
TOK! TOK! TOK!
Suara pintu di rumah Arga di ketuk oleh seseorang pertanda ada orang yang akan bertamu ke rumahnya.
Kurnia membukakan pintu untuk orang itu, terlihat seorang pria yang tidak asing bagi Kurnia setelah pintu di buka. Pria itu tersenyum tipis.
"Siang Bu," ucap Pria itu.
"Iya siang," sahut Kurnia sambil mengukir senyum di wajahnya.
"Silahkan masuk!" ujar Kurnia.
Pria itu pun masuk mengikuti langkah Kurnia, sampai di ruang tamu. Terlihat Arga yang duduk santai di sana.
"Selamat siang Bos, ini surat yang Bos minta," ucap pria yang bernama Sandi itu sambil menyerahkan dokumen-dokumen yang dia bawa.
"Cepat juga kamu," puji Arga sembari menerima dokumen yang diserahkan oleh Sandi.
Sandi hanya membalas dengan anggukan.
Lama terdiam karena memeriksa dokumen yang di bawa oleh Sandi, Arga menoleh ke arah Sandi.
"Kenapa masih di sini?" tanya Arga.
Sandi menjadi sangat canggung, karena seingatnya Arga belum menyuruhnya untuk pulang.
"Ishh apaan sih kamu, sama tamu kok gitu. Suguhin apa gitu dulu," ujar Kurnia.
"Sandi, kamu tunggu di sini dulu ya," ujar Kurnia lalu pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu.
Beberapa menitnya, Kurnia datang dengan membawa beberapa camilan dengan 2 cangkir teh.
"Makasih Bu, tapi sepertinya saya terburu-buru," ujar Sandi yang ketakutan melihat tatapan Arga.
Dia mengerti kode dari tatapan yang diberikan oleh Arga.
"Arga! Jangan gitu," bentak Kurnia.
"Kenapa? Aku salah apa?" tanya Arga yang berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Tuh tatapanmu bikin Sandi takut minum," ujar Kurnia.
"Apa-apaan sih Kurnia, orang aku diam aja dari tadi. Sandi kalau kamu mau minum, minum aja. Kenapa perlu izin saya?" kata Arga kesal.
"Ba-baik Bos, saya yang salah," ujar Sandi sembari mengambil secangkir teh.
'Jelas-jelas tadi Bos yang gak ngijinin saya minum, tapi kenapa malah saya juga yang kena,huhu derita jadi asisten Bos pelit,' kata Sandi dalam hati.
"Bu sepertinya saya tidak bisa lama-lama di sini," ujar Sandi.
Dia merasa gelisah berada di sana, melihat Arga yang sedari tadi bersikap dingin.
"Loh kok buru-buru?" tanya Kurnia.
"Dia ada kerjaan sayang, biarin aja dia pergi," ucap Arga seperti mengusir secara halus.
"I-iya Bu, yang dikatakan oleh Bos Arga benar," kata Sandi tersenyum yang di paksa-paksakan.
"Oh yaudah deh San, kamu hati-hati ya," ucap Kurnia.
__ADS_1
"Udah, kamu cepat pergi," usir Arga kepada Sandi.
Dia kesal Kurnia bilang hati-hati kepada Sandi, sedangkan dirinya yang sebagai pacar belum pernah menerima kata-kata itu, padahal itu adalah sebuah perhatian dalam hubungan.
"Baik Bos, saya permisi dulu," kata Sandi lalu berlalu pergi.
"Kamu ini sama bawahan kok seperti itu," ucap Kurnia setelah Sandi berlalu.
"Habisnya kamu sih, perhatian terus sama dia. Kan aku cemburu," ujar Arga memasang wajah yang cemberut.
"Ya gak boleh gitu dong, kamu harus profesional jadi Bos. Masak aku cuma gitu aja kamu marah sama karyawan-karyawan kamu, gimana nanti kalau aku udah urus perusahaan pasti bakalan bertemu dengan pria lainnya," jelas Kurnia tidak ingin Arga terlalu posesif.
"Iya deh iya nyonya," sahut Arga dengan candaan.
"Tuh kan bercanda lagi, kapan sih kamu bisa serius?" kata Kurnia kesal.
"Aku serius kok," Arga membela dirinya.
"Serius apanya?" tanya Kurnia.
"Ya serius, mencintaimu," sahut Arga diikuti dengan tawaan.
"Ish dasar!" Kurnia berdiri lalu membereskan sisa camilan yang tersisa.
"Habis ini kembali lagi ya, aku mau bicara serius sama kamu," ujar Arga yang langsung merubah raut wajahnya menjadi serius.
"Iya," sahut Kurnia singkat lalu melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Bisa mengubah ekspresi wajah dengan cepat, memang pria kalangan atas," gumam Kurnia.
Kurnia kembali lagi ke ruang tamu sesuai dengan perintah Arga.
"Kurnia, dokumen-dokumen yang perlu tandatangan kamu," kata Arga ketika Kurnia sudah duduk di sofa.
"Serah terima perusahaan, kamu bisa baca dulu agar lebih percaya," kata Arga.
Melihat surat-surat seperti ini, dia teringat saat pertama kali bekerja bersama Arga. Dimana saat itu dia di suruh tanda tangan kontrak, jika mengingat hal-hal itu sungguh membuat Kurnia senang.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Arga melihat Kurnia tersenyum tanpa alasan.
"Tidak apa-apa," sahut Kurnia.
Dia langsung menandatangani surat itu.
"Nah mulai sekarang, perusahaan ayahmu sudah jadi milik kamu sekarang," kata Arga.
"Terimakasih Kak," kata Kurnia.
"Kok Kak? Sayang dong," ucap Arga.
"Iya sayang,udah kan?" kata Kurnia.
"Ah kamu gak ikhlas itu,"
"Terus gimana biar aku ikhlas?" tanya Kurnia.
"Ya tunjukin dong, kamu bisa cium aku atau peluk aku," ujar Arga.
"Dasar, jangan harap ya," kata Kurnia lalu berdiri akan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Namun, Arga menarik tangan Kurnia hingga tubuh Kurnia terhempas kepangkuan Arga.
Mereka terdiam dan saling pandang.
'Arga ganteng banget,' kata Kurnia dalam hati.
Dia masih terlarut dalam lamunannya.
'Kenapa Kurnia menggoda sekali, aku ingin memakannya sekarang juga,' kata Arga di dalam hatinya.
Tiba-tiba Kurnia tersadar dalam pangkuan Arga seperti ada sesuatu yang menonjol.
"Kak, ada apa di bawah?" tanya Kurnia.
Arga segera menyuruh Kurnia bangun dari pangkuannya, dia menutupi area 'itunya' menggunakan bantal yang ada di sofa.
"Tidak apa-apa. Udah di bilangin jangan manggil Kak lagi," kata Arga sengaja mengalihkan topiknya agar Kurnia tidak penasaran lagi.
"Iya Maaf sayang, aku kan belum terbiasa," ucap Kurnia sambil membelai wajah Arga lembut.
"Ya-yaudah kamu harus bisa biasain," kata Arga gugup.
"Iya sayang, aku kembali ke kamar dulu ya," ucap Kurnia.
Arga hanya mengangguk, tangannya masih memegang sebuah bantal.
'Kenapa Arga mendadak gugup ya?' Kurnia bertanya pada dirinya sendiri.
"Udah kencannya?" goda Fina ketika melihat Kurnia kembali ke kamar.
"Ish apaan sih Fin," sahut Kurnia dengan wajah malu.
Fina tertawa kecil melihat ekspresi Kurnia yang malu-malu itu.
"Udah tidur dulu yuk," ajak Fina.
Kurnia mengangguk, kebetulan dia sudah mengantuk karena belum dapat istirahat.
...****************...
"Bawa masuk saja ya, kamarnya sebelah sana," ucap Sandi kepada beberapa orang yang sedang mengangkat sebuah lemari.
"Pakaian ini taruh dimana Pak?" tanya seorang wanita yang membawa beberapa pakaian ditangannya.
"Taruh saja di kamar setelah lemarinya sudah di sana. Nanti jangan lupa masukkan kedalam lemari," perintah Sandi.
Satu persatu orang yang di perintahkan oleh Sandi masuk ke kamar tersebut.
Hingga semuanya beres.
"Bos, kamarnya sudah siap untuk di tinggali," Sandi melapor kepada Arga lewat telepon.
"Sudah kamu bersihkan?" tanya Arga.
"Sudah Bos, dipastikan tidak ada debu yang menempel," sahut Sandi.
"Jangan sampai Kurnia dan Fina terbangun ya, karena saya ingin memberikan Kurnia kejutan," perintah Arga.
"Siap Bos, mereka aman di dalam kamar," kata Sandi.
__ADS_1
"Oke," sahut Arga lalu menutup telepon.
Dia sengaja tidak membangunkan Kurnia dan Fina saat dia pergi ke kantor karena ingin memberikan Kurnia sebuah kejutan.