
dua bulan telah berlalu dari sejak acara ulang tahun anaknya Bimo yang pertama. Kini Arga berusaha tidak menemui Shepa, ia selalu teringat setiap apa yang diucapkan Bimo selepas acara ulang tahun Andra selesai.
Meski demikian Arga selalu meminta saran dalam hal apa pun dari Shepa melalui pesan singkat. Meski dalam hal usia Arga jauh lebih tua dari pada Shepa, namun Arga tidak pernah malu bertanya. Dan itu Arga lakukan bukan sama Shepa aja, ia pun sering meminta saran dari para karyawannya. Meski kadang cara meminta sarannya selalu membuat kesal yang dimintai saran. Shepa sendiri tidak keberatan membalas pesan Arga.
Ia selalu menempatkan diri sebagai sahabat ketika Arga meminta saran darinya. Shepa tak pernah mempermasalahkan apa pun tentang perasaannya pada Arga.
Ia sedikitnya sudah bisa berlapang dada jika suatu saat nanti Arga benar benar memilih Revina. Yang ia yakini adalah takdir yang sudah digariskan untuknya tidak akan tertukar dengan takdir orang lain.
Jika memang Arga ditakdirkan jadi jodohnya, apapun yang terjadi saat ini, pasti akan ada jalan yang mempertemukan mereka di pelaminan, apapun dan bagaimana pun jalannya.
Shepa lebih menyibukan diri mempersiapkan ujian semester yang sebentar lagi akan dihadapinya.
Sementara Arga menyibukan diri dengan membuka cabang kafe baru. Sesekali ia teringat akan Revina yang dulu selalu bisa diandalkan olehnya selain Leela dalam pekerjaan.
Namun itu hanya tinggal kenangan seperti sebuah lagu yang di nyanyikan group band Samsons.
Pernah Shepa menyarankan agar Arga benar benar melamar Revina. Hal itu juga pernah Arga pikirkan namun Arga akhirnya mengurungkan niatnya saat ia menerima sebuah amplop coklat yang berisikan sepucuk surat yang ditulis tangan langsung oleh si pengirimnya.
Flashback on
Dua minggu setalah penolakan yang dilakukan Revina Arga menerima sebuah surat yang dikirim melalui pos.
"Den, ada surat buat aden" ucap bi Iyah sambil memegang sebuah amplop berwarna coklat dan berukuran sedang.
Arga mengerutkan keningnya merasa heran. "Dari siapa bi? Kok aneh ya padahal kan sekarang jamannya sudah canggih bisa lewat chat atau telpon langsung" ucap Arga sambil menerima amplop yang di sodorkan oleh bi Iyah.
"Revina" ucap Arga saat membaca nama si pengirim.
"Mungkin biar lebih romantis kali den" ucap bi Iyah.
Arga meninggalkan sarapannya dan langsung berlari menapaki satu persatu anak tangga menuju ke kamarnya.
Arga benar benar merasa penasaran apa isi pesan yang ditulis Revina untuk dirinya. Bagitu Arga membuka amplop tersebut betapa terkejutnya Arga saat isi amplop tersebut tak lain adalah surat undangan dan selembar kertas yang dilipat rapi.
__ADS_1
"Apa maksud ini semua?" tanya Arga entah pada siapa, ia segera membaca isi dari kertas yang terlipat rapi.
Dear Arga
Hai Arga, apa kabar? aku harap kamu membaca surat ini dalam keadaan baik baik saja.
Aku minta maaf jika surat yang ku kirim membuat mu terkejut. Tapi ini sudah jadi keputusan akhir yang aku pilih. Hati ku memutuskan memilih Rega sahabat kecilku untuk jadi imam dan pimbimbingku menuju jannah Nya .
Maaf aku telah membuat mu kecewa. Mungkin dulu aku begitu terobsesi akan dirimu, sehingga aku tak menyadari sebenarnya aku ragu saat aku mangatakan "ya aku menerima mu"
Namun aku baru menyadarinya beberapa waktu lalu saat kau datang kesini dan kau mengakui bahwa kau tau bagaimana perasaan Shepa terhadap mu. Disana aku mulai menyadari bahwa benar aku memang ragu akan perasaanku terhadap mu.
Terimakasih kau sudah pernah memilih dan memperjuangkan ku, tapi takdir tuhan tidak seperti apa yang kita inginkan.
Sampai bertemu di hari pernikahan ku dengan Rega. Aku harap kamu memaafkan ku dan mengghadiri undangan ku.
Revina
Flashback off
Arga benar benar menyibukan diri untuk memperluas jaringan usahanya. Berkali kali ayahnya menawarkan bantuan, namun berkali kali pula Arga menolaknya.
Mama dan papa nya Arga selalu mengingatkan supaya Arga tidak terlalu memikirkan pekerjaan. Kadang mamanya iseng menayakan siapa perempuan yang akan menjadi menantu pertama dikeluarga Firdawan.
Namun Arga tidak ambil pusing dengan pertanyaan pertanyaan yang sering mamanya lontarkan ia selalu menanggapi dengan santai.
"Doakan yang terbaik untuk anak mu ini ya ma" ucap Arga santai.
"Tanpa diminta pun Ga, yang namanya orang tua pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anak anaknya" ucap mamanya.
"Tapi Ga, apa kamu benar benar tidak tertarik menjadi penerus papa di perusahan GF Company?" tanya Galih.
"Tidak pa, lagian anak papa kan bukan cuma Arga. Arga ingin seperti papa dengan hasil kerja keras Arga"
__ADS_1
"Kita tidak punya keturunan kaya dari lahirkan pa, ma?" lanjut Arga.
Papa dan mamanya tersenyum sambil menggelangkan kepala. Mereka merasa bangga akan putra pertama mereka.
Meski saat kecil Arga tak pernah kekurangan, namun ia benar benar mengerti arti dari sebuah kerja keras.
"Luar biasa, papa bangga sekali sama kamu Ga" ucap Galih.
"Bukan cuma papa, mama juga bangga" ucap mamanya sambil memeluk putra sulungnya.
"Oooohhh jadi bangga nya cuma sama ka Arga ya? lihat saja nanti aku juga bisa" ucap imel adik bungsunya Arga yang baru pulang sekolah.
Begitulah pemandangan yang terjadi jika Arga mampir ke rumah kedua orang tuanya. Jika dilihat dari sudut pandang materi Arga terlihat beruntung pasti banyak yang menginginkan seperti Arga.
Namun jika dilihat dari segi asmara Arga tidak ada apa apanya.
Arga belum bisa memilih antara yang tulus mencintainya dan ego pilihannya sendiri.
Sepulang dari rumah orang tua nya Arga berniat menemui Shepa namun itu tidak jadi saat perkataan Bimo kembali terngiang dibenaknya.
"Shepa kan akan menikah, ah kalau aku menemui dia dan calon suaminya ada bisa turun nanti harga diri seorang Arga. Heh nggak etis dong pengusaha muda masuk berita gara gara ketahuan menemui calon istri orang, haduhhh" Arga menggelengkan kepalanya pelan.
"Nanti jadi trending topik diberbagai media, dan selalu diburu oleh wartawan aku gosip dimana pun. Tidaaaaaakkkkk" untung Arga sendiri di dalam mobil jadi ia bebas berekspresi tanpa akan merasa malu dan terawasi.
Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat menyadari kelakuan bodohnya. Ia melirik ke kiri dan ke kanan memastikan tak ada yang mendengarnya.
Akhirnya Arga mengemudikan mobilnya ke arah rumah yang selalu jadi tempat ternyaman baginya.
"Oh my sweet home i"m coming" ucap Arga sambil bersiul riang. Inilah cara Arga untuk melupakan rasa kecewanya pada Revina.
Sewaktu waktu ia kan bertingkah aneh seperti sore ini.
jangan lupa jejak bacanya vote, like and comment.
__ADS_1