Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
BAB 29 Bara Akan Menikah?


__ADS_3

Kartika mulai menceritakan kronologi dan alasan dia melakukan penculikan itu terhadap ibunya Arga yang bernama Cantika.


Pada waktu itu, Kartika dan Cantika bersahabat, Kartika menikah lebih dulu daripada Cantika. Kartika menikah dengan pria yang kaya raya dan juga merupakan pria yang sangat dia cintai.


Awalnya hubungan mereka sangat bahagia karena mereka saling mencintai satu sama lain. Tetapi setelah setahun hubungan mereka berjalan, mereka belum juga di karuniai seorang anak.


Pada waktu itu mereka menunggu dan menunggu sambil menjalani hidup yang sehat. Mereka juga meminum obat-obatan yang di sarankan oleh para dokter agar cepat memiliki momongan. Bahkan sampai ramuan pun mereka minum.


Tetapi yang mereka dapatkan adalah perasaan kecewa karena saat itu Kartika belum juga menunjukka tanda-tanda kehamilannya.


Waktu berjalan dengan cepat, kini usia pernikahan mereka sudah menginjak 2 tahun. Karena penasaran, Kartika dan suaminya pergi ke sebuah rumah sakit terdekat untuk memeriksakan diri mereka. Mereka ingin tahu penyebab Kartika susah hamil.


Setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit, dokter mendiagnosa bahwa Kartika mandul dan tidak akan bisa memiliki keturunan.


Mendengar hal itu, kaki Kartika langsung lemas. Terlebih lagi melihat raut wajah suaminya yang terlihat kecewa itu, dia takut akan ditinggalkan olehnya.


Sesampainya di rumah, suaminya nampak memperlakukan dirinya berbeda. Tidak seperti biasanya, suaminya bersikap cuek dan bodoamat terhadap Kartika. Dia menghampiri suaminya hendak menenangkannya, tetapi sebelum Kartika berkata-kata suaminya lebih dulu meminta cerai.


Mendengar suaminya ingin bercerai dengannya, Kartika berlinang air mata. Hal yang ia takutkan benar-benar terjadi.


Lalu kartika bertanya ,"Apa alasannya Mas? Apa karena aku tidak bisa memberikan keturunan kamu menceraikan aku? Dimana cinta kamu yang dulu Mas?" Kartika berkata sambil menangis.


Pipinya di banjiri oleh air matanya sendiri.


"Maaf Kartika, aku masih mencintaimu. Tetapi kamu tahu sendiri kalau keluarga aku mengharapkan keturunan. Walaupun aku mencintai kamu, tapi aku lebih mencintai harta keluargaku. Aku tidak ingin hidup susah kedepannya, aku ingin sukses dan mewarisi harta keluargaku. Tanpa anak, aku tidak akan bisa mewarisinya karena nanti anakku juga yang akan mewarisinya," ucap suaminya lalu pergi meninggalkan Kartika yang sedang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Dengan kegilaan suaminya pada warisan orang tuanya, akhirnya Kartika dan suaminya resmi bercerai. Walaupun Kartika tidak sanggup menjalani itu semua, tetapi Kartika mencoba tetap hidup. Dia tidak ingin mati sia-sia, apalagi karena lelaki.


Beberapa bulan setelah perceraiannya, Cantika datang ke rumahnya untuk mengundangnya ke acara pernikahan Cantika dan Fajar. Saat melihat Fajar, hati Kartika berdebar-debar. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi cepat-cepat dia menghempaskan pikiran buruk itu.


Fajar merupakan seorang pria yang dari kelas menengah, status sosialnya tidak begitu terkenal namun dia mempunyai satu perusahaan. Sangat berbeda dengan mantan suami Kartika yang mempunyai beberapa cabang perusahaan.


Keesokan harinya, Kartika datang ke acara pernikahan Cantika dan Fajar. Dia nampak iri terhadap Cantika yang bisa mendapatkan pria tampan dan juga baik hati.


Tetapi pada saat itu, Kartika masih bisa menutupi rasa irinya. Dia masih sadar akan persahabatan mereka yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.


Singkat cerita, tiga bulan setelah acara pernikahan berlalu, tersiar kabar bahwa Cantika sudah hamil beberapa minggu. Kartika yang mendengar hal tersebut timbul rasa iri dalam dirinya. Dia berniat untuk menggugurkan kandungannya Cantika.


Namun, sudah banyak cara yang Kartika gunakan takdir berkata lain. Cantika masih mampu mempertahankan kehamilannya, bahkan setelah melakukan pemeriksaan ke dokter anaknya kembar.


Begitu mendengar hal itu, Cantika sangat senang namun tidak dengan Kartika.


Di tengah-tengah kegelisahan itu, handphone Fajar berbunyi dan ternyata ada masalah penting di kantornya. Kartika yang sudah merencanakan niat buruknya, menyuruh Fajar pergi mengurus kantor dan Cantika dititipkan pada Kartika.


Setelah bidan keluar, ia mengatakan bahwa kedua bayinya selamat namun ibunya masih belum sadarkan diri karena kecapean.


"Dari situlah Ibu mengajak Dokter itu untuk bekerjasama. Supaya bidan itu mau bekerjasama dengan Ibu, Ibu memberikan sejumlah uang untuk menyuapnya. Dan ketika Ibu Cantika sadar, bidan itu mengatakan bahwa anaknya hanya selamat satu dan yang satunya meninggal dunia," kata Kartika menjelaskan kepada Bara.


"Maafin Ibu Bar, Ibu tahu Ibu salah. Tapi semenjak ada kamu di kehidupan Ibu, Ibu tidak lagi merasa kesepian," kata Kartika memohon maaf kepada Bara.


"Iya Bara mengerti kok Bu, tapi Bara punya satu permintaan ke Ibu," kata Bara.

__ADS_1


"Pasti Ibu lakuin Bar, selama itu bukan kamu yang pergi pasti Ibu lakuin," kata Kartika sangat bersungguh-sungguh.


Kartika sangat menyayangi Bara, sehingga hidup tanpa Bara itu rasanya seperti hambar. Anak yang ia rawat sejak kecil, walaupun sempat membenci ibunya. Tetapi rasa benci itu kian hari kian memudar dengan hadirnya Bara di kehidupan Kartika, justru ia ingin berterimakasih kepada sahabatnya telah melahirkan anak seperti Bara.


Dulu, sebelum usia Bara genap 1 tahun, ingin sekali Kartika mengembalikan Bara kepada Cantika, karena Kartika merasa bersalah terhadap sahabatnya itu. Namun rasa sayang yang kuat terhadap Bara menghalanginya. Dia ingin jujur tetapi takut Bara akan di ambil, maka dari itu dia membawa Bara pergi ke luar negeri, tujuannya agar Cantika tidak dapat menemukannya.


"Bara ingin Ibu meminta maaf kepada Arga dan juga ke orang tua Arga yang sudah di makamkan. Ibu setuju kan?" tanya Bara.


Kartika mengangguk dengan cepat pertanda bahwa dia setuju.


Mendengar cerita ibunya tadi, Bara teringat pada wanita yang ia hamili itu. Hatinya tergerak ingin menanggungjawabi wanita itu. Dia akan menikahi wanita itu, karena Bara tidak ingin nasib wanita itu seperti Ibunya. Dia sungguh kasihan terhadap Ibunya yang dulu, walaupun dia bukan Ibu kandungnya tetapi Kartika menyayanginya lebih dari Ibu pada umumnya.


Bara memeluk Kartika yang masih menangis, berusaha menenangkannya.


"Bu, Bara akan menikah bulan depan. Ibu senang gak kalau Bara kasih cucu?" tanya Bara.


"Kamu tidak usah sampai segitunya hibur Ibu Bara. Gadis mana yang akan kamu nikahi?" kata Kartika melepas pelukannya dan menghapus air matanya.


Kartika mengira Bara bercanda, karena selama ini tidak ada tanda-tanda bahwa Bara mempunyai seorang pacar.


"Bara serius Bu. Waktu itu Bara tidak sengaja menghamili seorang wanita. Dia mencari Arga karena wajah Bara sangat mirip dengan Arga waktu itu," kata Bara.


"Apa kamu mencintainya? Karena Ibu tidak mau gadis itu mendapat penderitaan di dalam rumah tangganya," kata Kartika yang mulai serius.


"Belum Bu. Tapi seiring berjalannya waktu mungkin aku akan mencintainya," ujar Bara.

__ADS_1


"Cinta tidak gampang untuk tumbuh Bar, apa kamu yakin bisa memperlakukan dengan baik gadis itu di saat kamu belum mencintainya? Apa kamu mampu untuk tidak melirik wanita lain di saat hati kamu belum sepenuhnya diberikan pada gadis yang akan kamu nikahi itu?" Kartika melemparkan beberapa pertanyaan untuk Bara.


Bara terdiam sejenak, memikirkan dan mencerna kata-kata ibunya.


__ADS_2