
Arga merapihkan pakaiannya sebelum turun dari mobil. Hari ini dia memutuskan untuk menjenguk keadaan Wiji. Arga lebih dulu menanyakan dimana Wiji di rawat. Seorang perawat mengantarkan Arga. Dia melakukan hal ini bukan untuk mencari perhatian Shepa, tapi lebih karena rasa empatinya.
Betapa terkejutnya Arga saat perawat menunjukan ruangan Wiji. Wiji tengah berbaring di dalam sana dengan berbagai macam alat kesehatan menempel di tubuhnya. Arga merasakan sesak di dada, mungkin ini yang Shepa rasakan begitu Arga berucap dalam hatinya. "Bagaimana keadaanya?"
"Beberapa hari ini pasien tidak menunjukan perubahan. Benturan pada bagian tertentu menyebabkan kondisinya seperti ini. Kami masih berusaha, tapi selain usaha kami, doa dari orang orang terdekatnya sangat dibutuhkan saat ini."
***
Langkah kaki Shepa kian gontai sesaat setelah dia menerima telepon dari rumah sakit yang mengabarkan kondisi Wiji. Ditemani ibu serta mertuanya Shepa melangkah dengan penuh harap. Semoga yang disana keadaannya baik baik saja. Bayangan kebaikan Wiji terus terngiang di benaknya. Tak luput perasaan bersalah pun mendera saat dia mengingat alasan dia Menerima Wiji.
"Semoga Allah tak memisahkan kita kak. Kamu akan baik baik saja. Bertahanlah demi aku dan Kia" Segenap doa terus dia lafalkan dalam hati. Benar benar mengharapkan kebaikan dari-Nya. Dia melirik ibu mertua yang wajahnya sudah ditutupi deraian air mata. Ibu mana yang tak merasakan sakit saat anaknya terbaring lemah antara hidup dan mati.
Beberapa bulan yang lalu Wiji mengalami kecelakaan saat hendak menyusul Shepa yang saat itu sedang berada di Bandung. Kecelakaan terjadi saat Wiji tak mampu menghindari mobil yang melaju kencang dari Arah yang berlawanan. Sempat berburuk sangka, jika kecelakaan itu bukan murni kecelakaan. Namun hasil penyelidikan polisi mengatakan jika itu murni sebuah kecelakaan.
Shepa berusaha menyembunyikan kesedihan, dia tetap berdiri tegar meski hatinya terasa remuk. Baru saja dia membuka hati untuk Wiji, namun ujian lebih dulu menghampiri. Apa ini yang dinamakan teguran? Tapi selama ini dia juga selalu memperlakukan Wiji seperti seharusnya. Tak pernah memikirkan pria lain dalam hidupnya meski belum sepenuhnya membuka hati untuk Wiji.
__ADS_1
Setegar apapun Shepa, air mata tetap tak dapat dibendung. Dia sempat membayangkan bagaimana dirinya menjalani hidup tanpa ada yang mendampingi. Empat tahun yang dia lalui bersama Wiji tak bisa begitu saja dilupakan. Meski selama pernikahan Shepa tak sepenuhnya memberikan hati, namun dia tetap menjaga perasaan Wiji. Katakan saja dia wanita munafik. Perasaan adalah sesuatu yang sangat sombong karena datangnya tak pernah meminta izin. Sempat dia teringat akan Arga, namun dia segera mengenyahkan pikiran itu. Bukan waktunya memikirkan perasaan yang sempat ada.
"Kemarin engkau mengambil dia yang ku harapkan, jika sekarang kau ambil suamiku lalu apa yang akan kau ambil besok?" Shepa berucap dalam hatinya. Usapan lembut tangan ibu menyiapkan Shepa dari lamunannya. "InsyaAllah Wiji akan baik baik saja"
Shepa dan yang lainnya menanti dokter keluar dari ruangan Wiji dengan harap harap cemas. Seketika Shepa merasa dicabut semua urat serta tenaga saat dokter keluar bukan membawa kabar baik. Airmata semakin membasahi pipinya saat dokter mengatakan jika Wiji telah tiada. Tangis yang bersuara menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam.
Ayah mertuanya berusaha tegar untuk menguatkan yang lain. Meski keadaanya sama terpukul namun dia tetap menahan air mata. Segera dia menghububgi keluarganya yang lain untuk mengabarkan berita duka termasuk pada Bimo.
***
Arga yang saat itu baru saja akan memulai pertemuan terpaksa harus menundanya saat menerima kabar dari Bimo. "Bagaimana bisa? Bukankah tadi masih baik baik saja"
Arga mengangguk, setelah sambungan terputus dia segera menyuruh asisten pribadinya untuk mengatur ulang jadwal. Dia segera bersiap untuk melayat. Tak lupa Arga pun ikut andil dalam penguburan Wiji. Seutas doa ia lafalkan untuk mengiringi kepergian Wiji. Selain Arga banyak juga yang ikut melayat dan mengantar kepergian Wiji ke tempat peristirahatan. Terlihat Revina pun hadir disana untuk sekedar ikut berbela sungkawa.
Sebelum pulang Arga menyempatkan melirik Shepa namun tidak menyapa. Dia cukup tahu diri dan tak ingin di anggap menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Dia hanya mengucapkan belasungkawa kepada orangtua Wiji sebelum berpamitan. Dalam hati kecilnya dia ingin sekali menghampiri Shepa untuk sekedar menenangkannya. Dia pun merasa sakit karena tak mampu melakukan hal itu.
__ADS_1
***
Empat puluh hari sudah berlalu sejak kepergian Wiji. Kehidupan Shepa ke kehidupannya yang dulu. Perusahaan yang sempat di kelola Wiji diambil alih kembali oleh orangtuanya. Shepa tak mempermasalhakan hal itu. Selama dia diberikan kesehatan dia masih bisa berjuang mencari nafkah untuk dirinya dan Kia. Namun ada satu kalimat yang sampai saat ini masih terngiang di benaknya. "Andai malam itu Wiji tak menyusulmu, mungkin saat ini dia masih ada ditengah tengah kita" Kalimat itu terlontar dari ibu mertuanya tepat di hari ketujuh kepergian Wiji. Berarti selama ini ibu mertuanya menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengan putranya.
Shepa melirik putrinya yang sedang terlelap. Memandanginya saat tidur memberikan kedamaian bagi Shepa. Namun dia juga merasa bingung jika nanti Kia menanyakan kenapa ayahnya tak pulang pulang.
"Kamu masih memikirkan perkataan ibu mertuamu nak?" Sang ibu menghampirinya.
"Nggak bu"
"Tidak usah bohong, ini tahu kok. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri nak, semua sudah ada jalannya masing masing. Ingat kematian itu pasti, hanya saja kita tidak tahu kapan maut akan menghampiri. Jika saatnya tiba maka yang hidup harus siap kehilangan" Usapan lembut tangan sang ibu sedikit memberikan kehangatan bagi Shepa. Dia mengangguk mengerti.
"Tapi apa aku tidak boleh merasakan kebahagiaan bu?" ucap Shepa sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Hus, gak baik ngomong seperti itu. Itu tandanya kamu tidak bersyukur dengan apa yang Allah kasih. Kamu masih punya ibu dan bapak, ada kakak mu juga ada Kia yang masih membutuhkan mu. Kamu akan menemukan kebahagiaan jika hatimu iklas nak."
__ADS_1
....
Author maksain up nih. Baru pulih doain authornya sehat ya sahabat. Semoga sukak dengan ceritanya 😊