Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 42


__ADS_3

"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Kurnia pemilik perusahaan saat ini," kata Kurnia memperkenalkan dirinya di ruang rapat.


"Wah cantik sekali," puji seseorang.


"Hari ini saya mau mengumumkan untuk saat ini dan seterusnya, saya yang akan memimpin perusahaan ini. Mohon bantuannya ya untuk semuanya," ucap Kurnia.


"Saya tidak setuju!" kata seorang Pria sembari mengangkat tangannya.


"Maaf, apa yang membuat Anda tidak setuju?" tanya Kurnia ramah.


Kurnia sudah tahu akan terjadi seperti ini, jadi dia sudah mempersiapkan mentalnya. Lagipula ini bukan pertama kalinya dia menangani kasus seperti ini.


"Anda masih terlalu muda, jangan mentang-mentang Anda anak dari Pak Anto seenaknya ambil alih. Apakah Anda sudah mendapat persetujuan dari Pak Anto?" tanya pria itu.


"Iya dengar-dengar dia sudah putus hubungan sama Pak Anto, sekarang Pak Anto di penjara juga karena dia".


"Iya, jangan-jangan ini memang rencananya," bisik yang lainnya.


"Kita hampir tertipu dengan kecantikannya".


Semua orang ricuh dan asik dengan sendirinya bergosip.


"Tolong tenang dan mohon perhatiannya sebentar," kata Kurnia.


Suasana yang tadi ricuh berubah menjadi hening karena Kurnia.


"Bapak Ibu, saya akan menjelaskan. Pertama masalah Anto di penjara, itu bukan karena saya tapi karena ulahnya sendiri. Kalau kalian ada yang tidak percaya saya punya bukti. Ada yang mau melihat buktinya?" tanya Kurnia, pandangannya tertuju pada orang-orang yang duduk di ruangan rapat itu.


Namun tidak ada yang berani menjawab bahkan menatap Kurnia. Jadi, Kurnia memutar rekaman itu dengan inisiatif sendirinya. Setelah itu barulah mereka percaya.


"Kedua, saya memang sudah tidak ada hubungan dengan Anto. Tapi perusahaan ini sebelumnya bukan milik Anto, tetapi milik Ibu saya yang sudah dia buang sewaktu hidupnya jadi saya berhak mengambil alih perusahaan ini. Tapi saya tidak ingin ada kericuhan lagi, jadi saya membelinya dan ini surat perpindahan kepemilikan kalian bisa lihat," kata Kurnia meletakkan surat tersebut.


Namun tidak satu orang pun yang berani mengambil bahkan melirik surat tersebut.

__ADS_1


"Dan yang terakhir, saya memang masih muda. Tapi apa salahnya saya mencoba dulu baru kalian kritik saya. Anak muda seharusnya diberikan dukungan bukan malah di kritik tanpa diberikan saran," ucap Kurnia tegas.


Semua orang masih terdiam, tanpa ada pergerakan yang membuat suasana menjadi hening.


"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya tutup rapatnya. Jika ada yang tidak setuju atau mau mengundurkan diri silahkan temui saya di ruangan. Saya tunggu surat pengunduran diri kalian," ujar Kurnia lalu pergi dari ruang rapat bersama Arga.


Di pintu masuk, Kurnia melihat Anto bersama Sarah yang sedang berjalan ke arahnya. Dia mengucek matanya berharap dia salah lihat, karena seharusnya Anto tidak berada di sini melainkan di penjara.


"Kenapa Sayang?" tanya Arga ketika Kurnia mengucek matanya.


"Sayang, itu Anto kan? Apa aku salah lihat?" tanya Kurnia sembari menoleh ke arah Anto.


"Eh iya itu Anto, kenapa dia ada di sini?" Arga ikut bingung dengan keberadaan Anto.


"Eh anak sialan kenapa kamu bisa ada di sini? Mau warisan ya?" teriak Anto kepada Kurnia.


"Harusnya yang bertanya seperti itu saya, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu di penjara?" jawab Kurnia.


"Maaf ya Bu, saya sedang tidak bicara sama Anda. Lagipula kalau anda bilang saya tidak tahu di untung lebih buruk siapa saya atau suami Anda?. Dia dulunya hanya pria miskin yang tidak dianggap keberadaannya oleh orang lain, tetapi setelah dengan ibu saya status dia terangkat. Tapi dia malah menikah dengan p*lacur dan melupakan ketulusan ibu saya, jadi disini siapa yang lebih tidak tahu di untung?" tanya Kurnia panjang lebar.


"Dasar kamu! Ayah kamu menikahi saya juga karena Ibu kamu yang tidak bisa merawat diri. Bahkan tidak mampu membuat ayah kamu betah di rumah, dan tentunya saya lebih cantik dari dia," ujar Sarah dengan percaya diri.


"Kamu cantik? Kalau kamu tidak dipungut oleh Anto, kamu tidak mungkin berpenampilan seperti ini," sahut Kurnia.


"Pungut-pungut, kamu pikir saya sampah?" teriak Sarah marah.


"Nah itu sadar sendiri," Kurnia tersenyum miring, kemudian dia memanggil satpam untuk mengusir mereka.


"Ini perusahaan saya, kenapa kamu mengusir saya?" tanya Anto bingung.


Bagaimana mungkin satpam tersebut tidak mengenal Anto dan bahkan menuruti perintah Kurnia.


"Perusahaan ini sudah saya beli, jadi Anda tidak ada hak untuk ke sini lagi. Dan silahkan sekarang Anda pergi dari sini," usir Kurnia.

__ADS_1


"Dasar anak sialan, sampai kapan kamu menghancurkan keluarga kamu sendiri," teriak Sarah.


Kurnia mendekat ke Sarah, lalu berkata ,"sampai kalian sadar bahwa kalian bersalah kepada ibu saya, dan saat itu tiba mungkin kalian sudah hancur".


"Lalu dimana uang saya? Bukankah kamu sudah membeli perusahaan ini? Harusnya saya menerima uang tersebut bukan?" tanya Anto.


"Oh saya lupa bilang, itu sudah di ambil oleh istrimu sendiri," ucap Kurnia.


"Kapan aku menerima uang dari kamu?" tanya Sarah.


"Oh kamu tidak menerimanya secara langsung dari saya, tapi apa kamu lupa? Setiap hari kamu kemari mengambil uang beberapa juta dengan mengatasnamakan suamimu. Dan itu membuat perusahaan rugi, jadi kamu ganti rugi pakai uang hasil jual perusahaan saja ya".


"Sarah untuk apa kamu mengambil uang sebanyak itu? Ternyata selama aku di penjara kamu terus berfoya-foya ya?" tanya Anto.


"Anto, Anto, pada akhirnya istri pilihanmu lah yang menghancurkan kamu sendiri," ucap Kurnia mengejek Anto.


"Pak bawa mereka keluar dan jangan pernah menerima mereka sebagai tamu di perusahaan ini," perintah Kurnia.


Kedua satpam yang di panggil oleh Kurnia tadi menyeret mereka keluar, beberapa cacian yang mereka berikan kepada Kurnia tapi Kurnia tidak memperdulikannya.


"Sayang, apa langkah kamu selanjutnya?" tanya Arga.


"Masih belum tahu jelas, intinya perusahaan ini sudah menjadi milik aku. Tanpa perusahaan ini, Anto tidak akan memiliki penghasilan," kata Kurnia.


Tatapannya tertuju pada pintu keluar, dia melamun, ada rasa senang di hatinya ketika perusahaan ibunya sudah dia ambil alih. Setidaknya dendamnya terbalaskan satu persatu.


'Ibu, Kurnia. Aku pasti akan membalaskan penderitaan yang sudah kalian terima dari orang-orang yang menyiksa kalian,' ucap Kurnia dalam hati, tangannya mengepal dengan kuat.


"Sayang, aku pasti akan selalu ada di samping kamu dan menemani kamu sampai kapanpun. Kalau kamu ada masalah, bilang sama aku, oke?" Arga membelai rambut indah milik Kurnia lalu memeluknya.


"Makasi sayang, tapi ini di kantor jangan berprilaku seperti ini, aku malu," kata Kurnia mendorong tubuh Arga.


Walaupun Kurnia merasa nyaman di pelukan Arga, tapi dia tidak mau bersikap seperti itu di depan umum.

__ADS_1


__ADS_2