
"Kak Arga tidak perlu turun tangan dengan orang semacam mereka. Aku sendiri bisa membereskannya," ucap Kurnia tanpa mengalihkan pandangan dari Sarah.
"Apa? Tidak merasa kah kamu sudah menjadi anak durhaka? Datang bukannya membantu tapi malah menambah masalah. Apa itu yang di ajarkan oleh Shinta semasa hidupnya? Memang perempuan tidak berguna, mendidik anak saja tidak becus. Dasar payah!" maki Sarah.
Mendengar caci makian Sarah, tangan Kurnia semakin tidak bisa di tahan.
PLAKK!!!
PLAKK!!!
PLAKK!!!
Kurnia menampar berulang kali wajah Sarah dari kiri ke kanan. Kurnia sudah sangat emosi, terlebih lagi Sarah menjelek-jelekkan ibunya.
"Kak, apa yang kamu lakukan?" Karina menghampiri Sarah yang habis ditampar oleh Kurnia.
"Jangan memanggilku Kakak lagi. Sangat menjijikkan!" ucap Kurnia.
"Kurnia jaga ucapanmu. Kita ini keluarga, apa yang kamu lakukan ke kita itu salah," teriak Anto marah.
"Bisa mencari kesalahan orang lain, tentu harus bisa mencari kesalahan diri sendiri. Jangan menjadi orang yang egois terus menerus. Atau Egoismu itu akan menjerumuskanmu ke jalan yang menuju neraka, seperti kamu contohnya," kata Kurnia dengan nada merendahkan.
"Dasar kamu anak durhaka," Anto mengangkat tangannya hendak menampar Kurnia, tetapi tangannya dengan cepat di tahan oleh Bara.
"Jangan beraninya sama perempuan Pak, ingat anda sudah berumur jangan perbanyak mencari musuh," ejek Bara sambil menghempaskan tangannya Anto.
"Kamu bilang aku anak durhaka, lalu bagaimana dengan putri tersayangmu itu?" Kurnia menunjuk kepada Karina.
"Apa maksudmu? Karina berperilaku lebih baik daripada kamu," Anto membela Karina yang membuat gadis itu tersenyum senang.
"Berperilaku baik karena dia sepemikiran kan sama kamu? Sama-sama mempunyai pikiran yang licik. Mari kita lihat siapa yang lebih durhaka putri kesayanganmu atau aku," tantang Kurnia.
"Bagaimana caranya membuktikan?" tanya Anto.
"Kak Arga tolong dong putar videonya," ucap Kurnia kepada Arga.
Arga mengambil ponselnya dan mempertontonkan video Karina yang direkam oleh Fina.
Terdengar suara tawa dari Karina yang sangat amat senang. Disana juga dia membongkar rahasia Anto.
Melihat video itu, Karina langsung panik dan mengeluarkan keringat dingin. Dia tidak tahu hukuman apa yang akan diberikan oleh ayahnya.
__ADS_1
Melihat ekspresi Anto yang marah itu, membuat Kurnia merasa puas. Terlebih lagi melihat wajah Karina dan Sarah yang nampak sangat ketakutan.
"Berkat putri kesayanganmu ini, kami jadi bisa memberikan bukti yang lebih kuat kepada polisi. Jadi siapa yang lebih durhaka? Aku apa putri kesayanganmu?" kata Kurnia sambil mengeluarkan senyuman sinisnya.
"Darimana kamu dapat rekaman itu? Apa kamu memasang mata-mata di kampus untuk mengawasiku?" tanya Karina.
"Heh! Apa kamu sepenting itu sampai aku menyewa mata-mata untuk mengawasimu?" jawab Kurnia sinis.
"Mohon maaf Bapak, Ibu waktu membesuk tahanan sudah habis. Silahkan kalian meninggalkan tempat ini," ujar salah satu polisi yang mengurus Anto di sana.
"Terima saja Karmanya ya Anto," kata Kurnia tersenyum sinis.
Lalu Kurnia pergi meninggalkan Anto, Karina dan Sarah di sana. Diiikuti oleh Arga dan Bara.
Arga dan Kurnia kembali ke rumah sedangkan Bara akan bertemu dengan wanita yang ia hamili. Dia bernama Ina.
"Sudah lama Kak Arga gak ngantor, apa karena mengurus masalah ini?" tanya Kurnia merasa tidak enak.
"Tidak. Saya lagi malas saja ke kantor," kata Arga.
'Jadi Bos memang gampang ya," batin Kurnia.
"Kak Arga, saya boleh minta tolong gak?"
"Saya ingin membeli perusahaan Ayah saya, tapi saya belum punya banyak uang. Selain itu kalau saya yang membelinya sudah pasti tidak akan berhasil, kekuatan Kak Arga dalam status sosial lebih kuat saya ingin minta tolong. Nanti saya akan ganti uangnya secara perlahan kok," ujar Kurnia.
"Kenapa repot-repot seperti itu? Bukannya kamu bilang itu perusahaan ibumu? Kenapa tidak dialihkan saja?" tanya Arga.
"Susah Kak. Soalnya disana pasti banyak pendukung ayah saya, jadi kemungkinan besar mereka akan protes bila kepemimpinannya diganti. Lagipula saya takut Sarah akan merebutnya, tapi kalau saya membeli perusahaan itu mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi," ujar Kurnia.
"Baiklah, besok saya akan membeli perusahaan itu," kata Arga menyanggupi permintaan Kurnia.
"Tidak perlu terburu-buru kok Kak," kata Kurnia yang tidak enak hati.
"Iya Kurnia kamu tenang saja," ucap Arga.
...***...
"Bu tahu rumahnya Ina?" tanya Bara kepada seorany Ibu yang berada di sekitaran alamat yang diberikan oleh Ina lewat telepon.
"Kamu siapanya Ina ya? Hati-hati dia bukan gadis baik-baik. Kandungannya udah membesar seperti itu tapi belum diketahui siapa ayahnya," pesan Ibu itu yang bernama Yuni.
__ADS_1
"Saya temannya, ada urusan sama dia," ujarnya.
"Oh teman, kirain siapa. Kamu tinggal lurus aja ya nanti ada pertigaan belok kiri ada pagar berwarna hitam nah di sana deh rumah Ina," kata Yuni menunjukkan arah.
"Terimakasih ya Bu , saya pamit dulu," ucap Bara.
"Iya sama-sama".
Bara pergi meninggalkan Ibu itu dan berjalan ke arah yang di tunjukkan oleh Yuni tadi. Bara tidak menyangka akibat perbuatannya, Ina wanita yang ia hamili mendapat penderitaan yang seperti itu. Nyinyiran para tetangga adalah hal yang sangat di takuti oleh sekian banyak orang, karena biasanya mereka CCTV versi orang yang dapat melebih-lebihkan informasi.
Sesampainya di rumah Ina, Arga mengucapkan salam. Setelah beberapa menit, seorang perempuan tua membuka pintu gerbang.
"Siapa kamu?" tanya perempuan itu.
Karena baru pertama kali ada seorang pria yang mendatangi rumahnya, mirisnya setelah Ina hamil baru saat ini ada orang yang bertamu lagi ke rumahnya.
"Saya temannya Ina Bu. Ada urusan sama Ina, benar ini rumahnya Ina?" tanya Bara.
"Benar, silahkan masuk. Ina ada di dalam," kata Ibu itu sopan.
Bara kemudian masuk mengikuti Ibunya Ina.
"Ina, ada teman kamu nih," kata Ibunya Ina yang bernama Narti.
Ina keluar dengan tampilan perut yang besar, lalu duduk di sofa ruang tamu sebelah Bu Narti.
"Kamu Bara ya?" tanya Ina memastikan.
Karena sebelum Bara berangkat ke rumahnya, Bara menginformasikan kepada Ina. Selain itu juga hubungan mereka lumayan baik di telepon dan ini adalah pertama kalinya Bara bertemu Ina lantaran baru sempat.
"Iya. Ayah dari anakmu itu," kata Bara.
"Ohhh jadi ini yang menghamili kamu," teriak Narti begitu tahu Bara adalah orang yang mempermalukan putrinya.
"Ibu,Ibu. Tenang dulu Bu," ujar Ina menenangkan ibunya.
"Gimana ibu bisa tenang Ina. Kamu anak satu-satunya Ibu tapi malah dipermalukan oleh pria yang tidak bertanggungjawab seperti ini," kata Bu Narti marah.
"Ibu tidak baik seperti itu. Dia ngelakuin itu juga tanpa sadar, bersyukur dia mau bertanggungjawab Bu," kata Ina mencoba menenangkan Ibunya.
"Bu, saya mohon maafkan saya. Saya akan bertanggungjawab atas perbuatan saya, saya pasti akan menikahi anak Ibu. Mohon restunya Bu," kata Bara memohon.
__ADS_1
"Apa kamu yakin akan menyayangi anak saya? Kalau kamu tidak yakin lebih baik anak saya tidak usah menikah," ujar Bu Narti.