
Kringg....Kringgg...Kring...
Mendengar suara telepon berdering Kurnia terburu-buru merogoh tasnya yang terletak di atas meja ruang tamu.
Di teleponnya tertera nama Anto yang merupakan ayah Kurnia. Sebenarnya Kurnia tak ingin menjawab telepon dari ayahnya, tetapi karena takut Arga terganggu dan memotong gajinya lagi terpaksa ia mengangkatnya.
"Hallo, ada apalagi? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi?" kata Kurnia setelah keluar dari ruangan.
Sebelumnya Kurnia sudah minta ijin dengan Arga untuk mengangkat telepon di luar.
"Dasar anak sialan. Apa kamu tidak merasa bersalah setelah berprilaku tidak sopan kepada ayahmu terakhir kali" kata Anto di telepon.
"Kali ini Ayah maafin kamu, tapi kamu harus pulang ke rumah. Sekarang juga, ini penting," imbuhnya lagi.
"Heh, aku tidak perlu maaf dari kamu. Dan kenapa aku harus menuruti perkataanmu? Jika memang ada yang penting mengapa tidak kamu saja yang mencariku," kata Kurnia yang sengaja berbicara tidak sopan kepada Anto.
"Dasar anak yang tak tahu di untung. Sekarang kamu pulang atau aku akan menjual liontin peninggalan ibu kandungmu?" Anto memberikan Kurnia pilihan.
Anto sudah mengetahui kalau Kurnia akan menolak untuk pulang ke rumah. Jadi dia sudah menyiapkan rencana untuk mengancam Kurnia agar dia mau pulang ke rumah.
'Kalung liontin apa ya? tetapi dia bilang itu peninggalan ibu kandung dari si pemilik tubuh. Ini pasti sangat berarti baginya,' pikir Kurnia.
"Yasudah aku pulang. Nanti sore sekitar jam 4 aku pulang, tapi liontin itu harus kamu serahkan kepadaku," kata Kurnia menyetujui.
"Baiklah, awas saja kamu tidak pulang," kata Anto.
Kemudian Kurnia menutup teleponnya dan kembali memasuki ruangannya.
"Bos, hari ini pulang jam berapa ya?" tanya Kurnia kepada Arga.
"Untuk apa bertanya seperti itu? Baru beberapa jam saja kamu sudah bosan kerja ya?" tanya Arga disertai tuduhan.
"Bukan seperti itu Bos. Saya di suruh pulang oleh Ayah saya, ada sesuatu yang penting. Jam 4 boleh tidak saya izin permisi?" tanya Kurnia.
"Emang ada hal penting apa sampai kamu harus pulang? Bukankah kamu mengatakan kepada saya kalau kalian sudah tidak punya hubungan lagi?"
Karena merasa Arga tidak percaya kepadanya, Kurnia akhirnya menjelaskan tentang ancaman Anto yang mengancamnya agar pulang ke rumah.
"Jadi seperti itu Bos," kata Kurnia.
"Itu kan urusan pribadimu, jadi jangan melibatkan perusahaan. Kamu tidak diizinkan untuk pergi, kita pulang jam 10 malam," kata Arga.
__ADS_1
Padahal Arga bisa saja pulang dibawah jam 4 atau di atas jam 4. Dia seorang Bos jadi mau pulang jam berapapun itu kebebasannya. Tetapi karena ia ingin mempersulit Kurnia makanya Arga berkata seperti itu kepada Kurnia.
Tidak ada dendam yang dirasakan oleh Arga, tetapi ia sangat suka melihat Kurnia dalam masalah dan juga selalu di sisinya. Ia tak tahu apa itu yang namanya suka(cinta) atau hanya suka menjadikannya sebuah Boneka.
Walaupun terkadang Arga merasa kasihan terhadap Kurnia, tetapi ia tak mempedulikan rasa kasihan itu.
"Bos potong saja gaji saya. Peninggalan ibu kandung saya lebih penting dari uang yang bos berikan kepada saya," kata Kurnia marah.
"Oke. Gaji kamu sudah terpotong 1 juta," ucap Arga sambil mencatat di selembar kertas kosong.
Kurnia ingin sekali memukul Arga yang sudah sangat keterlaluan kepadanya, tetapi ia tak ingin gajinya terus-terusan di potong oleh Arga.
****
Kring....Kring...Kringg
Suara telepon Kurnia kembali berdering, Kurnia sudah mengetahui siapa yang menelepon dirinya. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.00.
"Hallo," kata Kurnia setelah mengangkat teleponnya di luar ruangan.
"Kurnia, kamu benar-benar mempermainkan ayah ya?" kata Anto di telepon.
"Tidak bisa. Ini harus dibicarakan dirumah, sekarang ayah bilang kamu pulang ya kamu harus pulang," bentak Anto.
"Sudah kubilang kita tidak ada hubungan keluarga lagi, jadi jangan pernah menyebut dirimu sebagai Ayah Kurnia lagi," jelas Kurnia yang emosi.
"Dasar B*adab. Kamu masih anak ayah, tidak ada simbol apapun kamu memutuskan hubungan dengan keluarga. Di kartu keluarga nama kamu masih tertera, kamu baru akan putus hubungan kalau kamu sudah menikah," jawab Anto.
"Sekarang kamu cepat pulang, Ayah tunggu sampai jam 7 kalau kamu tidak pulang jangan pernah menanyakan liontin peninggalan ibu kesayangan kamu itu".
Anto menutup teleponnya setelah berkata seperti itu. Ini membuat Kurnia harus memohon lagi kepada Arga.
Memang sebelum Anto menelepon Kurnia lagi, Arga sudah mengijinkannya dengan syarat potong gaji. Tetapi entah ada angin apa Arga berubah pikiran dan tidak mengijinkan Kurnia pulang jam 4 walaupun potong gaji. Ini membuat Kurnia hampir gila, ia tak tahu bagaimana cara menghadapi Arga lagi.
Jika Kurnia mengadu kepada Fina dan minta tolong kepadanya, kakak beradik itu pasti akan bertengkar. Kurnia tidak mau mereka bertengkar karena dirinya, jadi ia mengurungkan niatnya itu.
"Aha!"
Muncul sebuah ide di benak Kurnia, kemudian ia mengangkat teleponnya ke daun telinganya. Ia seperti menelepon seseorang.
"Halo Nia, ada apa?" tanya seseorang didalam telepon yang ternyata adalah Fina.
__ADS_1
"Fin, kamu tahu gak kesukaan dari Kak Arga?" tanya Kurnia.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Kamu jatuh cinta sama Kak Arga ya Nia?"
Tak disangka Fina malah salah sangka kepada Kurnia.
"Bukan gitu Fin, tadi aku buat dia marah jadi sekarang ingin membujuknya. Udah itu saja, kamu jangan salah faham ya Fin," kata Kurnia buru-buru menjelaskan.
"Yahhh... kirain beneran suka. Gagal deh dapat calon ipar yang baik," kata Fina terdengar kecewa.
"Ishh Fina ih," kata Kurnia tersipu malu.
"Oke kamu kasi aja dia Cokelat. Biasanya kalau dia marah, aku kasi Kak Arga cokelat. Kamu coba saja siapa tahu berhasil," kata Fina menyarankan.
"Oke. Terimakasih sahabatku yang cantik," kata Kurnia memuji Fina.
"Iya sama-sama".
Kemudian Kurnia menutup teleponnya dan bergegas untuk ke minimarket terdekat. Untungnya dekat-dekat perusahaan ada minimarket, jadi Kurnia tidak perlu repot untuk mencari kendaraan.
Setelah selesai membeli cokelat, ia kemudian pergi ke ruangan Arga dengan membawa sebatang cokelat S*LVERQ*EN.
"Bos saya ada cokelat, apa bos mau?" Kurnia menawarkan cokelatnya kepada Arga agar dia tidak curiga.
"Enggak," jawab Arga singkat.
Padahal Arga sangat menginginkan cokelat tersebut, tetapi ia gengsi.
"Yakin bos? Ini enak loh," kata Kurnia menggoda Arga.
"Iya yakin," kata Arga.
Arga tak henti-hentinya menelah air ludahnya ketika melihat Kurnia membuka bungkus cokelatnya.
"Mmm... Asisten Kurnia, saya beli cokelat kamu itu ya," kata Arga yang sudah tak tahan dengan cokelat yang berada di genggaman Kurnia.
Memang cokelat adalah makanan favorit Arga sedari kecil. Arga sangat menyukai makan-makanan manis.
"Tidak perlu. Lebih baik kita barter saja," kata Kurnia.
"Barter? Maksudnya?" tanya Arga yang tak paham.
__ADS_1