
"Ya sudah kalau begitu kamu terima saja. Lagipula dia sudah berani berkata seperti itu, berarti dia sudah sangat ahli di bidang seperti ini," ucap Anto.
"Nanti aku transfer uangnya ke rekening kamu ya. Sekarang aku mau berangkat bekerja dulu, sisanya aku serahkan ke kamu," kata Anto kemudian pergi meninggalkan Sarah.
'Untung saja dia tidak minta foto preman itu. Huh Mas, mas! Ternyata kamu sangat mudah di bodohi ya, tidak sesulit yang aku pikirkan,' ucap Sarah.
"Bu ngapain di sana?" tanya Karina.
"Gak apa sih, sekarang kan kamu libur kita shoping-shoping yuk!" ajak Sarah.
"Ibu dapat uang darimana?" tanya Karina.
"Tentu saja dari Ayah kamu Karin," sahut Sarah.
Karina semakin bingung, seingatnya Anto tidak akan sebaik itu memberikan uang khusus untuk belanja-belanja kepada Ibunya.
"Kok tumben?" tanya Karin.
"Ih kamu belum paham juga. Jadi uang yang Ibu minta itu sebesar 25 juta sama Ayah kamu untuk bayar preman-preman itu," jelas Sarah.
"APA?! Tapi kok Ayah mau-mau aja sih Bu? Percaya gitu aja sama Ibu?" tanya Karina yang masih tidak percaya.
"Iya percaya lah! Udah ah mumpung ayah kamu tidak ada kita pergi shoping aja," ujar Sarah.
Mereka pun bersiap-siap pergi dan mengambil tas masing-masing.
...****************...
"Tolong! Kak Arga tolong aku!" teriak Fina sembari mengeluarkan ekspresi ketakutan dan juga berlinangkan air mata.
"Jangan harap ada yang mau menolong kamu di sini! Hahahaha siapapun tidak akan ada yang mendengar suara kamu, karena ini ruangan kedap suara!" ucap salah satu pria yang memakai topeng bertubuh kekar itu.
"Tolong jangan sakiti aku, aku janji akan membayar kalian lebih dari orang yang membayar kalian. Tapi tolong jangan sakiti aku lagi!" ucap Fina, air matanya terus menerus keluar tanpa henti.
"Kami tidak perlu uang! Kami lebih membutuhkan kulit mulusmu itu," ucap lelaki itu lagi, tangannya mulai menyentuh wajah Fina.
"Sudah cukup!" ujar Arga.
Ternyata itu hanya akting dan di rekam oleh Kurnia untuk di kirim kepada Anto. Ini sudah persetujuan Fina, adegannya juga disusun oleh Fina agar Anto tidak terlalu curiga.
"Apa dengan begini Ayah kamu sudah bisa percaya Nia?" tanya Fina sembari menghapus air matanya.
"Sudah cukup Fin! Makasih ya Fin, akting kamu bagus banget sampai bisa nangis beneran," ucap Kurnia.
__ADS_1
"Tapi kamu gak apa-apa kan Fin?" tanya Kurnia khawatir.
"Gak apa-apa kok," sahut Fina.
Arga yang merasa di cuekin oleh Kurnia langsung melampiaskan amarahnya kepada bawahannya yang menyamar jadi preman tersebut.
'Haishh, dasar si Bos gara-gara di cuekin oleh Kurnia malah kita yang jadi sasaran,' keluh salah satu bawahannya Arga.
"Cuma Fina aja nih di perhatiin? Padahal dari segi bangunan dan juga penyamaran aku loh yang berkorban banyak. Tapi tidak sedikitpun ada orang yang mau berterimakasih kepadaku. Bukankah ini tidak adil untuk pria tampan sepertiku?" sindir Arga.
Kurnia dan Fina yang mendengar sindiran itu langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Arga merasa semakin kesa melihat mereka menertawakannya.
"Yaudah-yaudah, makasih ya pacarku yang tampan," ucap Kurnia.
"Cuma gitu aja?" tanya Arga.
"Ih apaan sih, Fina masih di sini," bisik Kurnia sembari mencubit lengan Arga.
"Aduh! Sakit tahu, main cubit-cubit aja kamu," protes Arga.
"Makanya jadi orang jangan ngeselin," balas Kurnia.
"Lah kok aku sih yang ngeselin, kamu tuh yang ngeselin!" kata Arga tidak mau dipojokkan.
"Ehem! Ehem! Sekarang udah lupa ada aku?" kini giliran Fina yang menyindir, membuat keduanya merasa canggung dan berhenti bercanda.
Arga pun menyetujui, mereka bertiga pergi ke mobilnya.
Di tengah perjalanan, Kurnia bertanya banyak hal kepada Arga.
"Arga, kenapa kamu bisa tahu tempat sunyi seperti itu?" tanya Kurnia.
"Arga! Arga! Aku ini pacar kamu bukan sih?" bukannya menjawab, Arga malah protes lebih dulu yang membuat Kurnia jengkel.
"Iya aku pacarmu lah," jawab Kurnia seadanya.
"Tapi gak pernah tuh kamu panggil aku sayang!" kata Arga protes lagi.
"Yaudah aku panggil Sayang nih. Jadi gimana sayang? Bisa tolong jawab pertanyaanku yang tadi SAYANG?" ucap Kurnia menekankan perkataannya.
"Gak usah ngegas gitu juga manggil sayangnya," Arga kembali protes.
"Terserahmu aja lah, semua salah!" balas Kurnia ngambek.
__ADS_1
"Udah-udah, kalian berdua gak pernah aku ya!. Lihat tuh pasangan-pasangancpada umumnya, Romantis, sering bercanda. Lah kalian? berantem terus kerjaannya gak bosen apa?" ucap Fina melerai pertengkaran keduanya.
Biasanya Kurnia yang melerai pertengkaran antara Fina dan Arga, tetapi sekarang Fina yang biasa melerai pertengkaran Kurnia dan Arga. Roda memang berputar ya guys ya!. Oke lanjut...
"Dia tuh!" keduanya hampir serempak menjawab dan saling tunjuk.
"Tuh kan mulai deh! Kak Arga sebagai cowok ngalah dong sama cewek, gak boleh egois!" ucap Fina yang seakan-akan membela sahabatnya.
"Kenapa harus cowok yang mengalah kepada si cewek? Kenapa gak dibalik aja?" tanya Arga.
"Ya karena cewek selalu benar!" sahut Fina dan Kurnia serempak.
"Ehmmm, salah nanya aku! Dua lawan satu rupanya kalian ya!" ucap Arga kesal yang membuat Fina dan Kurnia tertawa.
...****************...
"Eh ada pesan nih dari Kurnia, dia sudah mengirim videonya!" ucap Karina kepada ibunya yang baru saja sampai rumah habis belanja.
"Berarti kapan nih Ibu kirim videonya ke Ayah kamu?" tanya Sarah.
"Gak tahu juga sih Bu, coba aku telepon Kak Kurnia dulu deh buat pastiin," ucap Karina.
Dia pun menelepon Kurnia...
"Ada apa Karina?" tanya Kurnia ketika telepon sudah terhubung.
"Mau nanya, ini gimana rencana selanjutnya dan kapan aku kirim videonya kepada Ayah?" tanya Sarah.
"Sekarang juga boleh kok, lebih cepat lebih baik!" ucap Kurnia.
"Tapi kalian sudah siap-siap belum?" tanya Karina.
"Siap-siap buat apa?" Kurnia balik bertanya karena menurutnya tidak ada yang harus di persiapkan lagi.
"Siap-siap seperti lokasi yang dishare untuk Anto, dan pastikan Fina sudah di ikat di tempat bersama dengan preman tersebut," ucap Karina menjelaskan.
"Perlu gitu lagi ya?" tanya Kurnia karena menurutnya itu tidak perlu lagi karena dia tinggal menyuruh Anto datang ke rumah Arga dan beres.
"Perlu Kak! Nanti rencananya Kakak dan Kak Arga sembunyi di suatu tempat dan merekam kami. Nanti selanjutnya biar kami yang urus, dengan begitu akan lebih banyak bukti lagi," ucap Karina.
"Kenapa capek-capek ngumpulin bukti kalau seperti itu. Kakak langsung aja lapor polisi," ucap Kurnia.
"Emang bisa?" tanya Karina.
__ADS_1
"Biar Kakak yang atur, kamu tinggal laksanakan tugas kamu dan juga tunggu jam nanti Kakak kabarin lagi," ucap Kurnia.
"Iya deh Kak, semangat. Kalau gak ada hal lain aku tutup teleponnya ya!" ucap Karina.