Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 15 Penyelidikan


__ADS_3

"Kurnia mulai hari ini kamu saja yang menyetir ya," kata Arga setelah sampai di perusahaannya.


"Tapi kan tidak ada di kontrak," bantah Kurnia.


"Saya tambah gaji kamu 1 juta," kata Arga.


"Bos mana ada gaji sopir 1 juta, minimal 3 juta lah Bos," bantah Kurnia lagi.


"Kenapa jadi kamu yang ngatur?" Arga bertanya kepada Kurnia.


"Itu kan hak saya Bos, lagipula jika membantah tidak ada potong gaji juga kan," kata Kurnia.


"Oke, kalau begitu saya tambahin 5 juta. Jadi total gaji yang kamu terima 15 juta perbulan," kata Arga.


"Yey! Gitu dong Bos,"


"Jangan senang dulu kamu, ada tapi nya ini," kata Arga membuat Kurnia berhenti senang.


"Apa Bos?" tanya Kurnia penasaran.


"Ya kamu harus siap siaga mengantar saya kemanapun saya mau dan bersama siapapun," kata Arga.


"Oh kalau itu sih gampang," sahut Kurnia enteng.


"Oke, berarti deal ya. Nanti saya buatkan kontrak baru," kata Arga.


"Di buatkan Kontrak lagi Bos?"


"Iya lah. Supaya kamu tidak semena-mena, jangan kira saya percaya sama kamu ya,"


"Dih, apaan sih," gumam Kurnia.


Arga langsung menyalin kontraknya dan menambahkan beberapa syarat lagi di kontraknya.


Tak butuh waktu lama, Arga sudah selesai mengeprint kontraknya.


"Ini, di tandatangani saja," kata Arga.


"Tentu saja saya baca dahulu, siapa tahu ada isi kontrak yang menjebak lagi. Bos kira bisa membohongi saya kedua kalinya," kata Kurnia.


"Silahkan saja,"


Kurnia membaca isi kontraknya, tidak ada yang salah dengan isi kontraknya jadi ia menandatangani kontraknya.


"Ini Bos, sudah ditandatangani," kata Kurnia menyerahkan Kontraknya.


...****************...


"Sandi, tolong bantu saya mengecek orang di video yang saya kirimkan itu," kata Andi di telepon kepada bawahannya.


"Siap Tuan, tapi itu siapa? Kok bisa mirip sama wajah Tuan? Tanya Sandi penasaran.


"Ya karena saya tidak tahu makanya saya bertanya kepada Anda Sandi," kata Arga geram kepada bawahannya itu.

__ADS_1


"Oh maksud saya bukan gitu Tuan. Maksud saya mengapa Anda bisa mencari tahu tentang pria itu?" tanya Sandi lagi.


"Itu urusan saya, tugas kamu tinggal cari tahu identitas pria itu. Satu jam, saya beri kamu waktu satu jam saya," kata Arga kemudian menutup teleponnya.


Diseberang sana terlihat Sandi yang nampak gemetar, setiap tugas yang diberikan pasti memiliki waktu yang singkat.


"Kurnia!" seru Arga kepada Kurnia yang sedang duduk melamun di atas sofa.


"Iya Bos ada apa?" tanya Kurnia.


"Kita pulang lebih awal sekarang, saya lelah. Kamu jangan ceritakan masalah tadi kepada Fina ya," kata Arga.


"Baik Bos, siap!" ucap Kurnia.


Setelah sampai di rumah, Arga dan Kurnia disambut oleh Fina.


"Tumben pulang cepat dari biasa-biasanya Kak?" tanya Fina kepada Arga yang sudah duduk di sofa.


"Iya soalnya lelah," jawab Arga.


"Padahal masih jam 3 loh," kata Fina.


"Ada masalah ya Kak?" tanya Fina curiga.


"Gak ada Fin, tanya aja sama Kurnia,"


"Iya benar kok Fin," sahut Kurnia meyakinkan Fina.


"Yaudah deh, kalau begitu aku sama Kurnia ke kamar dulu deh. Kak Arga istirahat aja,"


Kepalanya pusing, dia tidak tahu siapa pria yang mirip sekali dengannya. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mungkinkah dia punya kembaran? Lalu mengapa dia berpisah dengan kembarannya?.


Satu jam berlalu, Arga menelepon Sandi yang ditugaskan untuk menyelidiki pria tersebut.


"Saya sudah dapat beberapa informasi Bos," kata Sandi bersemangat ditelepon.


"Informasi apa yang kamu dapatkan?" tanya Arga penasaran.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, pria itu bernama Bara. Ia anak yatim, ayahnya tidak di ketahui karena ibunya melahirkan dia diluar nikah. Ibunya bernama Sintia Melyawati," ucap Sandi.


"Hanya itu yang kamu dapatkan?"


"I-iya Bos," sahut Sandi gugup karena merasa Arga kurang puas dengan penyelidikannya.


"Cari lebih banyak mengenai identitas pribadinya seperti perusahaan dan lainnya," perintah Arga lalu mematikan teleponnya.


Arga menggaruk-garuk kepalanya, dia masih penasaran apa tujuan dari pria ini.


Di balik sana, terlihat Kurnia dan Fina yang sedang berbincang-bincang sambil menonton video di ponselnya.


"Nia, gimana kamu kerja sama Kak Arga? gak ada masalah kan?" tanya Fina.


"Gak ada kok Fin, curiga terus sama kakaknya nih,"

__ADS_1


"Soalnya Kak Arga belum pernah terlihat lembut sama karyawannya, jadinya aku khwatir sama kamu," kata Fina.


"Masak sih? Kok sama aku, dia biasa saja,"


"Oh ya? itu artinya kamu spesial Nia," goda Fina.


"Mulai deh," kata Kurnia merajuk.


"Eh ngomong-ngomong gimana masalah kamu sama keluarga kamu?" tanya Fina.


Ya memang sejak putus hubungan sama keluarganya, Kurnia belum menceritakan kejadiannya kepada Fina.


"Ya gak gimana-gimana sih Fin," jawab Kurnia.


Kurnia tidak mau menceritakannya kepada Fina, jadi ia hanya bilang kalau dirinya sudah putus hubungan dengan keluarganya.


"Tapi kok orang tua kamu memperbolehkan begitu saja? Menurut watak mereka yang aku kenal, mereka pasti meminta imbalan sama kamu," kata Fina yang semakin penasaran.


"Ya mereka mana berani sama aku, awalnya mereka merencanakan perjodohan untuk aku tapi aku tolak tegas. Dan akhirnya mereka nyerah, mungkin mereka takut sama aku," jawab Kurnia mengarang cerita.


Ia berharap agar Fina tidak bertanya lagi dan melupakannya.


"Tapi..."


TOK! TOK! TOK!


Ketukan pintu itu membuat perkataan Fina terputus yang membuat Fina sendiri geram dengan kakaknya.


Kurnia membukakan pintu untuk Arga yang mengetuk pintunya.


"Kak Arga ada apa ke sini? Kangen sama Kurnia ya?" Fina menggoda Arga yang sedang berdiri di depan pintu.


"Kamu ini masih kecil udah tahu kangen-kangenan," bantah Arga walaupun sebenarnya memang benar ia ingin berbincang dengan Kurnia.


"Daripada Kak Arga, udah tua malah gak punya pacar," ledek Fina sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar kamu, kalau Kak Arga udah punya pacar siap-siap kamu gak akan dapat perhatian dari kakak lagi," ancam Arga.


Tapi bukannya takut, Fina malah senang jika Arga punya pacar asalkan itu Kurnia.


Kurnia yang memperhatikan perbincangan mereka berdua, mendengar namanya disebut membuat pipinya merah pertanda malu.


Ia tidak enak sama Arga kalau Fina menjodoh-jodohkannya dengan dirinya. Walaupun Kurnia menyukai Arga, tetapi dirinya yakin kalau ia pasti hanya mengagumi Arga bukan suka dalam arti cinta.


"Ke ruang tamu sebentar, Kak Arga mau ada yang di diskusikan sama kalian," kata Arga kembali serius.


"Apa Kak?" tanya Fina penasaran.


"Udah ikut aja dulu," sahut Kurnia.


"Cie...cieee," Fina menggoda Arga dan Kurnia lagi.


"FINA!" Arga dan Kurnia bersamaan membentak Fina dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Melihat mereka berdua kompak, Fina menutup mulutnya menahan tawa.


__ADS_2