
Hari ini adalah hari dimana Bara juga sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Di pintu keluar, ia tak sengaja melihat Kurnia yang duduk gelisah, ia pun menghampirinya.
"Kurnia sedang apa kamu di sini?" tanya Bara yang memang tidak mengetahui kalau Kurnia juga di rawat di rumah sakit yang sama.
"Lagi nunggu teman yang di rawat di sini. Kamu ngapain di sini?" Kurnia balik bertanya.
"Kalau aku di rawat di sini, tapi sudah boleh pulang," kata Bara.
'Kurnia tahu tidak ya tentang foto dirinya yang sedang memelukku?' batin Bara.
Beberapa menit berfikir akhirnya Bara memberanikan diri untuk bertanya kepada Kurnia mengenai foto mereka yang sudah beredar di beberapa media. Hal ini di ketahui oleh Bara saat ia tak sengaja mendapat notifikasi dari salah satu medsosnya.
"Kurnia, masalah foto kita yang sudah beredar itu kamu tahu kan?" tanya Bara.
"Foto yang mana? Apa foto waktu kita seranjang bareng?" tanya Kurnia yang nampak terkejut.
Bara menjawabnya dengan anggukan kepala. Kurnia memang belum tahu kalau fotonya sudah tersebar di beberapa media sosial, lantaran dirinya sibuk memikirkan pemulihan Fina.
Kurnia dengan cepat melihat ponselnya, ia mencari di mesin pencarian dan ternyata pencariannya sudah paling atas. Ini artinya berita dirinya yang tidur dengan Bara merupakan berita yang HOT dan sudah banyak di bicarakan oleh masyarakat.
"Ah sial! kenapa aku tidak bisa mengetahui ini dari awal!?" kata Kurnia kesal.
"Maafkan aku Kurnia, dan aku akan berusaha membantumu menghapus berita tersebut," ujar Bara yang merasa bersalah.
"Untuk apa kamu minta maaf Bara? di sini kita sama-sama korban," kata Kurnia yang tak ingin menyalahkan Bara.
"Tapi tetap saja aku akan mencobanya untuk menghapus berita itu," ujar Bara.
Kurnia hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum.
"Oh iya, aku mau nanya sama kamu," kata Bara.
"Nanya apa?" tanya Kurnia sedikit penasaran.
"Apa hubunganmu dengan keluargamu baik-baik saja?"tanya Bara.
"Lumayan rumit. Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Kurnia balik.
__ADS_1
"Tidak ada. Kalau boleh tahu rumit yang kamu maksud itu seperti apa? soalnya ayahmu waktu itu ingin aku menandatangani kontraknya jadi aku ingin mencari informasinya dulu sebelum aku mengajak bekerjasama," ujar Bara mencari alasan.
Bara tidak ingin Kurnia tahu kalau dia memberikan syarat kepada Anto untuk membuat Kurnia jatuh cinta padanya, takutnya kurnia mikir kalau dalang di balik semua ini adalah dia. Padahal dalam syaratnya itu tidak tertera bahwa ia menyuruh memakai cara yang kotor.
'Tanda tangan kontrak? bukankah ini kesempatanku untuk menghancurkannya? pasti kontrak ini mempunyai keuntungan besar bagi Anto, jika tidak mana mungkin dia mau bekerjasama dengan Bara. Apa aku coba dulu kali ya?' batin Kurnia.
"Kurnia!" seru Bara.
"Eh iya, aku boleh minta tolong gak?" tanya Kurnia.
"Boleh, sekalian balas budi yang waktu ini," ujar Bara.
"Ah kamu bisa saja. Aku mau minta tolong supaya kontrak ayahku tidak usah kamu tandatangani," pinta Kurnia kepada Bara.
"Oke!" sahut Bara yang membuat Kurnia sedikit bingung.
"Kamu tidak tanya dulu kenapa aku ngelakuin itu?" tanya Kurnia kebingungan.
"Tidak perlu. Permintaan pertama dari penolongku ya harus tanpa syarat," kata Bara.
"Ya sudah kalau begitu terimakasih<" kata Kurnia.
Sesampainya Bara di rumah, ia segera mencari keberadaan ibunya sambil berteriak kencang memanggil ibunya.
"Ada apa sih Bara kok teriak-teriak seperti itu," ujar Kartika yang merupakan ibunya Bara.
"Ada yang mau aku tanyakan ke ibu," kata Bara.
"Tunggu dulu! sebelum kamu bertanya biarkan Ibu bertanya terlebih dulu sama kamu,"
"Iya Bara kemarin di rawat di rumah sakit makanya gak sempat ngabarin ibu atau angkat telepon Ibu, Bara dijebak sama seseorang dikasih obat tidur dan akhirnya ke rumah sakit karena lama tak sadarkan diri katanya," kata Bara menjelaskan kepada Kartika.
Bara sudah sangat hafal dengan tingkah Ibunya jika dia berada diluar seharian tanpa kabar. Kartika pasti akan banyak bertanya dan mengomel-ngomel. Tapi, walaupun Ibunya seperti itu Bara sangat senang karena, dia tahu yang sayang dengan dirinya dan yang peduli dengan dirinya adalah Ibunya.
"Kok kamu tahu apa yang ingin ibu tanyakan?" Kartika bertanya kepada anaknya kebingungan.
"Iyalah, Bara sudah hafal sama reaksi ibu kalau aku gak pulang," ujar Bara.
__ADS_1
"Sekarang giliran Bara yang bertanya," kata Bara.
"Eh... bentar dulu! Kamu belum kasih tahu IBu siapa yang berani menjebak kamu?" tanya Kartika menahan Bara untuk bertanya.
"Udah Bu itu tidak pentiny, ada hal yang lebih pening lagi yang mau Bara tanyakan ke Ibu," kata Bara mendesak ibunya.
"Ya sudah! kamu mau nanya apa emangnya?"
"Tapi sebelumnya Ibu harus jawab dengan jujur ya," pinta Bara.
"Iya Bara," jawab Kartika.
"Bu sebenarnya aku punya kembaraan kan? Dan aku bukan anak kandung Ibu kan?' tanya Bara dengan raut wajah yang serius.
"HA HA HA HA!" Kartika tertawa ketika mendengar Bara mengungkapkan pertanyaannya.
Hal ini membuat Bara kebingungan melihat kartika tertawa.
"Kenapa Ibu tertawa?" tanya Bara kesal.
"Habisnya kamu sih, menghayal punya kembaran," kata Kartika sambil menutup mulutnya menahan tawanya.
"Bu, Bara seius nanya," kesal Bara.
"Lagipula kamu dapat informasi itu darimana sih?" tanya Kartika.
"Aku tadi ketemu Arga dia mengaku kalau dia adalah saudara kembarku. Dan dia juga sudah mempunyai bukti yaitu seorang Bidan yang katanya dulu itu dia sempat bekerjasama dengan Ibu. Tolong Bu jujur saja sama Bara," pinta Bara lagi.
Dalam hitungan detik saja raut wajah Kartika berubah menjadi panik setelah mendengar nama Bidan.
"Bu, tolong kasih tahu Bara kebenarannya, Bara janji setelah Ibu memberitahukan semuanya kepada aku, Bara tidak akan meninggalkan Ibu," kata Bara.
Kartika menarik nafas panjang , dia masih belum menyangka Bara akan tahu rahasianya, sampai-sampai sudah menemukan bukti seorang bidan yang dia ajak bekerja sama di masalalu. Dia juga tidak menyangka Bidan itu akan menghianatinya setelah uang tutup mulut ia serahkan.
"Tapi kamu janji tidak akan meninggalkan Ibu kan?" tanya Kartika mmastikan.
"Iya Bu, Bara janji akan tetap tinggal bersama Ibu. Aku tidak akan mencari mereka, aku masih ingat perjuangan Ibu membesarkan aku dari kecil, walaupun ibu bukan Ibu kandungku tapi ibu tetap menyangiku layaknya anak kandung Ibu sendiri," kata bara.
__ADS_1
Mendengar kata anaknya, Kartika meneteskan air mata. Air matanya bukan karena kecewa tetapi karena terharu dengan perkataan anaknya. Dia sangat bersyukur sudah diberikan kesempatan membesarkan anak, walaupun anak itu bukan dari rahimnya sendiri.