Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 17 Arga Punya Kembaran?


__ADS_3

"Iya ada apa Sandi? kamu sudah dapat info mengenai pria itu?" tanya Arga di telepon.


"Sudah Bos," sahut Sandi bersemangat seperti biasa.


"Jelaskan!" perintah Arga.


"Dia Bos dari perusahaan Ananta bernama Bara Ananta. Dia tinggal bersama ibunya, ayahnya tidak di ketahui. Memang benar wajahnya sangat mirip dengan Bos saya melihat foto dia yang dulu sebelum oplas...,"


"Oplas?" Arga memotong pembicaraan Sandi.


"Iya Bos Oplas, Ada apa Bos?" tanya Sandi.


"Kamu punya foto dia yang dulu sama yang sekarang gak?" tanya Arga.


"Punya Bos, sebentar saya kirimkan ke WA Bos," kata Sandi.


"Kamu lanjutkan saja dulu informasi yang kamu dapatkan,"


"Baik Bos, dia oplas beberapa bulan yang lalu setelah tinggal menetap di sini," kata Sandi.


"Itu artinya waktu kecil dia tinggal di luar negeri?" tanya Arga.


"Iya Bos benar. Tanggal kelahirannya 20 September 1994 beda 1 tahun pas dengan Bos. Saya curiga dia kembaran Bos Arga," kata Sandi.


"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?" tanya Arga.


"Iya soalnya Bos dengan dia hanya beda 1 tahun, tanggal dan bulan kelahiran pun sama," kata Sandi.


"Mungkin kebetulan saja,"


"Ya mungkin saja. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba menelusuri lebih dalam kan Bos?" kata Sandi memberikan pendapatnya.


"Saya serahkan ke kamu ya," kata Arga.


"Baik Bos, saya sudah kirimkan foto orangnya," kata Sandi.


Arga mematikan teleponnya, dan mengecek foto yang dikirimkan oleh Sandi.


"Bukannya ini pria yang aku temui di lapangan bersama Kurnia? Namanya juga Bara. Apa ini orangnya?" gumam Arga.


"Kak Arga kenapa? Kok kelihatannya kebingungan gitu?" tanya Kurnia yang datang dari kamarnya.


"Kebetulan sekali kamu ada di sini Kurnia, ada yang mau saya tanyakan kepada kamu," kata Arga.


"Tentang apa Kak?"


"Sebelumnya saya mau tanya, Fina sedang apa di kamarnya?" tanya Arga khawatir adiknya tahu permasalahannya.


"Tidur Kak Arga," sahut Kurnia.


"Baik, kamu duduk dulu," kata Arga.


"Jadi gini Kurnia, kamu kenal kan sama pria ini?" tanya Arga memastikan.

__ADS_1


"Ini kan pria yang waktu di lapangan. Kalau gak salah namanya Bara, dia juga memberikan alamatnya kepada saya. Memangnya ada masalah apa Kak?" tanya Kurnia penasaran.


"Saya sudah mendapatkan informasi tentang pria yang mirip sama saya waktu di hotel dan menghamili wanita asing itu," kata Arga.


"Menurut informasinya, dia operasi plastik (oplas). Ini wajah dia yang dulu, sangat mirip bukan?" kata Arga memperlihatkan foto Bara sebelum oplas.


"Iya Kak, sangat mirip. Apa dia kembaran Kak Arga?" tanya Kurnia.


"Saya juga kurang yakin Kurnia. Tapi kalau dibilang kembaran, kami beda satu tahun hanya saja Bulan dan tanggal lahir kami sama," kata Arga.


"Bisa saja kan di ubah olehnya, kalau tidak mengapa dia mengoperasi wajahnya? Bukankah tujuannya agar tidak terlihat mirip lagi dengan Kak Arga?" Kurnia memberikan pendapatnya.


"Nah itu, saya minta tolong sama kamu Kurnia," kata Arga.


"Minta tolong apa Kak?" tanya Kurnia.


"Waktu ini saya sempat mendengar jika dia ingin bertemu denganmu di perusahaannya untuk mengucapkan terimakasih lagi,"


"Jadi?" tanya Kurnia yang kurang paham maksud Arga.


"Jadi saya minta tolong kamu temui dia dan selidiki gerak geriknya yang mencurigakan," kata Arga.


"Baik Kak, tapi biasanya kalau anak kembar memiliki tanda lahirnya masing-masing Kak. Kak Arga punya tanda lahir tidak di bagian tubuh Kak Arga? Agar memudahkan saya untuk melakukan penyelidikan," kata Kurnia meminta petunjuk dari Arga.


"Ada sih satu tanda yang aneh, dia berbentuk seperti bulan sabit berwarna hitam di bagian leher belakang saya," kata Arga memperlihatkan tanda lahirnya.


"Baik Kak, coba saya cari tahu nanti ya Kak," kata Kurnia.


"Saya siap-siap dulu Kak," kata Kurnia.


30 menit kemudian, Kurnia sudah sampai di perusahaan Bara diantar oleh Arga. Namun Arga memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari perusahaan Bara agar Bara tidak mencurigainya.


"Bos, saya masuk dulu ya. Bara sudah membalas pesan saya," kata Kurnia.


"Iya, hati-hati Kurnia. Saya takut dia berniat jahat sama kamu," kata Arga khawatir.


"Iya Bos," kata Kurnia dan turun dari mobil.


Kurnia berjalan menuju perusahaan Bara, di depan dia bertemu asisten Bara yang langsung mempersilahkan Kurnia untuk mengikuti dirinya.


"Silahkan masuk Bu," kata asisten tersebut yang bernama Dika


"Iya, terimakasih," ucap Kurnia.


Kurnia masuk dan disambut oleh Bara di ruangannya sendiri.


"Hai Kurnia, aku kira kamu gak akan datang," kata Bara.


"Maaf baru sempat kemari Bara, soalnya akhir-akhir ini ada kesibukan," kata Kurnia.


"Tidak apa-apa, silahkan duduk Kurnia," ucap Bara.


"Iya Bar, makasih" kata Kurnia.

__ADS_1


"Kamu beda ya sama yang dulu," kata Bara.


"Beda gimana?" tanya Kurnia yang tidak mengerti yang dimaksud Bara.


"Kamu lebih cantik yang sekarang daripada yang dulu," kata Bara.


"Bisa aja Bar, aku biasa aja kok gak ada perubahan apapun," sahut Kurnia.


Sejujurnya dia sangat tidak suka di puji-puji seperti ini, tetapi demi tugasnya ia rela bertahan.


"Ini perusahaanmu?" tanya Kurnia.


"Iya, kenapa? Kamu mau kerja di sini?"


"Enggak, Aku udah kerja Bar hehe,"


"Yah, aku mau balas budi sama kamu Kurnia. Rencana mau memberikan satu perusahaanku," kata Bara yang mulai serius.


"Gak usah berlebihan Bar, aku ikhlas kok bantuin kamu," tolak Kurnia.


"Tapi benaran Kurnia, kalau gak ada kamu waktu itu yang nolongin aku, mungkin aku tidak bisa sampai seperti ini," kata Bara.


"Gak usah Bar, kalau kamu mau balas budi lebih baik bantu aku," kata Kurnia.


"Bantu apa?" tanya Bara bersungguh-sungguh.


"Tidak sekarang Bar, tapi suatu saat nanti," kata Kurnia.


"Kirain sekarang. Yaudah kita buat perjanjian saja, kalau kamu perlu apa-apa entah itu pertolongan atau apa, kamu bisa cari aku atau asistenku ya," kata Bara.


"Oke Bar, terimakasih," kata Kurnia.


Sedari tadi Kurnia mencoba mencari-cari tanda lahir yang mirip dengan Arga, tetapi tidak ada di lehernya Bara.


"Apa mungkin dihilangkan ya?" Kurnia bertanya pada dirinya sendiri.


"Ya sudah Bar, aku pamit pulang dulu ya," kata Kurnia.


"Loh kok sebentar Kurnia?" kata Bara terlihat seperti tidak ikhlas Kurnia pergi.


"Iya, sudah sore soalnya Bar," kata Kurnia.


"Yasudah deh, kalau gitu hati-hati ya," kata Bara.


Kurnia mengangguk dan menjabat tangannya Bara, tak sengaja ia melihat tanda bulan sabit yang sama persis seperti milik Arga.


"Bar, bentuk bulan sabit itu tato ya?" tanya Kurnia memastikan.


"Oh ini, enggak Kurnia. Ini tanda lahir aku, kata ibuku sih gitu. Aku di suruh hilangin tapi aku gak mau," kata Bara.


"Kenapa?" tanya Kurnia.


"Ya aku juga tidak tahu, aku sampai di suruh oplas juga tidak tahu apa alasannya," kata Bara.

__ADS_1


"Oh gitu, yaudah aku pamit ya," kata Kurnia.


Kurnia keluar dari ruangan Bara di antar oleh Bara sendiri sampai di depan perusahaannya.


__ADS_2