
Kembali bekerja di saat masih menikmati moment itu menyebalkan. Itu yang dirasakan Arga pagi ini. Andai saja di tidak memiliki tanggung jawab atas perusahaan, sudah pasti bermalas-malasan akan dia lakukan.
Melihat sang istri yang sudah rapi dengan balutan rok hitam selutut serta kemeja hitam. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai menyentuh bahu. Membuat Arga semakin enggan untuk berangkat.
"Hari ini hanya mengantarkan surat resign kan?"
"Iya," Shepa menjawab sambil mengambilkan makanan untuk Arga. Arga menatap wajah sang istri. Memperhatikan pahatan yang Tuhan cipta. Rasa syukur kembali Arga ucap dalam hati.
Merasa di perhatikan Shepa menoleh, tersenyum mendapati Arga sedang menatapnya. "Masakannya gak enak ya?"
Arga menggeleng, senyum khas nya kembali dia suguhkan. "Kamu cantik sekali" Memandang takjub wanita yang berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Bisa aja"
"Aku tak pernah merasa bosan menikmati pemandangan indah yang Tuhan suguhkan setiap hari. Bahkan aku tak rela seujung kuku pun orang lain ikut menikmatinya."
"Mujinya terlalu berlebihan" Menelan sisa makanan yang ada di mulutnya.
"Aku rasa tidak berlebihan. Wajar jika aku memuji wanitaku. Sebab biasanya jika tak dipuji suamninya maka dia akan di puji pria lain. Apa tak sebaiknya kamu menutup aurat?"
Bukan tidak mau, tapi rasanya belum siap. Biasanya mereka yang menutup aurat selalu di pandang baik. Sementara dirinya merasa jauh dari kata itu.
Memang pakaian yang dia kenakan masih termasuk katagori sopan. Akan tetapi Arga merasa tidak rela miliknya di pandang orang lain.
Katakan saja Arga posesif, tapi itu semua dia lakukan untuk melindungi miliknya. Jaman sekarang terlalu banyak celah untuk menggoda. Bahkan bisa jadi merebut.
***
"Sayang yakin gak perlu aku tunggu?"
"Gak perlu mas. Nanti selesai urusan aku pulang kok" Shepa menyematkan senyum. Kata 'Mas' menjadi pilihan alternatif sebagai panggilan untuk Arga. Shepa tak lupa mencium punggung tangan Arga sebagai bakti. Shepa bingung kenapa pintu mobilnya tidak bisa di buka. Segera berbalik ke arah Arga untuk bertanya. "Kenapa pintunya gak bisa di buka? Apa mobilnya rusak?"
__ADS_1
Anehnya Arga malah terlihat santai sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi. "Kamu melupakan sesuatu?"
"Apa, aku rasa semuanya sudah"
"Belum."
"Apa lagi?"
"Aku belum mencium mu." Bisik Arga di telinga Shepa. Astaga perkara itu saja bisa membuat dirinya terlambat ke kantor.
Shepa segera menghentikan serangan Arga sebelum terlambat. Bisa gawat jika itu terjadi. Ini bukan di rumah. Apa kata mereka nanti yang melihatnya.
Rasa tak puas jelas kentara disorot mata Arga. Namun ia kembali tersenyum saat Shepa mengatakan nanti malam boleh sepuasnya. "Beneran ya?"
"Iya, buka dong pintunya."
Mereka menertawakan sikapnya masing masing. Sebelum akhirnya Shepa benar-benar turun. Berbalik sekali lagi seraya melambaikan tangan.
***
Shepa mengangguk dan tersenyum. Apa daya ini permintaan yang mulia. Lebih tepatnya perintah.
"Yah, Shepa keluar gak ada bisa di godain pak Ali dong." timpal yang satunya lagi.
"Iya, pak Ali galau dong" Tawa mereka bersamaan.
Ali adalah atasan Shepa yang memang sepertinya menaruh hati. Memang tidak secara terang-terangan dia mengatakan tertarik. Tetapi gerak geriknya menunjukan itu. Sebagai sesama orang dewasa tentu mereka mengerti. Namun Shepa memilih tak menanggapinya.
Selesai segala urusan, Shepa segera membereskan barang-nya. Rumah Arga-lah yang kini jadi tujuannya. Dirinya akan mengabdikan hidup di sana. Pekerjaan yang sesungguhnya. Ya, jadi ibu rumah tangga tidaklah mudah. Mulai dari melayani kebutuhan suami, mengurus dan mendidik anak, mengatur keuangan rumah dan lain sebagainya. Bahkan seorang ibu rumah tangga bisa bekerja 24 jam tanpa gaji. Bahkan ketika sakit pun mereka masih mampu bekerja. Luar biasa.
Tentu Shepa akan menjalani hari-hari berikitnya seperti itu. Tak ada gaji pasti yang dia harapkan. Hanya Ridha-Nya yang pasti akan selalu di rindukan.
__ADS_1
***
Dering ponsel dari saku jas yang Arga kenakan sejenak menghentikan pertemuan yang sedang berlangsung. Melihat tulisan "Humairahku" yang tertera di layar benda pipih tersebut, membuat bibir itu menampilkan senyum.
"*Makan siang? Emangnya sayang sudah selesai urusannya?"
(....)
"Apapun yang sayang masak, tentu aku tak akan melewatkannya*"
Sikap Arga yang seperti itu membuat mereka yang mendengarkan tak kuasa menahan diri untuk saling berbisik. Dunia memang menjadi milik mereka yang tengah dimabuk asmara. Bahkan sikap profesional dalam pekerjaan pun sepertinya tak berlaku lagi.
"Sampai bertemu di rumah, aku merindukanmu"
Arga segera memasuki kembali ponselnya setelah sambungan terputus. Berdeham dan membenarkan posisi duduk. Kembali ke mode serius, tak ada canda tawa bahkan untuk sekedar berbisik pun tidak.
"Ada yang aneh?"
Tatapan matanya menyoroti setiap orang. Menelaah untuk menemukan kesalahan. Kepribadian ganda sepertinya melekat di sana.
Pulpen yang tak sengaja jatuh pun menjadi perhatiannya. Si pemilik benda tersebut segera mengambilnya setelah tatapan Arga mengintimidasinya.
Menyebalkan. Pasti banyak mantra berupa kutukan bersemayam di sana. Andai tak ada sangkut paut dengan kebutuhan pasti kalimat itu akan bergema di telinganya.
.
.
.
.
__ADS_1
.Hi, kalian menridukan author? Author sih iya merindukan kalian. Merindukan saling berbalas komen dengan kalian. Maafkan author yang sibuk ya. Jangan marah🙏