.
"Jangan usahakan dong, tapi HARUS," kata Jordan menekankan kata-katanya.
"Baik Tuan," sahut Anto.
Dia lumayan gugup untuk melaksanakan rencana keji yang dibuat oleh Jordan. Tetapi dia tidak bisa menolaknya karena sesuai perjanjian, setelah dia bebas dari penjara dia akan menuruti semua perintah Jordan.
"Baik, kalau begitu selamat bekerjasama ya Pak," kata Anto mengulurkan tangannya di atas meja kepada Anto.
"I-iya Tuan," sahutnya.
Setelah kesepakatan dicapai, Jordan pergi meninggalkan Anto disana. Barulah Anto bisa bernafas dengan lega.
Namun, dia masih belum menemukan cara untuk memulai rencana yang direncanakan oleh Jordan. Baginya sangat susah untuk berurusan dengan Arga, terlebih lagi jika ada suatu kesalahan mungkin nyawanya akan menjadi taruhan.
__ADS_1
"Arghhhhh! Pusing sekali aku memikirkannya. Lebih baik aku pergi ke bar," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya, lalu Anto melangkahkan kakinya pergi dari restaurant tersebut.
Dia berusaha mencari kesenangannya sendiri, karena masalah yang tertimbun dikepalanya membuat Anto berfikir untuk pergi ke bar. Karena istrinya sudah tidak mampu membuatnya senang, dia mencari wanita lain di luaran sana tanpa memikirkan perasaan Sarah.