
Shepa mulai menjalani hari hari tanpa Wiji, dia mulai mandiri tanpa bergantung belas kasihan mantan ibu mertuanya. Hari ini dia mulai bekerja dan meninggal Kia sementara. Meskipun merasa tak tega tapi dia harus melakukannya.
***
Selesai dengan pekerjaannya Arga segera bersiap untuk pulang. Saat dia merapihkan meja kerjanya, sebuah map mencuri perhatiannya. "Bimo? ah iya aku lupa Bimo kan menawarkan kerja sama"
Arga segera menelpon Bimo untuk membahas kelanjutan kerja sama mereka. "Aku ke kantor kamu sekarang ya"
"Ke rumah saja, aku sudah di rumah"
"Oh, ok"
Lima belas menit berlalu dan Arga baru tiba di rumah Bimo. Arga begitu terkejut saat dia turun dari mobil seorang gadis kecil berlari ke arahnya dan memanggilnya papa.
"Kia itu om Arga bukan papanya Kia" Andra menghampiri Kia yang memeluk kakinya Arga. Andra berusaha membujuk Kia namun Kia malah menangis, membuat Arga merasa kasihan melihatnya.
"Biarkan saja Dra, iya iya cup cup, anak cantik gak boleh nangis ya" Arga mengusap kepala gadis kecil itu kemudian memangkunya. "Papi ada, Dra?"
"Ada om"
Arga membawa Kia masuk yang diikuti Andra di belakangnya. Sempat Kia merengek tak ingin lepas dari Arga. Namun Leela berhasil membujuknya meski tak lama Kia kembali nempel pada Arga. Obrolan seputar kerjasama pun berlangsung dengan Kia yang tak mau jauh dari Arga. Arga sendiri tak merasa keberatan, ataupun terganggu. Obrolan selesai dan Kia pun tertidur di pangkuan Arga.
"Loh Kia tidur, padahal dia belum makan malam" Leela menghampiri mereka.
"Iya cocok sama Arga, biasanya kalau mau tidur kan minta susu lah apa lah, sama Arga cuma di pangku aja tidur"
"Hahaha bisa aja, ibunya kemana emang?"
"Belum pulang kerja. Kejebak macet kali"
__ADS_1
"Sampai tega ninggalin gadis ini?"
"Kebutuhan mendesak."
"Bilang sama ibunya gadis ini, Biar aku aja yang urus gadis ini, aku mampu sepertinya" Canda Arga.
"Yakin?"
"Yakinlah, pasti dia juga seneng kok punya papa seganteng aku"
Baik Bimo maupun Leela tak ada uang memberitahu Arga jika Kia anak Shepa. Namun melihat kedekatan mereka Bimo yakin jika Arga dan Shepa memang ditakdirkan untuk berjodoh. Mungkin Kia akan jadi jembatan diantara mereka.
"Ga, masih gak mau nikah apa?"
"Gila, ya mau lah, cuma belum ketemu sama yang tepat aja"
"Kalau nyarinya gak serius ya gak bakal ketemu lah" Leela ikut menimpali.
"Eeemmmhh, bukan karena nungguin Shepa kan?" ledek Bimo.
Arga yang sedang menyeruput minuman langsung tersedak mendengar nama Shepa. Seketika dia merutuki kebodohannya.
"Emang dasarnya kamunya aja gak bisa move on Ga"
"Gak gitu sih" Arga bingung mencari kata yang tepat. Terlihat dia beberapa kali mengusapkan tangan pada celananya.
"Kia biar saya pindahin ke kamar aja pak Arga"
Arga memandangi wajah Kia sebelum memberikannya ke Leela. Kening Arga berkerut, "Kok mirip Shepa ya" ucap Arga dalam hati.
__ADS_1
Bimo menatap Arga yang terlihat bingung. "Kenapa Ga? Udah kepikiran buat nikah?"
"Ah bahasan apa sih, dari tadi nikah nikah mulu. La si Bimo mau nikah lagi katanya" Teriak Arga yang membuat Bimo melotot.
"Nggak sayang, itu mah akal akalan Arga doang" Mereka terus berbincang. Kapan lagi mereka bisa seperti ini setelah sekian lama hidup masing masing. Keakraban diantara keduanya terlihat jelas ditambah dengan adanya Andra yang mulai usil pada Arga.
"Om, bibi Shepa kan single, kenapa om gak nikah aja sama bibi Shepa?"
***
"Pak ini kapan sampenya ya?" Shepa terlihat gelisah di dalam taksi.
"Ya sabar neng, ibukota kan udah biasa jam segini mah macet"
Beberapa kali Shepa terlihat menghentikan hentakan kakinya. Dia ingin segera sampai ke rumah Bimo karena khawatir Kia rewel. Harusnya sih ham segini dia sudah ada di rumah. Berhubung tadi ada pekerjaan tambahan, terpaksa dia menerimanya. Apalagi dia termasuk anak baru di tempat kerja.
Hatinya mulai tenang saat menerima balasan dari Leela sang kakak. Dia mengatakan kalau Kia tidak rewel dan sudah tidur. Andai wiji sang suami masih ada mungkin saat ini dia bisa menghabiskan waktu dengan Kia tanpa takut melewatkan tumbuh kembang sang anak. Apa mau di kata, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah berubah, suka atau tidak, mau atau tidak dia harus menerimanya.
Sekejap Shepa memejamkan mata, namun tak lama matanya kembali terbuka saat ucapan ibu mertuanya kembali terngiang. "Maafkan Shepa, maafkan Shepa, tolong" ucapnya lirih. Sakit tapi tak berdarah kalah ucapan itu kembali terngiang. Siapa sangka mertua yang tadinya begitu baik padanya kini berubah 180°.
Shepa benar benar memulai dari awal lagi. Menata kembali kepingan hati yang sudah dihancur berkali kali oleh kehidupan. Mencoba melangkah demi menopang dirinya dan Kia. Andai Kia tidak ada, mungkin dia tak akan sekuat seperti sekarang.
"Nak Arga masih sendiri She" Ibunya pernah mengatakan kalimat itu pada dirinya. Namun ia cukup tahu diri, statusnya saat ini apa dan siapa. Lagi pula mana mungkin Arga mau pada dirinya. Jangankan sekarang, dulu saja Arga tak menyadari perasaan yang dia berikan.
Taksi yang di tumpangi Shepa berhenti di dekat gerbang rumah Bimo. Bersamaan dengan itu mobil milik Arga keluar dari sana. Segera Shepa menyodorkan beberapa lembar uang sebagai ongkos. Kemudian dia segera masuk kerumah Bimo karena tak sabar ingin bertemu dengan sang putri. Sehari tak bertemu rasanya seperti berabad abad. Padahal ini akan berlanjut entah sampai kapan.
Rasa lelahnya hilang saat melihat putrinya tertidur dengan lelapnya. "Dia nangis pas rebutan mainan aja sama Kean, selebihnya dia gak rewel sama sekali" jelas Leela. "Kamu sudah makan?" lanjut Leela.
Shepa menggelengkan kepala. "Aku tidak lapar"
__ADS_1
"Ya setidaknya, kamu perlu menjaga kesehatan kamu, karena sekarang kamu harus bertanggung jawab penuh akan Kia. Kalau kamu sakit siapa yang akan bertanggung jawab?"