
"Apa masih ada hal lain lagi?" tanya Baraseolah-olah hendak keduanya cepat pergi dari tempatnya.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan kepada kamu," kata Arga membuat Bara merasa jengkel.
"Mengapa kamu bisa tidur seranjang bersama Kurnia?" ARga menunjukkan foto Bara dan Kurnia yang sedang berpelukan di atas ranjang.
"Hah!? kapan itu terjadi mengapa aku tidak tahu?" Bara terkejut melihat foto dirinya bersama degan Kurnia.
"Jadi kamu tidak tahu sama sekali mengenai foto ini?" tanya Arga beruaha mencari kebenaran.
"Tentu saja tidak. Aku uga bingung kenapa bangun-bangun sudah berada di rumah sakit, jelas-jelas tadi masih minum kopi yang di buatkan oleh karyawanku di kantor".
"Apa jangan-jangan kopi itu berii obat tidur?" tebak Sandi.
"Aku akan menyuruh asistenku untuk memeriksanya. Jika tidak ada hal lain lagi, silahkan kalian pergi," usir Bara.
Keduanya pun pergi meninggalkan tempat Bara.
'Berarti memang benar Bara dan Kurnia di jebak. Syukurlah, aku menjadi sedikit lega. Akan tetapi aku sudah menuduh Kurnia, apakah dia akan memaafkan aku? tadi saja sikapnya begitu dingin teradapku,' kata Arga dalam hati.
Arga sangat menyesali perbuatannya itu, karena ternyata dia hanya salah paham terhadap Kurnia.
Di sisi lain, Bara sedang memberikan perintah kepada asistennya untuk menyelidiki karyawannya yang biasa membawakannya kopi. Dalam waktu yang singkat, Bara sudah menerima informasi bahwa memang di dalam kopinya itu diberi obat tidur.
Karyawan itu mengaku kalau dia melakukan itu karena tergiur dengan bayaran yang diberikan. Dengan ancaman yang di berikan oleh asistennya Bara, Karyawan itu mengaku kalau yang memerintahkan dirinya adalah seorang pria tua yang pernah mengajak Bara untuk bekerjasama.
"Hanya itu yang dia katakan?" tanya Bara yang nampak tidak puas.
"Iya Bos," ucap asistennya.
Bara menutup teleponnya, ia mengingat satu orang yang ia curigai.
"Tapi masa iya ayahnya sendiri menjebak anaknya sendiri? Bukankah itu terlalu keji?" gumam Bara sendirian.
"Nanti saja deh aku tanya kepada Kurnia sendiri," ucapnya.
__ADS_1
Keesokan harinya.....
"Ibu sudah tidak apa-apa, jadi Ibu sudah boleh pulang," kata Dokter yang merawat Kurnia.
"Baik Dok. Bagaimana dengan kedaan teman saya yang dirawat di kamar sebelah?" tanya Kurnia.
"Ibu Fina masih harus kami pantau dalam beberapa hari ini. Jika kondisinya sudah lebih membaik , kami akan memperbolehkannya pulang," ujar Dokter itu.
"Baik Dok, terimakasih," ujar Kurnia.
"Kalau tidak ada hal lain saya tinggal dulu," kata Dokter itu dan pergi meninggalkan Kurnia.
"Hari ini adalah hari pertama untuk menjalankan rencana. Apakah Kak Arga akan berhasil atau tidak aku hanya bisa melihat nanti. Semoga saja Kak Arga berhasil membuat Fina merasa aman terhadapnya dalam satu hari, jika tidak selamanya aku akan terkurung didalam rumah Kak Arga," Kurnia sangat gelisah, dia tidak mau kelahiran kembalinya akan sia-sia.
Ketika Kurnia keuar dari ruangannya, ia menemukan Arga yang sedang duduk di depan pintu Fina dirawat. Suasananya sangat canggung, mereka nampak seperti orang asing. Kurnia menarik nafas panjang untuk meringankan rasa cemasnya.
"Tidak perlu khawatir, saya pasti usahakan agar berhasil dalam rencana ini," kata Arga ketika melihat Kurnia gelisah.
"Baik Kak. Tapi sebelum Kak Arga masuk, saya akan masuk terlebih dahulu untuk menenangkan Fina. Agar Fina tidak kaget melihat kedatangan Kak Arga," ujar Kurnia.
Kurnia masuk ke dalam ruangan Fina, tempat Fina di rawat.Kurnia melihat Fina yang sedang sibuk memainkan handphonenya.
"Pagi Fina," sapa Kurnia.
Wanita yang tadinya memainkan handphonenya itu berpaling menengkkan wajahnya kearah Kurnia.
"Eh Nia, ada apa Nia?" tanya Fina.
"Kak Arga mau ketemu kamu tuh, kamu bersiap ya!" ujar Kurnia.
"Ah! Kok pagi-pagi sekali Nianya Fina terkejut.
Nampaknya Fina belum siap untuk bertemu dengan kakaknya.
"Bukankah lebih cepat lebih baik? Kakakmu memberikan aku waktu seminggu loh, kamu kan sudah janji mau bantuin aku," pinta Kurnia.
__ADS_1
"Tapi aku malu Nia," renge Fina.
"Kenapa kamu malu? Kak Arga kan kakak kandunmu sendiri Fina, lagipula Kak Arga sangat menyayangimu Fina dan dia terus-menerus merasa bersalah sama kamu atas kejadian kemarin. Apa kamu mau melihat Kak Arga merasa bersalah setiap hari?" kata Kurnia.
'Benar juga yang dikatakan oleh Kurnia, untuk apa aku malu sama Kak Arga. Dia sangat menyayangi aku, dari kecil Kak Arga selalu melindungiku. Aku juga tidak mau Kak Arga merasa bersalah terusd-terusan,' ucap Fina dalam hati.
Fina menarik nafas panjang, dan akhirnya Fina bersedia untuk bertemu dengan kakaknya. Mendengar itu, Kurnia pergi mencari Arga dan membawanya masuk dan Kurnia meninggalkan mereka berdua di sana. Ketika Kurnia pergi meninggalkan mereka, suasananya berubah menjadi sangat canggung.
"Fina apa kamu takut sama Kakak?"
Setelah beberapa menit, akhirnya Arga memberanikan diri untuk bertanya kepada adiknya.
Fina menggelengkan kepalanya, kepalanya menunduk dan pandangannya tertuju pada bangsal yang dia duduki. Fina masih belum berani menatap Arga langsung.
Melihat reaksi Fina yang seperti itu, kebingungan Arga bertambah lagi. Dia tidak tahu harus melakukan apa, dia takut banyak bertingkah akan membuat Fina kembali takut padanya.
Setelah beberapa menit dengan suasana canggung, Fina memutuskan untuk berbicra terlebih dahululu.
"Kak!" seru Fina dengan suara pelan yang masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa Fin? Apa ada yang sakit?"tanya Arga yang tampak mengkhawatirkan adiknya.
"Gak ada Kak. Fina cuma mau nanya. Apa Kak Arga malu mempunyai adik seperti aku? berita tentang kasusku mungkin sudah tersebar. Apalagi media juga sudah tahu kalau kalau aku adiknya Kak Arga, seharusnya waktu itu aku tidak membuat masalah hingga membuat Kak Arga mengakuiku sebagai adiknya Kak Arga," ucap Fina tampak menyesali perbuatanntya.
"Anak bodoh, lihat Kakak baik-baik," ucap Arga.
Fina menoleh ke arah Arga, ia menatap Arga lekat-lekat.
"Kakak tidak pernah malu mempunyai adik seperti kamu. Dan jia kamu malu akan musibah yang kamu alami, Kakak akan membantu kamu menghapus berita itu. Kak Arga sayang sama kamu Fin, Kakak gak akan biarkan orang lain menyakiti kamu," kata Arga menjelaskan dan berusaha untuk menenaangkan adiknya.
Tiba-tiba Fina memeluk Arga dan menangis terharu dalam pelukannya, sembar mengucapkan terimakasih kepada kakaknya berulangkali.
Arga sangat senang sekali melihat Fina yang tidak menakutinya lagi, 'Apa ini artinya Fina sudah merasa aman sama aku?' tanya Arga dalam hati.
"Fina, semenjak orang tua kita meninggal, hanya kamu yang Kakak punya. Kita saling hidup bergantungan pada waktu itu. Jadi kakak tidak akan meninggalkanmu sendirian," ucap Arga.
__ADS_1
'Terimakasih Fina sudah membuat Kakak senang'.