
"Kurnia, Fina Kakak mempunyai rencana yang akan disampaikan kepada kalian, semoga kalian setuju dengan rencana Kakak," Arga membuka pembicaraan setelah berada diruang tamu.
"Rencana apa Kak?" tanya Kurnia yang begitu penasaran.
"Kakak rencana mau menginap di hotel beberapa hari karena ada urusan. Kurnia kamu tinggal di sini sama Fina ya," Arga menjelaskan rencananya.
Matanya tertuju pada kedua wanita yang berada di depannya itu.
"Ada urusan apa Kak Arga? Aku boleh ikut gak?" tanya Fina.
"Tidak. Kamu tidak boleh ikut karena ini sangat berbahaya," Arga menolak adiknya ikut.
Wajah Fina yang tadinya ceria berubah menjadi cemberut, Fina kesal setiap dia ingin ikut Kakaknya kemana-mana selalu di larang.
"Kenapa sih Kak? Aku kan pingin jalan-jalan sama Kak Arga. Dari dulu Kak Arga melarang aku ikut Kak Arga, bahkan kita jarang keluar rumah bareng," Fina melampiaskan rasa kesal yang ia pendam sejak lama.
"Bukan gitu Fin, Kakak gak mau kamu jadi sasaran orang jahat. Harus berapa kali sih Kak Arga bilang sama kamu? Kamu bukan anak kecil tiap hari harus di ingatin," bentak Arga.
"Kak Arga tahu sendiri aku bukan anak kecil, tapi Kak Arga selalu melindungi aku layaknya anak kecil. Aku udah besar Kak, aku udah kuliah Kak Arga tidak perlu khawatir sama aku lagi. Aku pasti bisa jaga diri kok," teriak Fina tak terima dengan jawaban Arga.
"Fina gak gitu, kamu ngerti Kakak dong. Nanti kalau kamu ikut, Kak Arga juga yang repot," Arga memohon kepada Adiknya agar dia mengerti apa yang dimaksudkan Arga.
"Ohh, jadi aku cuma ngerepotin Kak Arga aja? Kalau dari dulu seperti itu kenapa Kak Arga gak bilang? Aku bisa jaga diri aku kok,"
"Fina Cukup!" Arga kembali membentak Fina yang membuat gadis itu meneteskan air mata dan pergi ke kamarnya.
"Kak Arga, seharusnya Kak Arga jangan terlalu mengekang Fina seperti itu. Saya tahu Kak Arga sangat menyayangi Fina, tetapi coba Kak Arga lihat pertumbuhan Fina. Sejak kecil ia mungkin dimanja oleh ibu dan ayahnya dan juga ada Kak Arga yang sangat menyayanginya. Sehingga Fina sedikitpun tidak akan mendapat masalah, tetapi coba sekarang Kak Arga yang berada diposisi Fina. Apa Kak Arga akan merasa berguna untuk orang sekitar? Melihat adik atau kakak yang kesusahan diluar tapi Kak Arga dipaksa tinggal dirumah, apa Kak Arga nyaman seperti itu?" Kurnia menasehati Arga panjang lebar.
__ADS_1
Saat ditanya seperti itu, Arga hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi, karena menurut Arga perkataan Kurnia memang ada benarnya. Adiknya sudah dewasa, seharusnya dia tidak memanjakannya lagi. Sudah saatnya Fina untuk dilepas, dalam artian melakukan hal yang dia suka, cukup ajarkan dia bertanggungjawab atas konsekuensi yang ia dapatkan.
"Kak Arga, terkadang kita sangat menyayangi seseorang. Tetapi cara kita melakukannya itu salah dimata orang yang kita sayang. Sayang dengan mengekangnya itu tidak akan menghasilkan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan. Cara satu-satunya adalah melepaskannya dan diam-diam melindungi," ucap Kurnia lagi.
"Yaudah Kak Arga, Saya mau menemui Fina dikamar. Kak Arga tenangkan diri Kakak dulu," kata Kurnia kemudian pergi meninggalkan Arga yang termenung disana.
Arga sangat sulit melakukan hal-hal yang dikatakan Kurnia. Arga membenarkan nasehat yang diberikan Kurnia, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Rasa khawatirnya selalu muncul setiap dia ingin membebaskan Fina dari kekangannya.
"Kamu gak tahu Kurnia, jika sampai terjadi apa-apa dengan Fina aku akan merasa bersalah sama Ayah dan Ibu. Mereka menitipkan Fina kepadaku, dan juga aku berjanji untuk menjaganya," gumam Arga.
Sedangkan disana, terdengar Isakan tangis yang didengar Kurnia dari balik pintu kamar Fina. Kurnia membuka pintu dan mendapati Fina yang sedang duduk di tempat tidur dan menundukkan kepalanya.
"Fin, udah jangan nangis. Kak Arga sayang sama kamu makanya dia berbuat seperti itu sama kamu," ucap Kurnia menenangkan Fina.
Kurnia duduk di samping Fina yang membuat Fina mendongakkan kepalanya dan menghapus air matanya. Gadis itu memeluk Kurnia, seakan butuh sandaran untuk menenangkan dirinya.
"Aku tahu Nia, Kak Arga sayang sama Aku. Tapi aku mau dia tahu kalau aku tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil terus," ucap Fina yang masih tidak terima.
"Yaudah, kamu tenangin diri kamu sendiri. Kak Arga juga masih tenangin diri, kamu kalau udah tenang temui Kak Arga bicara baik-baik sama dia," ucap Kurnia.
"Iya Nia, makasi ya Nia," ucap Fina yang masih sesenggukan.
"Iya sama-sama Fina,"
Terkadang kita tidak tahu orang yang benar-benar peduli dan sayang sama kita akan melakukan segala cara untuk melindungi kita dari sekian banyak masalah. Rela dibenci sama orang yang dia sayang, karena hal yang paling penting bagi dirinya adalah keselamatan kamu. Jadi jangan sia-siakan orang yang sayang sama kamu ya, walaupun itu saudara kamu sendiri.
Sayang tidak harus diungkapkan kepada pacar, tetapi keluarga, teman dan saudara juga perlu. Dan itu tidak ada yang melarangnya.
__ADS_1
^^^Semangat ya,^^^
...****************...
Setelah emosinya mereda, Fina menghampiri kakaknya ditemani oleh Kurnia. Melihat Arga yang sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya, Fina menoleh ke belakang ke arah Kurnia, ia merasa takut menghampiri kakaknya. Tetapi Kurnia menyemangatinya dengan suara pelan.
"Kak!" Fina memanggil Arga dengan suara pelan.
"Ada apa Fin?" tanya Arga tanpa menoleh ke arah Fina.
"Aku mau ngomong," kata Fina gugup.
"Ngomong aja," jawab Arga.
Melihat Fina dan Arga akan berbicara serius, Kurnia pergi ke kamarnya seolah-olah memberikan ruang untuk mereka.
"Kak aku minta maaf ya atas kejadian tadi," kata Fina sambil duduk di samping kakaknya.
Arga menolehkan wajahnya ke arah Fina, kemudian membelai rambut adiknya.
"Tidak apa-apa Fin, seharusnya Kakak tidak terlalu mengekang kamu. Tapi tetap saja untuk masalah kali ini kamu jangan ikut, kamu tinggal dirumah sama Kurnia. Setelah kakak menyelesaikan masalah ini, Kakak janji akan mengajak kamu jalan-jalan," ucap Arga.
Arga sudah menyadari perbuatannya, dia tidak ingin terus-terusan menjadikan adiknya seperti anak kecil yang harus dilindungi. Karena jika Arga sudah menikah, otomatis tanggungjawab utamanya adalah anak istrinya bukan adiknya.
"Iya deh Kak, makasi ya Kak," kata Fina senang.
"Iya sama-sama,"
__ADS_1