
"Ampun Ayah, aku tidak tahu kalian mempunyai rencana itu," pinta Karina mengerang kesakitan.
Tetapi Anto tidak berhenti memukuli Karina, bahkan memukulnya lebih keras.
"Mas sudah Mas, Karina anak kita," Sarah ikut memohon kepada Anto.
"Anak apa yang hanya menyusahkan kita, kalau sampai kerjasama aku dan perusahaan Bara gagal, anak ini harus mati," ucap Anto marah.
"Mas kamu tenangin diri kamu Mas, aku mohon. Pasti ada cara lain untuk menculik Kurnia," Sarah kembali memohon.
Dia tidak tega melihat Karina kesakitan dipukuli oleh Anto.
Ketika sudah puas, Anto menghentikan pukulannya dan menendang perut Karina, setelah itu pergi meninggalkannya.
Sarah menghampiri Karina yang tergeletak di lantai dan pergi memapahnya masuk ke kamar.
"Ma sakit Ma," keluh Karina.
"Tahan ya sayang, kamu pasti bisa kuat kok," ujarnya.
Sarah tidak berani membawa Karina ke rumah sakit sebab melihat suasana hati suaminya, dia tidak akan mau mengeluarkan uang sepeserpun.
"Sssss,, sakit Ma," Karina merintih kesakitan ketika Sarah mengolesi salep di lukanya.
"Tahan ya sayang, sedikit lagi kok," ucap Sarah menenangkan.
"Ini semua karena Kurnia, kalau tidak mana mungkin akan menjadi seperti ini," Sarah menggerutu.
"Iya Ma, tapi aku penasaran bagaimana dia bisa berubah menjadi berani dan cerdik seperti itu? Bukankah dulu dia sangat lugu dan tunduk kepada kita?"
"Mama juga tidak tahu. Saat ini Mama harus memikirkan cara untuk menculiknya, supaya Ayah kamu tidak marah lagi," kata Sarah gelisah.
"Aku dengar-dengar Arga akan menginap di hotel, dan Kak Kurnia tidak ikut. Dia bahkan tinggal di rumah di suruh menjaga adiknya yang bernama Fina itu," Karina memberikan informasi.
"Lalu rencana kamu apa?" tanya Sarah.
"Arga itu sayang banget sama Fina dan Kurnia di suruh menjaganya. Kita bayar saja orang yang mau menculik Fina dan Kurnia. Nanti...," selanjutnya Karina membisikkan rencananya kepadan Sarah.
"Bagus juga idenya, nanti coba mama bicara sama ayah kamu," ucap Sarah sedikit lega.
...****************...
Di rumah Arga....
"Kak Arga!" panggil Fina ketika Kurnia sudah masuk ke kamar untuk mengganti gaunnya.
"Ada apa Fin?" tanya Arga sembari duduk di sofa diikuti oleh Fina.
"Kak Arga suka ya sama Fina?" tanyanya.
Kali ini Fina tidak sedang menggoda Arga, melainkan serius bertanya.
"Kamu apaan sih Fin, itu urusan Kak Arga mau suka atau tidak," sahut Arga.
"Tapi Fina serius mau nanya Kak," desak Fina.
__ADS_1
"Gak Fin, itu privasi. Kamu gak boleh usik-usik privasi Kak Arga, kamu juga pasti punya rahasia yang tidak ingin Kak Arga tahu kan?"
Fina cemberut mendengar jawaban kakaknya, tapi ada benarnya juga setiap orang pasti punya privasi, bahkan dirinya sendiri pun punya.
"Iya deh Kak," sahutnya.
"Kak Arga akan pergi nanti sore ke hotel. Kamu ingat jaga diri baik-baik ya, apalagi sebagian orang sudah tahu kalau kamu adikny kakak," ucap Arga yang masih khawatir meninggalkan adik yang dia sayangi.
"Iya Kak, Kak Arga tenang aja kan ada Kurnia juga," sahutnya.
"Ada apa? Kok sebut-sebut nama aku?" tanya Kurnia ketika mendengar namanya disebut saat menuju ruang tamu.
"Ini katanya Kak arga mau pergi ke hotel nanti sore," ucapnya.
"Gak nunggu besok pagi aja Kak?" tanya Kurnia.
"Gak biar lebih cepat selesainya," sahut Arga.
"Nanti kamu jaga Fina baik-baik ya," perintah Arga.
"Baik Kak,"
"Kak Arga siap-siap dulu gih, istirahat dulu mumpung masih siang," ucap Fina.
"Benar juga ya, kalian kalau mau kemana-mana pamit dulu sama Kak Arga ya," pesan Arga.
"Siap Bos," Kurnia dan Fina kompak.
Arga pergi meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.
"Nanya apa?" Kurnia mengernyitkan keningnya.
"Dia suka gak sama kamu," ucap Fina.
"Terus, terus? Dia jawab apa?" tanya Kurnia bersemangat.
"Dia gak mau jawab, katanya itu privasi dia,"
"Yahh.." Kurnia kecewa mendengar jawabannya.
"Tapi mungkin Kakak kamu tidak suka sama aku, buktinya tadi aja dia santai ngobrol sama Indri," kata Kurnia cemburu.
"Kak Arga gak mungkin suka sama Indri, dia udah anggap Indri sama seperti aku," kata Fina mencoba memberikan pikiran positif.
"Aku kurang PD Fin, takut Kak Arga gak suka sama aku," keluh Kurnia.
"Mau aku bantu gak?" Kurnia menawarkan dirinya.
"Bantu kayak gimana?" tanya Kurnia.
"Buat Kak Arga cemburu Nia, nanti aku minta bantuan sama teman aku yang cowok untuk akting jadi pacar kamu," kata Fina.
"Emang bisa berhasil Fin?" Kurnia masih ragu-ragu dengan rencana Fina.
"Berhasil atau tidaknya nanti kita lihat," kata Fina.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Fina menelepon teman cowoknya yang bernama Riski. Dia langsung meminta bantuan kepadanya dan menjelaskan rencananya. Setelah di setujui, Fina menutup teleponnya menyuruh ia bersiap-siap sebelum Arga tertidur.
"Kak Arga, Kurnia katanya minta ijin pergi keluar jalan-jalan sama temannya," ucap Fina kepada Arga yang masih membereskan pakaiannya di dalam kamarnya.
"Temannya siapa?" tanya Arga penasaran.
"Namanya Riski Kak,"
"Cowok?" tanya Arga.
"Iya Kak, kenapa?" tanya Fina.
"Suruh dia datang ke Kakak," perintah Arga.
"Tapi Kurnia masih siap-siap Kak," kata Fina sambil tersenyum.
Fina sudah tahu kalau kakaknya cemburu, terlihat dari nada bicaranya yang tiba-tiba meninggi setelah mengetahui Kurnia akan jalan sama pria lain.
"Kamu bantu beresin baju Kakak ya, Kakak mau mencari Kurnia," kata Arga.
"Iya Kak,"
'semangat Kurnia, aku sudah memberikan kesempatan yang bagus untuk kamu. Semoga berhasil ya,' batin Fina sambil tersenyum.
Lalu Arga mencari Kurnia ke kamarnya.
"Ahh!" Kurnia terkejut ketika melihat Arga yang masuk tiba-tiba, syukurnya dia sudah selesai mengenakan pakaiannya.
"Ini Saya Kurnia," kata Arga.
"Kak Arga kenapa gak ketuk pintu sebelum masuk?" kata Kurnia dengan nada yang sedikit tinggi.
"Maaf Kurnia, saya tidak akan seperti itu lagi," ujarnya.
Kurnia mengangguk dan menanyakan tujuan Arga yang tergesa-gesa ke kamarnya.
"Kamu mau kemana sama pria yang bernama riski itu?" tanya Arga yang langsung ke intinya.
"Dia ajak aku pergi ke suatu tempat, aku tidak tahu dimana," sahut Kurnia enteng.
Ia mencoba cara yang diberikan oleh Fina, apakah Arga akan cemburu padanya atau tidak.
"Apa kamu tidak khawatir kalau dia mengajak kamu ke tempat yang berbahaya?" tanya Arga yang nampak khawatir.
"Gak lah Kak, dia kan pacar aku," ujar Kurnia.
"Tetap saja, kamu tidak boleh pergi sama orang lain selain saya Kurnia," ucapnya sambil menggenggam pergelangan tangan Kurnia.
"Kenapa Kak?" tanya Kurnia berusaha menyelidiki.
"Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa. Pokoknya kamu jangan pergi ya Kurnia," Arga memohon.
"Tapi saya pergi sama pacar saya, dia tidak mungkin membuat saya terluka atau dalam masalah," ucap Kurnia.
"Ya sudahlah," Arga kesal dan keluar dari kamarnya Kurnia.
__ADS_1
'Kurnia, kenapa kamu tidak mengerti kalau saya cemburu sama dia. Saya tidak ingin kamu pergi sama cowok lain selain saya apalagi sampai pacaran,' batin Arga.