
"Udah Kak?" tanya Fina yang melihat Arga kembali ke kamarnya.
"Udah!" jawab Arga kesal.
"Kok Kak Arga terlihat kesal?" tanya Fina yang bingung.
Ia mengira mereka akan melakukan adegan romantis, tetapi malah sebaliknya.
"Gak apa-apa. Kamu boleh keluar, Kakak mau istirahat," kata Arga.
"Iya udah deh Kak," ucap Fina dan keluar dari kamarnya.
"Apa Kak Arga cemburu ya?" batinnya.
"Kak Arga cemburu ya sama Kurnia?" tiba-tiba saja Fina balik menengokkan kepalanya di pintu kamar Arga.
"Kamu apaan sih, cemburu kenapa juga," sahut Arga yang terkejut.
"Ciee cemburu ya? Ngaku aja, siapa tahu Fina bisa bantu," kata Fina sambil mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat.
"Enggak Fin, udah sana kamu keluar jangan ganggu Kakak istirahat," usir Arga.
"Iya deh Kak," sahut Fina dan kemudian pergi meninggalkan Arga dikamarnya.
Fina menuju ke kamarnya mencari Kurnia penasaran dengan apa yang terjadi.
"Nia, tadi kamu ngapain sama Kak Arga? Kok kayaknya Kak Arga kesal gitu?" tanya Fina.
Sebenarnya Kurnia juga tidak tahu mengapa Arga kesal kepada dirinya saat minta izin keluar jalan-jalan bersama teman cowoknya.
"Aku juga nggak tahu Fin, tadi aku cuma ngelakuin rencana yang kamu berikan," ucap Kurnia bingung.
Fina yang mulai mengerti dengan apa yang terjadi manggut-manggut sambil tersenyum.
"Kamu berhasil Nia," ucapnya kegirangan.
"Berhasil apa Fin?" tanya Kurnia yang tidak mengerti.
"Kamu berhasil bikin Kak Arga cemburu," jelas Fina.
"Masa sih?" tanya Kurnia yang tidak percaya.
"Iya Nia, buktinya Kak Arga marah saat kamu ingin pergi jalan-jalan sama pria lain,"
"Benar juga sih Fin, tapi apa iya Kak Arga juga suka sama aku? Siapa tahu dia cuma khawatir sama aku, sama seperti dia mengkhawatirkan kamu," ucap Kurnia yang masih ragu-ragu .
"Gak mungkin Nia, Kak Arga selama ini tidak pernah mengkhawatirkan wanita lain," Fina mencoba meyakinkan Kurnia.
__ADS_1
"Terus Indri?" tanya Kurnia.
"Ah kamu Nia, masih saja cemburu dengan Indri. Kak Arga perhatian dengannya karena dia menghormati Om Reza karena sudah membantu kami," sahut Fina.
"Tapi aku takut, Om Reza berniat menjodohkan Indri sama Kak Arga Fin," kata Kurnia cemas.
"Udah Nia, kamu jangan berfikiran yang tidak-tidak. Intinya kamu sudah berhasil membuat Kak Arga khawatir sama kamu," kata Fina.
TING..TING..
Kurnia mengambil handphonenya yang berbunyi, pertanda ada pesan masuk.
Dia kebingungan karena tiba-tiba Arga menyuruhnya masuk ke kamarnya.
"Kenapa Nia?" tanya Fina yang melihat raut wajah Kurnia yang aneh.
"Kak Arga suruh aku ke kamarnya Fin, dia gak mungkin ngapa-ngapain aku kan?" kata Kurnia cemas.
"Aku temani ya?" Fina menawarkan dirinya.
"Tapi Kak arga gak ngebolehin kamu ikut Fin, soalnya dia mau bahas kerjaan takut terganggu katanya," kata Kurnia.
"Yaudah kamu ke sana saja, Kak Arga gak mungkin ngapa-ngapain kamu kok. Kalau sampai dia berbuat yang tidak-tidak, aku yang bertanggungjawa," sahut Fina penuh percaya diri.
Akhirnya Kurnia memutuskan untuk pergi ke kamar Arga, sedangkan Fina membatalkan perjanjiannya dengan temannya yang bernama Riski.
"Ada apa Kak Arga?" tanya Kurnia.
Kurnia semakin degdegan, detak jantungnya semakin kencang. Dia tidak menyangka berada di dalam satu ruangan bersama Arga, rasanya sangat canggung dan ada kekhawatiran juga.
"Kurnia, kamu kenapa?" tanya Arga yang melihat Kurnia sedikit berbeda dari biasanya.
"Sini duduk dekat sama Saya," ucap Arga lagi.
"Di sini saja tidak apa-apa Kak," ucap Kurnia.
"Kamu mau gaji kamu saya potong?" Arga mengancam Kurnia.
Akhirnya Kurnia yang awalnya duduk berjauhan akhirnya mendekatkan dirinya kepada Arga.
"Kak Arga mau ngapain?" tanya Kurnia.
"Ada yang mau aku omongin," kata Arga.
"Ngomong aja Kak," kata Kurnia yang sedikit risih.
"Mmm...Kamu mau gak jadi pacar aku?" kata Arga dengan cepat, sampai-sampai kalau kita tidak fokus mungkin tidak akan terdengar jelas ucapannya.
__ADS_1
"Hah?" Kurnia terkejut dan sangat terkejut.
Dia takut salah mendengar dan menyuruh Arga mengulangi perkataannya.
"Kami mau gak jadi pacar pura-pura saya?" kini Arga mengulang kata-katanya karena takut terlalu mengagetkam Kurnia dan menolak cintanya.
"Oh cuma Pura-pura," gumam Kurnia.
"Maksud kamu?" tanya Arga yang mendengar ucapan Kurnia.
"Oh enggak Kak, saya mau kok," sahut Kurnia dengan cepat.
"Emangnya kenapa kok Kak Arga mau jadikan saya pacar bohongan Kak Arga?" tanya Kurnia penasaran.
Padahal masih ada banyak cewek di luaran sana yang lebih cantik dari dirinya, tetapi kenapa Arga memilih Kurnia?.
"Tidak apa-apa. Hanya saja kamu sahabat Fina, saya ingin melindungi kalian karena saya lihat Fina sangat senang berteman dengan kamu. Jadi kalau kamu kenapa-kenapa pasti Fina sedih dan saya tidak mau melihat dia sedih," ucap Arga berbohong.
"Ternyata karena Fina ya," ucap Kurnia dalam hati.
"Oh iya deh Kak, kalau begitu saya keluar dulu ya," ucap Kurnia.
Arga sangat senang, dan ingin mempublikasikan hubungannya tetapi dia sangat takut jika terjadi apa-apa sama Kurnia. Terlebih lagi setelah publik tahu bahwa Kurnia pacarnya, dia pasti akan menjadi sororan bagi musuh-musuh Arga .
Kring....Kringg...
Arga mengangkat teleponnya yang berdering.
"Halo Sandi ada apa?" tanya Arga.
"Bos saya sudah mendapatkan info yang sangat bagus mengenai pria yang kita selidiki," ucap sandi.
"Informasi apa yang kamu dapatkan?"
"Dulu Ibunya Bos memiliki seorang sahabat yang bernama Kartika. Hubungan mereka sangat baik, sampai Ibunya Bos menikah dengan Tuan mereka masih berhubungan baik. Tetapi setelah Bos lahir, Ibu Kartika ini sudah menghilang. Sampai Ibu Bos mencari kemana-mana tetap tidak menemukannya," kata Sandi.
"Dalam penyelidikan ini, saya menemukan sebuah kejanggalan kalau menghilangnya ibu Kartika ini bersamaan dengan lahirnya Bos. Dan saya sudah cek di rumah sakit tempat Bos di lahirkan dulu, saya menemukan bidan yang membantu proses melahirkan Ibunya Bos," lanjut Sandi.
"Lalu? Apa kamu mengetahui dimana alamat Bidan yang membantu Ibu saya melahirkan?" tanya Arga penasaran.
Selama ini Arga baru ingat kalau Ibunya pernah menceritakan bahwa ibunya mempunyai sahabat yang tiba-tiba menghilang setelah dia melahirkan Arga.
"Saya sudah mengatur jadwal untuk janjian dengannya di suatu tempat nanti sore. Apa bos bisa?" tanya Sandi.
"Tentu saja bisa. Tapi bagaimana kamu bisa menyelidiki detailnya?" tanya Arga penasaran.
Padahal Arga sendiri masih belum memikirkan rencana yang lainnya, tetapi dengan mempunyai bawahan yang pintar akhirnya masalah ini hampir terselesaikan.
__ADS_1
"Saya punya caranya, Bos tidak perlu tahu. Yang Bos harus lakukan adalah memberi saya Bonus, hehe," ucap Sandi sambil tertawa kecil.
"Awas saja kamu membuat para pembaca di sini mengamuk".