
Tak terasa tiga tahun sudah berlalu, namun Arga masih betah dengan kesendirian. Kenapa demikian? Bagaimana dengan Ledya gadis yang sempat Arga perjuangkan?
Satu hari setelah Arga berhasil mengerjainya, dia sempat berpikiran untuk segera menyatakan perasaannya. Arga pikir itu akan lebih baik daripada mengulangi kesalahan dengan terlambat menyadari perasaannya. Sungguh disaayangkan niat Arga tidak pernah terealisasikan. Ledya lebih dulu menunjukan bahwa dia sudah memiliki kekasih. Patah hati kembali? iya tapi tidak begitu terasa.
Arga tersenyum getir. Seperti itukah takdir mempermainkan dirinya. Sejak hari itu Arga lebih sibuk mengembangkan bisnis bisnis yang sebelumnya sudah dirintis oleh Galih sang papa. Tidak lagi memikirkan siapa yang harus mendampingi. Rasanya sudah cukup.
Kedua orangtua Arga pun tak lagi memaksa dia untuk segera menikah. Meski terkadang pahitnya omongan tetangga sampai ditelinga mereka. Galih yang mengerti akan Arga, meminta sang istri untuk berhenti meminta putra sulungnya menikah. "Biarkan, dia punya pilihan sendiri untuk masa depannya" ucap Galih bijak.
***
Pulang dari kantor dia menyempatkan diri menengok kafe yang dia bangun dan memiliki banyak cerita di dalamnya. Sekarang kafe tersebut memiliki banyak perubahan. Arga bangga pada orang orang yang dia percayalah untuk mengelolanya.
"Tadi siang pak Bimo sama istrinya kesini pak. Kata mereka sekarang susah bertemu dengan bos besar, pak"
Arga tertawa, "Aku hanya mempersiapkan masa depan saja Re. Memangnya sebesar apa aku ini" balas Arga sambil melihat isi laporan yang di berikan Rehan. "Lama mereka disini?"
"Sebentar pak, emangnya pak Arga sama pak Bimo jarang komunikasi gitu pak?"
"Sebenarnya..."
"Saya tahu pak, pak Arga masih belum siap kan jika harus bertemu masalalu lagi." Cerocos Rehan
"Hahaha, bisa aja kamu." Arga menutup berkas itu sejurus kemudian dia menyeruput kopi yanh di suguhkan Rehan.
__ADS_1
"Tapi pak, masalalu kan tidak bisa dihindari, sebab itu kan bagian dari cerita kita. Lagi pula pak Arga kayak bukan bapak aja, manghindari mbak Shepa sampai menghindari keluarganya juga. Kalau dipikir pikir pak Arga kayak anak Sd yang sedang bertengkar dengan temannya" lanjut Rehan diiringi tawa.
Setelah dipikir, dibilang balik omongan Rehan tentu ada benarnya. Masa iya hanya karena terlambat menyadari perasaannya pada Shepa berdampak pada persahabatannya sama Bimo.
Bimo membolak balik kartu undangan yang diberikan Rehan sebelum iya pamit tadi. Undangan itu dari Bimo, yang mengadakan syukuran atas hadirnya adik Kean dan Andra.
***
Arga tiba di rumah saat adzan maghrib berkumandang. Segera ia membersihkan diri sekaligus mempersiapkan untuk ia melaksanakan kewajiban. Suasana rumah Arga memang seperti itu, sunyi. Bibi yang kerja di rumahnya tidak nginap disana. Alasannya ada anak yang masih sekolah, jadi dia mamutuskan pulang pergi.
Arga begitu menikmati kesendiriannya. Kala malam menyambut, Arga selalu duduk di atas sajadahnya sambil dia mengingat-ingat kesalahan yang dia lakukan baik secara sengaja maupun tidak. Dalam keheningan malam beberapa doa pun sering dia panjatkan. Termasuk untuk orang orang yang dia sayangi. Apakah Shepa ada dalam doanya? Kota cari tahu nanti.
Arga segera melipat sarung serta sajadah yang dia gunakan saat cacing dalam perutnya mulai menabuh genderang. Segera Warga turun ke bawah. Meja makan memang selalu rapih. Bibi yang bekerja memang begitu telaten akan kebersihan.
Terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri masa lajang. Tentunya jika ada seorang pendamping dia tidak akan makan malam sendiri lagi. Pulang kerja disambut senyum istri dan anak. Tidur ada yang nemenin, ada teman untuk berbagi keluh kesah, ada teman untuk bercanda ria dan lain sebagainya. Ah membayangkannya saja mampu menghangatkan kembali perasaan yang sempat membeku.
"Tapi, di mana ya aku bisa menemukan orang seperti dia? Ya meskipun tidak seratus persen mirip setidaknya ada satu hal dari mereka yang sama. Buy the way dia apa kabar ya? Lama tak jumpa."
***
"Den, tadi mamanya aden telepon, katanya kalau aden sudah bangun suruh aden untuk telpon balik" Paginya Arga hari ini di sambut seperti itu oleh bibi.
Arga mengangguk setelah menghabiskan minumnya. "Anaknya bibi gimana sudah kembali sehat?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat den. Berkat bantuan aden juga" Bibi menimpali ucapan Arga tanpa mengabaikan pekerjaannya.
"Bukan bi, kan saya bukan dokter"
"Si aden mah bisa aja"
Begitulah percakapan Arga dengan pekerja di rumahnya. Pekerjanya yang sekarang mengerti akan Arga serta menyayanginya. Sebab Arga memperlakukannya seperti saudara sendiri. Arga tidak membatasi jarak antara dirinya dan pekerja. Benar benar hukum tabur tuai, apa yang kita tanam hati ini maka itu yang akan kita tuai di kemudian hari.
***
Pakaian rapi sudah melekat di tubuhnya Arga. Dia tengah meyisir rambutnya sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin. "Ternyata aku ini begitu tampan ya" ucapnya sendiri. Saat ekor matanya melirik undangan dari Bimo dia tersenyum misteri, sepertinya dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Arga meraih ponselnya dan menekan no seseorang. "Oh iya iya, semuanya sudah siap. Kita bertemu di tempat ya. Ah satu lagi bisa kamu atur ulang jadwal hari ini. Saya tidak bisa bekerja sampai sore." Setalah seseorang menjawab panggilan di seberang sana.
"Ya,Terimakasih"
Arga segera meraih tas kerja, juga kunci mobil, tak lupa dia menyemprotkan parfum ke lehernya.
Cerahnya hari ini mengiringi perjalan Arga. Seperti pagi sebelum sebelumnya namun pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Entah kebetulan atau memang semua rencana tuhan untuk mengobati rasa rindu Arga pada masalalunya. Shepa ditemani seorang perempuan yang tengah menggendong anak kecil tengah menyebrang.
"Apa ini yang dinamakan jodoh Tuhan? aku hanya berpikir mencari orang yang memiliki satu sifat yang mirip dengannya tapi kau begitu baik, dengan cara mempertemukan kami. Meskipun disini hanya aku yang merasa senang" ucap Arga dengan bibir tertarik tipis. Matanya terus memandangi mereka sampai mereka tak tampak lagi di pandangannya.
Sesaat Arga tak menyadari ucapannya, detik selanjutnya Arga membenturkan kepalanya pelan pada stir. "Astaga Arga, kumat lagi gilanya. Dia istri orang bro. Tobat kau tobat sebelum tuhan menutup usia mu" ucapnya lagi
__ADS_1
Arga segera melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang begitu hangat. Dia tak menampik jika dirinya benar benar tengah merindukan wanita itu. Hanya saja dia harus tahu diri, Tuhan tidak menakdirkan wanita itu untuk dirinya. Senyum hangat pagi ini menghiasi bibir Arga. Senyum itu tak lepas sampai dia tiba di kantor. Dia mengangguk pada setiap orang yang berpapasan dengannya. Pesona Shepa bagi Arga memang benar-benar berpengaruh. Hanya melihatmu dari jauh saja segitu pengaruhnya. Cinta memang luar biasa bukan?