
Hari ini adalah hati yang paling tidak diinginkan oleh Arga sama sekali. Ya hari ini ia akan mengikuti keinginan mamanya untuk berkenalan dengan anak kenalannya.
"Ga, jangan lupa ya nak, hari ini kamu sudah janji loh akan berkenalan dengan anak kenalan mama" ucap mama Arga mengingatkan.
"Siapa yang janji ma, kan mama yang memaksa" ucap Arga gusar sambil duduk menyeder pada sandaran sofa.
"Udah ah mama lagi nggak mau debat sama kamu. Sudah cepat segera merapikan diri" ucap mama Arga lagi.
"Arga dandan nggak lama kok mah, nggak kaya mama" ucap Arga
"Argaaaaa" Kali ini Galih yang bersuara dengan tatapan tajam. Galih memang tegas akan anak anaknya tapi ia juga bisa bersikap hangat.
"Iya maaf" ucap Arga sambil beranjak dari duduk nyamannya.
"Kalau orang impoten ya gitu mau dikenalkan sama perempuan secantik apa pun dia tidak akan tertarik sama sekali ma" kali ini Andi yang bicara.
"Andi, jaga ucapan mu" ucap Galih lagi.
"Heuh anak ingusan tau apa" Arga membalas ucapan Andi.
"Arga" lagi lagi Galih memberinya tatapan tajam, namun tak digubris sama sekali oleh Arga.
Lima belas menit kemudian Arga keluar dari kamarnya yang ada di rumah orangtuanya dengan keadaan rapi dan wangi.
"Tuh kan Arga bilang apa, nggak perlu lama dandan kan udah ganteng dari kodratnya" ucap Arga sambil duduk kembali menunggu mamanya yang belum selesai mempercantik diri.
"Papa ikut?" tanya Arga yang melihat papanya sudah rapi juga.
"Tentu dong, kalau nggak ikut gimana kalau mama ku kecantol sama brondong diluaran sana" ucap Galih penuh candaan.
"Syukurlah ada papa" ucap Arga dalam hatinya.
Satu jam kemudian mamanya baru keluar dari kamar pribadinya. "Astagfirullah ma, Arga sama papa nunggu mama makeup saja sampai sejam tau nggak sih?" kesal Arga.
"Ye, banyak protes papa aja nggak protes tuh"
"Ya beda dong ma, papa kan udah biasa ngedpin mama"
"Nanti juga kamu ngerasain Ga kalu kamu sudah punya istri" ucap Galih.
Mereka mengakhiri perdebatan dengan segera berangkat ke tempat tujuan denga Arga yang mengemudikan mobil.
"Kamu yakin kamu yang bawa mobil" ucap mama Arga namun Arga tak menghiraukannya.
__ADS_1
"Sudahlah ma, berhenti berdebat" ucap Galih.
Setelah tiba di tempat tujuan mama dan papa Arga turun lebih dulu dari mobil. "Ayo Ga turun mereka sudah nunggu kita dari tadi" ucap mama Arga.
Arga medelikan matanya "Siapa suruh mereka menunggu." Arga segera turun dari mobil dan mengikuti kedua orangtuanya yang berjalan di depannya.
Betapa kagetnya Arga saat melihat siapa yang dimaksud oleh mamanya. "Kamu" ucap Arga sambil menunjuk perempuan yang ada dihadapannya. "Bukankah kamu sudah menikah?"
"Arga yang sopan kamu" tegur mama Arga.
"Ternyata nak Arga anaknya bu Wanti ya" ucap ibunya Revina.
Arga merasa konyol sekali saat mengetahui ternyata yang akan dikenalkan oleh mamanya tak lain adalah Revina. Orang yang meninggalkan Arga begitu saja dan dengan beraninya dia mengirimkan undang palsu pada dirinya.
"Kalian sudah saling kenal" tanya Galih yang di jawab anggukan kepala oleh Revina dan ibunya.
"Dia mantan pacar Arga pa, saat Arga dengan tulusnya mencari dia dengan datang ke kampung halamannya dan berniat untuk membawanya kembali namun dengan gamapnya dia menyuruh Arga pergi dengan alasan ada hati yang tulus sedang menanti Arga. Dua minggu kemudian dia mengirimkan undangan pernikahan dirinya dengan laki laki lain. Dan sekarang dia hadir disini dengan tujuan mama akan menjodohkan Adah dengannya. Sungguh permainan yang memuakkan." ucap Arga dengan wajah yang diselimuti amarah.
Arga tidak tau apa ia harus merasa senang atau sebaliknya. Teganya seorang Revina yang dulu ia perjuangkan mempermainkan dirinya.
"Maaf ma Arga tidak tertarik lagi" ucap Arga sambil berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Arga tunggu" Teriak Revina namun Arga tak menggubrisnya sama sekali. Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas 120km/jam.
Revina hanya memandangi mobil Arga yang mulai menghilang dari pandangannya. Dia sendiri tidak tau kalau ibunya ternyata berniat menjodohkan dirinya dengan Arga.
***
Arga membanting pintu kamarnya saat sudah tiba dirumahnya. Arga duduk ditepi tempat tidur sambil menutupi wajahnya.
Perlahan airmatanya keluar tanpa diperintah oleh tuannya. "Berani sekali Revina mempermainkan ini, setalah menghancurkan hati ini sekarang dia kembali begitu saja bahkan dengan cara yang menjijikan sekali" ucapnya pelan.
"Den, den Arga baik baik saja?" tanya bi Iyah yang khawatir saat mendengar Arga membanting pintu kamarnya.
"Arga baik baik saja bi" ucap Arga dari dalam.
"Apa aku memang ditakdirkan seperti ini? kenapa harus seperti ini, kenapa Revina harus membohongi aku segala. Sebenarnya apa yang diinginkannya. Kenapa kau tega sekali Revina"
***
"Maafkan atas ketidak sopanan putra kami. Kami sebagai orangtua merasa gagal telah mendidiknya" ucap Galih yang menyesalkan sikap Arga.
"Tidak perlu minta maaf pak, bu. Kamilah yang salah" ucap ibunya Revina.
__ADS_1
"Tidak apa apa, seharusnya Arga mendengarkan penjelasan nak Revina terlebih dahulu, bukan main pergi begitu saja" ucap mama Arga.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Lain kali kita bicarakan lagi tentang ini" ucap Galih "Sekali lagi maafkan ketidak sopanan putra kami"
Dibalas anggukan oleh keduanya.
***
"Mama kesal sekali sama anak itu pa" ucap mama Arga saat mereka sudah di dalam mobil yang menjemputnya.
"Sudahlah ma, mungkin Arga butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Coba saja mama bayangkan kalau mama yang ada diposisi Arga" kali ini terlihat Galih membela Arga.
"Tapi tidak seharusnya dia bersikap seperti itu pa. Seperti anak yang tidak pernah mendapat didikan saja" ucap mama Arga.
Galih mendesah pelan, sepertinya dia lebih baik memilih diam saja dari pada berdebat dengan sang istri yang tidak akan ada ujungnya. Mau sampai besok pun istrinya selalu siap jika soal beradu mulut.
"Papa ih malah diam" kesal karena merasa dicuekan oleh suaminya.
"Papa harus bilang apa sama mama?" tanya Galih lembut.
"Ya apa kek masa anaknya kayak gitu dibiarkan saja"
"Ma ingat Arga bukan anak kecil lagi. Dan lagian ia paling tidak suka jika kita terlalu ikut campur dalam masalah pribadinya. Dari awal kan dia sudah menolak ide mama" ucap Galih mengingatkan sang istri.
"Jadi papa menyalahkan mama gitu?" merasa disalahkan dan tidak terima.
"Bukan menyalahkan, papa hanya mengingatkan"
"Sama saja" ketus sang istri.
"Iya deh mama benar, dan papa yang salah, begitu kan maunya mama?" ucap Galih.
"perempuan selalu benar, mereka tidak pernah salah" ucap Galih dalam hati.
***
"Andai saat ini Shepa belum jadi istri orang, mungkin aku bisa lari pada dia. Dia tidak pernah mengeluh apa pun masalah yang aku ceritakan kepadanya." ucapnya lagi sambil mengusap wajahnya kasar.
Sebesar apa sih kesalahannya Arga sampai ia harus menerima cobaan yang memilukan ini?
Arga terlihat membuka kontak Shepa ingin rasanya ia langsung mendial nomor tersebut. Tapi kembali dia mengingat itu tidak benar.
"Tidak Ga, dia sudah bahagia, jangan jadi penggangu, tanggung saja sendiri" ucap Arga pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Semua memory tentang Revina dan Shepa kembali berputar diotaknya. Satu persatu bergerak dan membuat Arga semakin pusing.
Arga terlihat seperti orang gila. Sabar ya Ga😊