Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
23


__ADS_3

Malam yang semakin larut terus membawa Arga terhanyut dalam lamunannya. Berkali kali dering telpon dari Andi saudaranya tak ia hiraukan.


Hingga sebuah gebrakan di pintu ruangannya menyadarkan Arga. Arga mengerjapkan matanya karena kaget, tapi tiba tiba rahangnya mengeras saat ternyata Andi yang melakukannya.


"Kau lupa bagaimana sopan santun terhadap orang yang lebih tua dari umur mu?" ucap Arga dengan tatapan sarkastik.


Andi melenggang masuk seolah dengan wajah tanpa dosanya, seolah tindakan yang dilakukannya adalah hal benar.


"Kakak akan tetap disini dengan segala pemikiran kakak yang tak berguna itu, atau aku seret kakak untuk pulang bersama ku" ucap Andi


Senyum sinis melengkung dibibir Arga. "Aku bukan anak kecil, aku bisa pulang sendiri. Setiap orang punya hak untuk bagaimana ia menikmati waktu senggangnya. Dan ini cara ku" balas Arga.


Andi pun menarik salah satu sudut bibirnya saat mendengar jawaban Arga. "Kak kau memang bukan anak kecil lagi, tapi sikap mu lebih dari anak kecil juga remaja yang alay. Sampai kapan kau akan berada di titik ini" Andi berusaha ingin menyadarkan sang kakak. Tapi Arga tetaplah Arga.


Arga meraih kunci mobilnya dan berlalu meninggalkan Andi disana. Arga memasuki mobilnya diikuti Andi yang masuk dengan tidak tau malunya karena tidak diajak sama sekali.


"Kak sepuluh tahun pun kau merenungkan penyesalan tidak akan merubah apapun jika kau tak bertindak melakukan penyesalan" ucap Andi.


Arga diam sejenak mendengar perkataan adiknya yang ia rasa kali ini apa yang dilontakannya memang ada benarnya.


"Pulang jangan buat mama dan yang lainya khawatir dengan sikap kekanakan kakak. Sudah cukup kau main mainnya" ucap Andi sambil keluar dari mobil Arga serta memberikan sedikit gertakan dengan membanting pintu mobil.


Setelah diam cukup lama ia mencerna ucapan Andi akhirnya ia memilih mendengarkan bisikan baiknya. Ia mulai menyalakan mobil dan mengarahkannya ke arah jalan menuju rumah orang tuanya.


Memang sejak Arga bersikap demikian, orangtuanya memutuskan untuk Arga tinggal kembali bersama mereka. Karena tak ingin terjadi hal hal yang tak diharapkan sama sekali.

__ADS_1


Mama Arga pernah menyalahkan dirinya atas perubahan sikap Arga. Ia sempat berpikir Arga berubah sikap seperti itu karena rencana perjodohannya dengan Revina. Namun beberapa bulan belakang ini ia baru mengetahui ternyata bukan itu penyebab utamanya.


Malam sudah sangat larut karena jam sudah menunjuk pukul 00:40 menit dan Arga baru saja tiba di rumah orangtuanya.


Langkah yang terseok seok membawa Arga masuk kedalam kamarnya. Sementara mama Arga yang memang tidak bisa tidur nyenyak memperhatikan Arga dari balik tangga.


"Aku harap Arga segera kembali ke Arga yang dulu" ucap mama Arga sambil menghela nafasnya pelan.


Arga merebahkan diri di kasur dengan keadaan terlentang. Matany yang selalu sendu sejak hari itu menatap langit langit kamarnya. Arga memang tidak mengeluarkan air mata atau menangis meraung raung seperti drama di sinetron tapi perubahan dari sikapnya menandakan bahwa ia benar benar menyesalinya.


Mama Arga mengetuk pintu dan menghampiri putranya yang masih dalam keadaan terlentang. Ia duduk di tepi tempat tidur memperhatikan keadaan putra sulungnya. Tangannya terulur membelai rambut Arga yang jauh dari biasanya. Rambut yang selalu disisir rapi itu terlihat begitu gondrong dan acak acakan.


"Ga, mama sudah menyiapkan makanan kesukaan mu, ayo makan dulu" ucap mama Arga setelah cukup lama ia membelai rambut putranya.


"Ma" ucap Arga


Mama Arga menyambut putranya dengan senyum khas seorang ibu yang sangat menyayangi putranya. Ia tak ingin mengomentari keadaan Arga, ia lebih memilih mengajak Arga untuk segera menyantap makanan yang sudah ia masak.


"Makanla dulu sebelum tidur, agar lebih baik" ucap mama Arga.


Arga bangun dari duduknya dan mengekori mamanya yang keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan yang sudah tersedia makanan kesukaannya.


Sebelum duduk dan menyantap makanan tersebut Arga lebih dulu menghela nafasnya perlahan.


"Andi benar sikapku lebih dari anak remaja yang alay jika begini. Aku harus bisa bangkit dan berubah. Dan mungkin harus belajar menerima kenyataan yang pahitnya lebih dari patrawali" ucap Arga dalam hatinya.

__ADS_1


Baru kali ini Arga makan dengan begitu lahapnya setelah sekian lama. Mungkin kali ini ia bertekad akan menghadapi peliknya hidup. Manis sudah pernah dilaluinya begitupun dengan pahitnya.


"Aku masih muda, dan aku tidak seperti yang Andi katakan. Pria alay tidak cocok untuk jadi title ku"


Mama Arga tersenyum senang saat memperhatikan Arga yang dengan begitu lahapnya menyantap makanan yang memang sengaja ia masak untuk Arga. Dalam diam dan senyumnya itu terselip doa dan harapan yang terbaik untuk putra sulung yang selalu di banggakannya.


Setelah menyuapkan makanan terakhirnya Arga melirik sang mama yang sedang tersenyum memperhatikannya. Ia meneguk air bening yang tersedia disana.


"Tenang ma, jika nanti persediaan makanan dirumah mama habis Arga akan menggantikannya dua kali lipat" ucap Arga saat ia memikirkan apa penyebab sang mama tersenyum seperti itu.


"Hah apa kau berpikir bahwa papa mu tidak sanggup belanja lebih dari ini?" ucap sang mama sambil membereskan meja makan, namun senyum bahagia tak sedikitpun menyurut disana.


"Ya bisa saja kan papa bangkrut setelah ini" ucap Arga sambil tergelak saat sang mama memperlihatkan ketidak sukaan atas apa yang ia ucapkan.


"Ya ma iya, haha masakan mama masih sama rasanya" ucap Arga sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan sang mama setelah lebih dulu ia mengucapkan terimakasih.


***


Arga sudah kembali berada di dalam kamarnya dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Ia sedang menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Bibirnya tersenyum saat ia mengingat kejadian beberapa minggu lalu. Ya entah dua minggu kebelakang atau tiga minggu ia sempat bertemu dengan gadis yang memiliki sikap tak jauh beda dengan Shepa. Tapi sayangnya ia belum sempat menanyakan nama gadis itu, karena gadis itu langsung berlalu sambil ngomel saat tak sengaja Arga menabraknya.


Sebuah senyum tiba tiba melengkung di bibir Arga. "Bodoh, tapi dimana aku bisa bertemu lagi dengannya. Gadis itu seperti Shepa saat pertama kali pertemuan itu terjadi. Galak"


Setelah berkutat dengan segala pemikiran serta merancang rencana bagaimana ia akan menjalani hidup kedepannya, Arga kini sudah terlelap dengan segala mimpi mimpinya.


Saat tidur pun lengkungan senyum itu masih terlihat meski tidak terlalu jelas. Begitulah.

__ADS_1


__ADS_2