
"Video apa sih Fin? Kok semangat banget kamu?" tanya Kurnia yang di tarik oleh Fina untuk cepat-cepat keluar dari kamar.
"Kamu duduk dulu di sini," kata Fina menyuruh Kurnia duduk di sebelahnya.
"Kak Arga juga sini!" kata Fina menyuruh Arga duduk di sebelah kirinya, sedangkan Kurnia di sebelah kanan.
Video sudah siap diputar oleh Fina. Arga dan Kurnia memperhatikan layar hp dengan serius karena penasaran.
"Loh itu kan Karina?" tanya Kurnia setelau videonya di putar.
"Udah diam saja dulu, ada rahasia besar nih," kata Fina.
Kurnia dan Arga melanjutkan menonton.
Beberapa menit kemudian...
"Oh ternyata memang dia pelakunya, tapi tujuan dia apa? Apa karena ingin menjodohkan aku sama Bara?" tanya Kurnia kepada dirinya sendiri.
"Apapun alasannya dia sudah sangat keterlaluan. Ini tidak bisa di biarkan, saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Terlebih lagi ini merembet ke adik saya," kata Arga memendam amarah.
"Saya minta maaf ya Kak Arga, karena saya Fina ikut menjadi korban," kata Kurnia yang tidak enak hati.
"Bukan kamu yang pantas minta maaf. Seharusnya ayah kamu, saya akan membiarkan dia merenungkan kesalahannya di dalam sel," ujar Arga.
Kemudian Arga bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Fina juga Kurnia ke kantor polisi dengan membawa barang bukti yang berupa rekaman di handhphone Fina.
Sesampainya di kantor polisi Arga membuat laporan, mereka bertiga menjadi saksinya.
"Pelaku ini sudah ada yang membuat laporannya Pak, namanya Pak Bara. Dia juga melaporkan orang ini dengan kasus yang sama,"ujar polisi tersebut.
"Bara!?" Kurnia terkejut mendengarnya.
'Bagaimana dia bisa tahu kalau ayahku pelakunya? Apa waktu itu dia bertanya tentang ayah karena hal ini?' batin Kurnia.
"Kalau seperti itu tolong di proses secepatnya ya Pak laporannya, terimakasih!" kata Arga kemudian meninggalkan kantor polisi diikuti oleh Fina dan Kurnia.
"Kenapa Bara bisa tahu kalau Anto pelakunya ya?" tanya Arga kepada Fina dan Kurnia.
"Saya juga tidak tahu Kak, tapi waktu saya ke kantor Bara saya bertemu dengan ayah saya di sana. Saya tidak tahu ayah saya mau ngapain di sana," kata Kurnia.
__ADS_1
"Kita harus bertanya langsung kepada Bara. Kurnia kamu coba telepon Bara suruh dia ke rumah saya, bilang saja ada urusan penting," ucap Arga.
"Kak bukankah Kurnia sudah bukan asisten Kak Arga lagi, kenapa Kak Arga masih nyuruh-nyuruh Kurnia?" tanya Fina.
"Kamu tahu darimana?" Arga balik bertanya.
"Gak penting!" kata Fina kesal.
"Udah-udah, tidak apa-apa Fin. Toh ini juga masalahku kan, jadi gak apa-apa Kak Arga suruh-suruh aku. Kalian jangan berdebat lagi ya," kata Kurnia melerai pertengkaran adik kakak itu.
Arga dan Fina menjawab dengan anggukan, barulah Kurnia bisa menelepon Bara dengan tenang.
Kurnia menyampaikan pesan dari Arga, setelah itu langsung menutup teleponnya.
"Sudah Kak, tapi dia bisa sore jam 4," ucap Kurnia.
"Tidak apa-apa Kurnia, yang penting dia datang," kata Arga.
Sesampainya mereka di rumah, Arga melihat piring-piring yang masih berantakan di atas meja. Dia lupa dirinya tidak mempunyai pembantu, seharusnya dia tidak langsung main tinggal saja.
"Sudah Kak, biar saya saja yang bereskan. Kan saya numpang di sini," kata Kurnia yang kembali merasa sungkan.
"Iya bener tuh Nia, kamu gak usah terlalu baik sama Kak Arga. Dia aja gak baik sama kamu," ucap Fina.
"Gak boleh gitu lah, udah Kak biar saya saja. Kak Arga duduk saja," kata Kurnia lagi.
Tapi terus-terusan Arga menolak, mendengar mereka berdebat Fina mencuri kesempatan.
"Udah-udah, kalian berdua aja yang nyuci biar adil. Aku tinggal ke kamar dulu ya," kata Fina membiarkan Arga dan Kurnia berduaan.
Suasana menjadi canggung, terlebih lagi mereka suka sama suka hanya saja tidak ada yang mau mengaku duluan.
'Duh, Fina kenapa pergi sih kan aku jadi gerogi kalau kayak gini' batin Kurnia.
"Kurnia kamu duduk aja, ini biar Kakak yang lanjutin," ucap Arga.
"Ba-baik Kak," kata Kurnia gerogi.
Saking groginya dia sampai terpeleset akibat percikan air keran yang menetes ke lantai. Arga dengan cepat menangkapnya agar Kurnia tidak terjatuh ke lantai. Tangan basahnya Arga menembus ke pakaian yang dikenakan oleh Kurnia.
__ADS_1
Jantung Arga berdetak dengan kencang, karena ini pertama kalinya dia menyentuh Kurnia. Selain itu juga wajah mereka sangat dekat, ingin rasanya Arga melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan. Tetapi dia tidak ingin Kurnia membencinya, jadi dia singkirkan pikiran buruk itu.
"Ma-makasi Kak Arga," kata Kurnia tersenyum malu.
Jantungnya ikut berdebar-debar, dengan langkah malu dia meninggalkan Arga di sana.
"Kamu cantik Kurnia, kapan aku bisa memilikimu," ucap Arga ketika Kurnia sudah pergi jauh meninggalkannya.
Sedangkan di kamar Fina, Kurnia menampakkan wajah yang memerah akibat malu. Hal tersebut membuat Fina curiga terjadi sesuatu di antara mereka.
"Kurnia, kamu kenapa?" tanya Fina penasaran.
"Ti-tidak apa-apa Fin," Kurnia masih tergagap.
"Kok mukamu merah? Ayo jujur habis ngapain sama Kak Arga," goda Fina membuat Kurnia semakin malu.
"A-aku tadi terpeleset Fin, dan Kak Arga nangkap aku. Aku degdegan banget Fin. Tolong aku, malu aku Fin sama kakakmu," kata Kurnian sambil menutup wajahnya karena malu.
"Serius Nia? Bagus dong itu," kata Fina memberikan dukungan.
"Kok bagus sih Fin, aku malu banget tahu," ucap Kurnia yang masih risau.
"Ishh apaan sih kamu Nia, gitu aja malu. Itu langkah awal kamu bisa deketin Kak Arga tahu," kata Fina.
"Tapi kejadian itu hal yang sangat memalukan, kesan pertama sudah membuat diri ini malu bagaimana kelanjutannya Fina," Kurnia terus merengek kepada Fina karena merasa malu kepada Arga.
"Udahlah Kurnia, aku yakin Kak Arga pasti menyukai kamu. Apalagi kalau Kak Arga tahu reaksi kamu seperti ini pasti dia ketawa," kata Fina.
"Tapi aku gak mau di ketawain sama Kak Arga," kata Kurnia.
"Kamu! Awas kamu bilang sama Kak Arga, aku gak mau lagi temenan sama kamu," ancam Kurnia.
"Kamu ini, cerita sama adiknya berani tapi sama kakaknya takut," ejek Fina kemudian dia menertawakan Kurnia.
"Oh jadi Kurnia juga suka sama aku?" batin Arga senang yang sudah menguping pembicaraan Fina dan Kurnia sejak tadi.
Dia penasaran reaksi Kurnia, apalagi Kurnia sahabatan dengan adiknya sudah pasti Kurnia akan bercerita. Jadi Arga memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka walau terdengar samar-samar.
Dia akhirnya memutuskan untuk menyusun rencana, dan memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada Fina.
__ADS_1
Dia tidak menyangka kalau Kurnia juga menyukai dirinya, Arga sangat senang mendengarnya setidaknya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.