Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi

Bertemu Jodoh Setelah Bereinkarnasi
Bab 18 Pengakuan Kurnia


__ADS_3

Di luar perusahaan Kurnia berpapasan dengan Anto yang merupaka ayah kandungnya Kurnia.


"Kurnia, ngapain kamu di sini?" tanya Anto.


"Bukan urusan anda," sahut Kurnia lalu melangkah pergi.


Anto tidak lagi mengejar karena ia terburu-buru.


"Selamat sore Tuan Bara," sapa Anto ketika melihat Bara berdiri di depan resepsionis.


"Iya Pak Anto, sore," sahutnya.


Pandangan matanya masih tertuju pada Kurnia yang pergi.


"Tuan Bara lihat siapa?" tanya Anto.


"Pak Anto kenal sama wanita tadi?" tanya Bara.


"Maksud Tuan Bara, Kurnia?" tanya Anto.


"Iya," Bara menyahut singkat.


"Dia anak saya Tuan," sahut Anto.


Anto tidak menjelaskan tentang putusnya hubungan antara anak dan ayah itu. Dia tidak mau jika namanya menjadi jelek di depan publik, terlebih lagi di depan Bos yang akan ia ajak bekerjasama.


"Mari keruangan saya Pak Anto," ajak Bara.


Mereka berdua pergi ke ruangan Bars untuk mendiskusikan kerjasama mereka.


"Pak Anto, saya memberikan anda satu syarat untuk saya menerima kontrak ini. Jika Bapak berhasil memenuhi syarat ini, saya akan menyetujui untuk bekerjasama dengan perusahaan Pak Anto," jelas Bara tanpa basa basi.


"Kalau boleh tahu syaratnya apa ya Tuan?"


"Syaratnya cukup mudah, kamu hanya perlu membuat Kurnia jatuh cinta kepada saya dan mengatur perjodohan kami. Tapi Kurnia tidak boleh tahu kalau ini semua permintaan saya," ujar Bara.


MIRING


'Mampus aku. Aku kan sudah putus hubungan sama Kurnia, manamungkin Kurnia mau aku jodohkan sama Tuan Bara. Terakhir kali bertemu kesannya masih cuek sama aku,' batin Anto.


"Pak Anto," panggil Bara.


"Ah iya Tuan, maaf saya melamun. Tapi apa tidak ada syarat lain selain itu Tuan?" Tanya Anto.


"Tidak!" tegasnya.


"Ya sudah Tuan, saya akan usahakan demi kontrak kita," ucap Anto.


"Kalau seperti itu, saya undur diri dulu Tuan Bara " kata Anto.


****


Di waktu yang bersamaan, Kurnia masuk ke dalam mobil Arga dan melaporkan hasil penyelidikannya.

__ADS_1


"Bos, tanda yang di miliki Bara sama persis dengan milik Bos hanya saja letaknya yang berbeda. Milik Bara berada di tangannya tepatnya di tangan kanannya," kata Kurnia.


"Oke, nanti akan saya selidiki lebih lanjut. Terimakasih Kurnia kamu sudah bekerja keras," kata Arga.


"Iya Bos sama-sama,"


"Besok saya akan mulai menginap di hotel, kamu tolong jaga baik-baik Fina. Jangan sampai ada orang yang menyakitinya, jika ada orang yang mencurigakan hubungi saya secepatnya," Arga memberikan perintah kepada Kurnia.


Sambil menyetir mereka berbincang-bincang. Terlihat Arga yang menampakkan wajah khawatir, dia tidak ingin adiknya kenapa-kenapa.


"Bos berapa hari menginap di sana?" tanya Kurnia.


"Mungkin butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikan tugas ini," sahut Arga.


"Kalian berdua jangan sampai ada yang terluka setelah saya tinggal pergi ya, terlebih lagi kamu dan Fina sudah pernah tersorot kamera," kata Arga.


"Baik Bos, saya pasti akan menjaga Fina dengan baik,"


Kringgg....Kring....Kringgg...


"Halo, ada apa Fin?" tanya Kurnia mengangkat teleponnya yang berdering.


"Kalian kemana? Kok aku bangun tidur tidak ada kalian?" tanya Fina.


"Oh aku pergi keluar sama Kak Aldi, aku gak tega bangunin kamu soalnya kamu baru saja tertidur," ucap Kurnia.


"Sebentar lagi kami pulang," kata Arga yang ikut nimbrug karena Kurnia mengaktifkan loudspeakernya.


"Iya deh Kak Arga, selamat berkencan ya," goda Fina yang langsung mematikan teleponnya.


...****************...


"Udah puas kencannya?" ejek Fina.


"Eh jangan asal ngomong Fin," kata Kurnia malu.


"Kami keluar karena ada urusan pekerjaan, emang kamu masih kecil mikirin pacaran terus. Belajar yang rajin," kata Arga.


"Cieee kompak, hahah," Fina kembali menggodanya membuat Arga dan Kurnia menampakkan wajah merahnya.


"Nia ke kamar yuk," ajak Fina.


"Eh sebentar dulu, kakak mau ngomong sama kamu," Arga menahan Fina.


"Ngomong apa Kak? Serius amat mukanya," sahut Fina.


Arga pun menceritakan masalah dirinya yang akan tinggal di hotel dalam beberapa hari kepada adiknya. Fina akan ditemani oleh Kurnia di rumah.


"Tapi Kak Arga, aku hampir lupa. Tadi Tuan Reza mengundang Kak Arga bahwa anaknya berulang tahun, dia harap Kak Arga bisa hadir," kata Fina menyampaikan pesan pamannya.


"Maksud kamu Indri yang berulang tahun? Kapan?" tanya Arga.


"Iya Kak, besok ulang tahunnya. Kak Arga bisa datang tidak?"

__ADS_1


"Ya sudah besok kita bertiga ke sana saja, lusa baru kakak mengurus masalah ini," kata Arga.


"Saya ikut Bos?" tanya Kurnia.


"Iya ikutlah, kamu kan asisten saya," kata Arga.


"Baik Bos,"


"Ya udah kalian boleh ke kamar kalian, istirahat sana. Fina jangan ganggu Kurnia ya, kalau kamu ganggu Kak Arga pisahin kamar kalian," ancam Arga.


"Cie..ciee yang udah mulai perhatian," ejek Fina.


"Iya lah, dia kan asisten Kakak. Jadi istirahatnya harus cukup, kamu mau sahabat yang kamu sayangi itu sakit?" Arga mencoba mencari alasan walaupun sebenarnya dia sangat khawatir Kurnia kekurangan waktu untuk istirahat.


"Iya deh Kak percaya," kata Fina.


Arga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya, rasanya ingin sekali minta bantuan Fina untuk membuat Kurnia jatuh cinta padanya tetapi dia masih malu.


Di dalam Kamar Fina dan Kurnia...


"Fin, boleh nanya gak?" tanya Kurnia.


"Boleh, mau nanya apa Nia?"


"Tuan Reza itu siapa? Sepertinya aku pernah mendengarnya," ucap Kurnia.


"Beliau teman ayahku dan ibuku, dulu beliau sering membantu Kak Arga mengurus perusahaan sampai di titik ini," kata Fina.


"Maka dari itu Kak Arga sangat menghormatinya, sudah seperti orang tua kami sendiri. Bahkan jika Kak Arga ada urusan penting, Kak Arga rela mengundurnya karena Tuan Reza dan istrinya lah yang paling berjasa setelah Ayah dan Ibuku pergi," imbuhnya.


Kurnia hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


"Eh tapi kamu jangan cemburu ya nanti kalau Indri anaknya Tuan Reza bergelayutan di tangan Kak Arga, karena Indri sudah dianggap seperti adiknya sendiri," kata Fina.


"Kamu apa-apaan sih, ngapain juga aku cemburu. Aku kan bukan pacar kakakmu," Kurnia menampakkan wajahnya yang merah, membuat Fina yang memperhatikannya semakin menggodanya.


"Berarti kalau kamu jadi pacar kakaku, kamu cemburu gitu?" tanya Fina.


"Iiiii..Yaaa,, ah aku mau tidur Fin," Kurnia merebahkan badannya diatas tempat tidur dan menutup wajahnya yang merah.


"Bilang aja kamu suka kan sama Kak Arga," Fina kembali menggodanya dan berusaha mengangkat bantal yang menutupi wajah Kurnia.


"Enggak Fin, aku mau tidur aja," kata Kurnia mengangkat bantalnya.


"Kalau kamu gini terus, aku laporin ke Kak Arga lho biar bisa pisah kamar sama kamu," ancam Kurnia.


"Ciee udah bisa berlindung nih dibelakang Kak Arga," Fina menggoda lagi.


"Tau ah, aku mau keluar laporin kamu ke Kak Arga," ancam Kurnia lagi.


"Yaudah sana," usir Fina.


"Ishh kamu apaan sih Fin, udah dong jangan begitu," rengek Kurnia.

__ADS_1


"Makanya ngaku dulu kamu suka kan sama Kak Arga?"


Kurnia masuk dalam perangkap Fina, dia sudah tidak tahan lagi dan akhirnya mengaku jika sedari dulu dia sangat menyukai Arga.


__ADS_2