
Sesampainya di pemakaman, Kartika berlutut dimakam sahabatnya sambil menangis terisak-isak.
"Can, maafin aku ya. Aku berdosa banget sama kamu, padahal kamu anggap aku sebagai saudaramu sendiri. Tapi aku malah iri terhadapmu, aku menyesal Can maafkan aku. Dan ini anak kembarmu yang selalu kamu harapkan itu," kata Kartika sembari menarik tangan Bara.
"Semoga kamu bisa melihat Bara dari sana ya, dan semoga kamu tenang di sana," kata Kartika.
"Bu, aku Bara. Aku anak kembar Ibu, maafin Bara tidak pernah merawat Ibu semasa hidup Ibu. Semoga Ibu tenang di sana ya Bu," kini giliran Bara yang berbicara.
"Sudah-sudah. Kalian jangan merasa bersalah lagi, kalau kalian seperti ini terus nanti Ibu dan Ayah tidak akan tenang di sana," ucap Arga menenangkan Kartika dan Bara.
Sesudah menjenguk pemakaman kedua orang tua Arga, mereka semua pun kembali ke mobil untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Arga, maaf ya saya tidak bisa meninggalkan Ibu saya yang sudah merawat saya dari kecil. Semoga kamu tidak keberatan ya," ucap Bara merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Kita saudara meskipun tinggal berjauhan tidak akan memotong tali persaudaraan kita dan saya tidak mempermasalahkan itu," ucap Arga.
"Iya kata Kak Arga benar. Tapi Kak Bara sering-sering ke rumah ya tengokin Fina," ucap Fina.
"Iya Fina adikku. Aku merasa senang memiliki saudara seperti kalian," ucap Bara sambil mengelus rambut Fina.
Fina yang dielus rambutnya tersenyum, dia memang sangat suka rambutnya di elus oleh seseorang karena menurut dia itu adalah tanda kalau orang itu sayang sama dia.
Bara dan Kartika pamit pergi kepada Arga, Fina dan Kurnia. Mereka memandangi mobil Bara yang terlihat sudah jauh.
"Fin, kamu sadar gak tadi?" tanya Kurnia secara tiba-tiba membuat Fina bingung. Bahkan Arga juga di buat bingung olehnya.
"Sadar apa Nia?" tanya Fina.
Arga ikut memperhatikan.
"Tadi kamu tidak bereaksi ketakutan ketika Kak Bara menyentuh kepalamu. Apa kamu sudah sembuh total?" tanya Kurnia.
"Eh benar juga ya? Kok bisa? Berarti aku sudah sembuh dong Nia?" Fina kegirangan dan mulai sadar bahwa dirinya sudah tidak merasakan trauma itu lagi bahkan dia sudah bersikap seperti biasanya.
Padahal dalam waktu sehari, Fina sudah bisa di sembuhkan oleh Kurnia.
"Hebat kamu Kurnia. Sebagai imbalannya saya akan memberikan kamu satu mobil sebagai hadiah terimakasih. Tolong diterima ya," kata Arga yang ikut senang.
"Tidak usah Kak, saya tidak mengharapkan imbalan. Lagipula perjanjiannya tidak seperti itu," tolak Kurnia.
"Gak Nia, kamu harus terima kebaikan Kak Arga. Anggap saja ini rejeki kamu," ucap Fina membantu Kakaknya membujuk Kurnia.
__ADS_1
"Tapi untuk saat ini aku tidak memerlukan mobil," ucap Kurnia.
"Kalau seperti itu ganti aja pakai uang, kan lumayan tuh. Gimana Nia?" tanya Fina.
"Iya deh boleh," kata Kurnia menerima pemberian dari Arga.
'Lumayan sih untuk jaga-jaga saat perlu. Kalau aku tidak memiliki apa-apa untuk di andalkan bagaimana aku bisa membalas dendam," batin Kurnia.
"Kamu punya ATM?" tanya Arga.
"Mmm ada sih Kak," sahut Kurnia.
"Minta no rekeningnya ya, aku transfer biar lebih aman," ucap Arga.
Kurnia memberikan nomor rekeningnya kepada Arga. Setelah itu Arga mentransfer sejumlah uang kepada Kurnia.
"Sudah ya," kata Arga setelah selesai mentransfernya.
"Astaga, kok banyak banget Kak?" Kurnia terkejut melihat angka di M-bankingnya.
"Itu tidak seberapa, hanya 1M saja. Fina lebih berarti daripada uang itu," kata Arga.
"Terimakasih kalau seperti itu Kak," ucap Kurnia.
"Yaudah kita pulang yuk," ajak Fina.
Arga dan Kurnia menjawabnya dengan à dan langsung naik ke mobil.
****
"Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa sudah tenang?" tanya Bara sesampainya di rumah.
"Iya sudah Bar, makasih ya ka ,"ucap Kartika.
"Iya sama-sama Bu," sahut Bara.
Kringgg!!
Telepon Bara berdering, ia segera menjawab teleponnya setelah minta izin kepada Ibunya.
"Hallo Pak Anto, ada apa?" tanya Bara setelah menjawab telepon dari Anto.
__ADS_1
"Hehe.. iya Tuan Bara. Saya mau bertanya soal kerjasama kita," kata Anto.
"Oh itu, Pak Anto datang saja ke kantor saya ya sekarang," kata Bara.
"Oh baik, baik Tuan," sahut Anto yang terdengar gembira.
Anto berharap kerjasamanya akan berjalan dengan lancar. Ia bergegas pergi ke kantornya Bara, tapi sebelum itu dia menjanjikan hadiah kepada anak dan istrinya sepulang dari kantornya Bara. Anto sudah sangat yakin bahwa kontraknya akan di tandatangani oleh Bara dan bisa mendapatkan untung besar dari Bara.
***
Sesampainya di kantor Bara, Anto langsung di antar ke ruangannya Bara oleh Dika yang merupakan asisten Bara.
"Silahkan duduk Pak Anto," ucap Bara sopan.
Anto duduk dengan tergesa-gesa sehingga membuat Bara semakin tidak menyukainya.
"Jadi bagaimana Tuan? Saya sudah bawa dokumennya," kata Anto nyengir.
"Mana Dokumennya?" tanya Bara.
Anto memberikan dokumen yang dimaksud Bara, kemudian Bara sekilas membacanya lalu merobeknya sehingga membuat Anto terpelongo.
"Tu-tuan Bara, kenapa kertasnya di robek?" tanya Anto yang masih memperlihatkan perasaan terkejutnya.
"Kenapa? Bukankah Pak Anto tidak berhasil membuat Kurnia jatuh cinta kepada saya?" kata Bara menyahut.
"Ta-tapi, saya sudah membuat kalian tidur seranjang kan. Apa mungkin tidak terjadi sesuatu di sana? Kenapa Tuan tidak memanfaatkan situasi itu?" tanya Anto penasaran.
Karena yang dia bayangkan kalau Bara akan melakukan sesuatu kepada Kurnia setelah Bara bangun. Tetapi dia tidak tahu kalau Arga sudah merusak rencananya, dan bahkan semua berita yang mengenai Kurnia dan Bara juga sudah di hapuskan. Anto benar-benar ketinggalan informasi.
"Kenapa? Apa Bapak kira saya orang bejat seperti Anda?" sahut Bara dengan pertanyaan yang sudah tentu membuat hati Anto tertusuk tajam, apalagi Anto merupakan orang yang mudah tersinggung.
"Sekarang silahkan Bapak keluar dari ruangan ini dan tunggu polisi datang menjemput Anda," ucap Bara mengusir Anto.
"Tuan saya mohon jangan laporkan saya ke polisi Tuan," Anto memohon di hadapan Bara, tetapi Bara tak mempedulikannya.
"Maaf saya tidak bisa mengubah keputusan Anda, lebih baik Anda keluar sekarang," ucap Bara.
"Tapi Tuan, saya akan berusaha membuat Kurnia jatuh cinta kepada Anda atau Tuan ambil putri saya dua-duanya juga tidak masalah. Tapi saya mohon jangan laporkan saya ke polisi," kata Anto.
Bara tidak habis fikir dengan perlakuan Anto, bahkan seekor binatang pun tidak akan rela memberikan anaknya kepada binatang lain. Tetapi, Anto malah menggunakan segala cara untuk meraih apapun yang dia mau sekalipun itu mengorbankan anak dan keluarganya.
__ADS_1
"Dika, usir dia!" perintah Bara kepada asistennya.
Dika menyeret Anto dengan sekuat tenaga, karena Anto meronta-ronta saat di seret keluar. Untung saja tenaga Dika lebih besar daripada Anto sehingga dia bisa menangani masalah itu.