
Pernah mendengar pepatah yang pergi jangan biarlah pergi? Namun pepatah itu tidak berlaku bagi Arga. Baginya yang pergi tetaplah dinanti. Hari ini Arga tak mendapat jawaban seperti yang dia inginkan. Berbesar hati dengan apa yang terjadi itulah opsi yang dia ambil.
Waktu telampau kejam, jika semua kenangan manis itu tak tersisa sama sekali. Amat sulit jika pada akhirnya dia akan kembali pada keadaan yang sama. Tenggelam dalam luka dan penyesalan.
Ruangan dia berada saat ini terasa begitu sunyi. Hanya pergerakan dari jarum jam serta hembusan nafasnya saja yang terdengar. Lampu ruangan yang sengaja dibuat redup semakin menambah suasana sunyi malam ini.
Hati kembali gelisah saat penolakan terlontar dari orang yang di harapkan. Semua bayangan yang terjadi siang tadi terus mmembayang di benaknya. Bahkan untuk sekedar memejamkan mata pun tak mampu.
Jarum jam sudah menunjuk angka sebelas lewat empat puluh lima menit. Jam yang seharusnya dia nikmati untuk tidur dan berlayar di alam mimpi kini ia gunakan untuk memikirkan hari esok yang belum tentu terjadi. Menebak, dan mempersiapkan kata jika seandainya keadaan akan kembali sama. Setidaknya dia mempersiapkan itu semua lebih dulu.
Tak ada rasa kantuk yang menghampiri dan Arga masih saja terjaga. Kekhawatiran terus melingkup di dalam hati. Tak memberi celah untuk sekedar berbesar hati. Untaian kata penuh pengharapan terus ia lampirkan dalam bentuk doa. Semoga Tuhan berbaik hati padanya.
***
PoV Shepa
Ku alihkan beberapa anak rambut dari wajahnya. Wajah yang terlelap dengan damai berharap akan bangun dengan kecerian dihari esok.
Hati ku teriris. Aku takut jika apa yang aku lalukan ternyata bukan yang terbaik untuk mu. Kamu adalah alasan aku berjuang, kamu adalah cinta yang dititipkan Tuhan untuk membersamai perjuanganku.
Teringat jelas tawa mu saat menyebutnya dengan kata papa. Aku akan hampa tanpa mu, bagai elang patah sayap. Doa dan harapan baik untuk tak pernah alfa ku sebut dalam doa. Jadilah seperti harapan kami.
Kia nampak tidak terganggu dengan apa yang aku ucapkan. Dia masih setia memeluk boneka berbentuk Dinosurus yang dikasih Arga tempo hari.
__ADS_1
Arga. Dia pria baik menurutku selama aku mengenalnya. Andai cinta tidak pernah hadir, aku yakin kita tidak akan seperti ini. Aku hargai ketulusan mu. Aku tidak ingin membuatmu kembali tenggelam dalam luka penyesalan, hanya saja aku belum berani untuk menemanimu menyelesaikan cerita kita.
Aku masih mengingat jelas tawa mu, sifat jahil mu, semangat mu dan lainnya. Aku jelas menginginkan mu tapi aku merasa tidak pantas.
Cukup lama aku termenung dengan tangan dan tatapan yang sama. Aku lelah namun tak boleh berhenti.
***
Efek malam tidak tidur Arga terlihat menguap beberapa kali. Semangat kerjanya mulai menurun. Apalagi di hadapan ada setumpuk berkas yang harus dia periksa demi kelangsungan kerja sama.
Setelah memaksakan diri namun ternyata tak mampu, Arga memilih untuk sekejap memanjakan diri. Menikmati minuman segar di tempat yang teduh nan sejuk menjadi pilihan Arga. Untungnya kafe yang dia tuju menyediakan itu semua.
Hembusan angin menerpa wajah yang penuh harap. Fokus matanya tertuju pada foto yang masih tersimpan di gawai. Foto saat Shepa selalu menemani dirinya kala itu. Ditatapnya wajah itu, tawanya masih membekas di ingatan. Senyum sendu jelas terlihat di bibirnya.
Kalau tadi yang terlihat hanya senyum sendu, sekarang berubah menjadi senyum bahagia. Wajahnya yang tadi menggambarkan seolah tidak ada harapan pun kini berubah.
"Tunggu, Ah bodo kau Arga, kalau kau menemuinya nanti kau di sangka penguntit" ucapnya saat kakinya hampir saja melangkah menghampiri.
Siang itu dia terlihat seperti orang gila beneran. Saat yang di sana tertawa dia pun ikut. Yang benar saja dia harus pintar mengatur volume suaranya agar orang lain tak memandang dirinya aneh. Kalau tidak bisa diseret dia ke RSJ.
"Ah, aku sudah lama sekali tak melihat tawa itu. Aku rindu She, benar benar rindu" ucapnya lagi sambil mengelus dada.
Andai Shepa mengiyakan usulnya, bukan usul, lebih tepatnya permintaan. Pasti hari ini Arga sudah mentraktir para pekerja nya sesuai rencananya. Masih perlu bersyukur ternyata Tuhan tak sampai mengabulkan doanya. Materi memang segalanya, tapi tidak ada salahnya dia menyisihkan sebagian itu.
__ADS_1
Seketika dia mempertanyakan perasaan Shepa terhadap dirinya. Apalagi jika ia melihat Shepa tertawa puas bersama teman laki-lakinya meskipun di sana tak hanya berdua. Benarkah perasaan untuknya telah memudar. Beberapa pertanyaan pun mulai menyusup di hati.
Lamunannya buyar ketika Bimo menghampiri. "Eh, Bim? Kenapa di sini?"
"Bebas dong, inikan tempat umum. Lagi pula kantor ku tak jauh dari sini." Jawab Bimo sambil menarik kursi di sebrang Arga. "Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau di sini? Memangnya di sana tidak ada kafe?" disusul tawa mengejek.
Arga gelagapan. Dia sendiri tadi sempat bingung saat menyadari itu. Ah mungkin itu efek jatuh cinta. "Tadi aku habis bertemu klien" jawab Arga cepat. Semoga saja Bimo percaya.
"Oh iya iya aku lupa, sekarang kan Arga adalah si pengusaha yang banyak kliennya. Eh, tunggu bukan karena dekat dengan tempat Kerja Shepa kan?
Arga tertawa puas, dalam hatinya dia pun mengakui kebenaran itu. "Ah gak sampe segitunya, Bim."
"Kalau pun iya toh sah-sah saja kan? Kau masih lajang dan dia pun sama. Perbedaan biarkan saja, itu akan menjadi bumbu rumah tangga nantinya. Benarkan?" ucap Bimo sebelum dia memanggil salah satu pelayan untuk memesan minuman. "Eh, aku lupa kau kan belum rumah tangga" Bimo menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum mengejek.
Arga tak menanggapi itu dengan serius. Dia paham betul sikap Bimo sekarang setelah menikah dengan Leela. Biasa mantan duda yang kesepian, dan sekarang sedang dimabuk asmara. Fokus Arga tak lagi pada sosok Shepa, ya meskipun obrolan mereka tak jauh dari topik itu.
Pada akhirnya Arga pun menceritakan kejadian kemarin. Ya meskipun Bimo sempat menertawakan dirinya. Ternyata bergosip bukan hanya kebiasaan ibu-ibu, tapi juga kebiasaan mereka berdua. Beberapa saran Arga terima dari Bimo. Memang dia harus banyak belajar soal itu, sebab Bimo lebih berpengalaman. Lihat saja dia sudah menikah dua kali sementara dirinya belum. Bahkan memperjuangkan cinta pun belum membuatku hasil.
.
.
.
__ADS_1
.Hola author balik lagi. Jangan ngambek ya, tenang author up dua eps nih hari ini