
Persiapan syukuran di rumah Bimo sudah hampir beres. Bimo dan Leela begitu bahagia akan hari ini. Andra dan Kean pun tak kalah antusias membantu kedua orang tuanya. Meski sesekali Andra menggoda adiknya. "Kean, Kean kalau mami dan papi punya baby baru, itu tandanya kamu gak di sayang lagi"
Seketika Kean yang masih kecil itu memasang wajah sedih mendengar perkataan sang kakak. "Andra" Bimo langsung melotot melihat putra sulungnya menggoda Kean.
"Kan bercanda pi" Andra mengacungkan dua tangannya dengan senyum tanpa dosa. Sementara sang mami hanya menggelengakan kepalanya pelan melihat tiga laki laki jagoannya.
Menurut Kean sang papi sedang memarahi kakaknya dia segera berlari ke arah Bimo dan menjulurkan lidah ke arah Andra. "Bodo kan masih ada mami, wle" tak mau kalah dengan sang adik.
"Eh, enak saja. Mami kan punya papi" Bimo tak mau kala. Bimo, Andra dan Kean tak mau kalah saling merebutkan Leela. Sementara Leela masih sibuk mempersiapkan yang lain.
"Astaga senengnya ya kak, mereka terlihat harmonis" ucap Shepa dengan senyum tulus.
"Semoga kamu juga ya, jangan berkecil hati semua ada porsinya masing masing" Leela mengerti bagaimana keadaan sang adik saat ini. Sayang dia tidak berhak ikut campur terlalu dalam.
Saat tengah asik berbincang Andra yang mulai usil menimpali percakapan mami dan bibinya. "Om Arga belum nikah kok bi"
"Andra" Leela merasa tidak enak dengan sang adik.
"Iya dia masih jomblo kok. Gimana keadaan Wiji sekarang?"
"Belum ada perkembangan. Doakan Aa agar cepat berkumpul bersama kita lagi" Terlihat jelas kesedihan di mata Shepa.
***
Arga tengah memilih sesuatu yang akan dia bawa untuk menghadiri undangan Bimo. "Yang ini ada lagi gak mbak" tanya seorang perempuan yang suaranya masih Arga kenali.
"Revina?"
"Arga"
Sejenak suasana diantara mereka mendadak hening. Dengan cepat Arga kembali menguasai diri. "Apa kabar?" hanya itu pertanyaan yang Arha pikir untuk mencairkan suasana.
"Baik" balas Revina, seorang gadis kecil yang jalannya masih mengkhawatirkan menghampiri Revina dan memnaggilnya mama.
__ADS_1
"Dia putri mu?" ucap Arga sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Revina segera menyambut putrinya kemudian menjawab "Iya, dia putriku. Kau sedang berbelanja bersama istrimu juga"
Seketika hatinya tergelitik mendengar pertanyaan Revina. Jika menjawab dengan jujur khawatir Revina akan menertawakannya, tapi mengatakan iya pun rasanya tidak mungkin. Untungnya seorang pelayan menghampiri mereka untuk menyerahkan apa yang sudah dibeli Arga.
"Re, maaf aku harus segera pergi ya" ucap Arga dengan perasaan tidak enak. Sementara Revina merasa biasa saja.
***
"Dimana Di? cepatlah sedikit kita sudah telat" Arga meminta Andi sang adik untuk menemaninya.
"Sabar dikitlah kak, macet nih. Lagian salah sendiri gak laku jadinya harus ditemenin adik. Beruntung sih adiknya baik dan ganteng jadi gak memalukan dibawa kemana pun" terdengar suara dari seberang telpon.
"Banyak cakap kau. Cepatlah aku tunggu" Arga langsung mematikan sambungan telponnya. Enggan jika harus berlama lama mendengar ocehan Andi.
Setelah melewati perdebatan kecil bersama sang adik serta lalulintas ibukota dimalam hari, akhirnya mereka tiba di rumah Bimo.
Arga turun lebih dulu yang langsung di sambut teriakan Andra. "Pi, om Arga datang pi" Teriak Andra yang begitu antusias dengan kedatangan sahabat papinya. Lama sekali mereka tidak bertemu tentu ada kerinduan yang begitu besar disana.
"Om aku udah besar dan sekarang aku akan punya adik lagi. Om tau gak kalau mami papi punya adik lagi Kean gak disayang lagi" Andra masih saja menggoda adiknya.
"Oh ya, tapi om akan menyayangi Kean, iya kan Kean" Arga bicara pada Kean namun Kean malah sembunyi di belakang sang papi.
Arga dan Andi di ajak menemui Leela, tak jauh dari Leela, Shepa pun ada di sana. "Suatu kehormatan bagi kami, bos besar mau menghadiri tasyakuran kami" Canda Leela. Mereka saling berjabat tangan. Shepa tak ikut menyapa dia memilih berbincang dengan yang lain.
Bimo mengerti tatapan Arga tertuju pada siapa. Dia memainkan mata memberi isyarat pada sang istri. "Emh She, ini ada Arga" ucap Leela.
Shepa menghentikan perbincangannya sebentar kemudian mengangguk dan senyum tipis pada Arga dan Andi. "Dia masih terlihat cantik ya kak" Bisik Andi.
***
Acara sudah di mulai, yang hadir di sana mengikutinya dengan khidmat. Sesekali Arga melirik Shepa yang posisi duduknya tak jauh dari empunya acara. Dia melirik kesana kemari mencari keberadaan Wiji, namun sosok itu tak mampu ditangkap oleh netranya.
__ADS_1
"Shepa di sini, tapi di mana Wiji? Ada apa dengan mereka? Syukur kalau mereka telah berpisah"
"Kau benar benar jahat Arga. Kau benar-benar ingin Tuhan segera menutup usiamu sepertinya"
Arga segera mengenyahkan pikiran tersebut. Betapa jahatnya dia jika dia harus bahagia di atas penderitaan orang lain. Namun rasa penasaran masih menyelimuti perasaannya.
***
Selesai acara Arga tak langsung pulang. Dia menggunakan kesempatan ini untuk bisa melepas kerinduannya pada Shepa. Lebih lagi di dorong oleh rasa penasaran akan keberadaan Wiji.
Dia melihat Shepa sedang duduk bersama Kean segera Arga menghampirinya. Beruntung Kean ada di sana, setidaknya dengan keberadaan Kean dia punya kesempatan untuk menghampiri. Intinya Arga basa basi busuk ya.
"Ternyata ponakan Om Arga ada disini ya?"
Kean yang mengacuhkan Arga. "Kean itu di panggil sama om nya nak" Shepa menegur Kean yang malah asik dengan mainannya.
"Hi She. Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik"
"Gimana keadaan Wiji?" Pertanyaan Arga tak langsung mendapat jawaban dari Shepa. Arga malah mendapati wajah sendu di wajah perempuan itu. "Apa aku salah bertanya? maaf jika iya" Arga merasa tak enak hati.
"Doakan yang terbaik untuk Kak Wiji ya" Mendapat jawaban seperti itu Arga semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Empat tahun menjauh dari mereka ternyata banyak hal yang terjadi dan Arga tidak pernah mengetahuinya. Arga yakin sesuatu yang besar tengah terjadi antara Shepa dan suaminya.
"Shepa ada telepon" ucap Ibunya Shepa yang menghampiri. "Dari rumah sakit" lanjutnya lagi. Shepa langsung meninggalkan Arga dan Kean.
"Rumah sakit? apa Wiji sakit?" Pikiran Arga kembali dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak mendapat jawaban. Pada akhirnya dia mendapatkan jawaban itu dari Bimo. Rasa iba dan sesal hadir secara bersamaan. Dulu Shepa selalu ada untuknya, tapi dia selama ini tak pernah ada untuk Shepa. Hanya karena demi ego dia menjauhi orang-orang yang selalu ada untuknya. Bahkan Arga sempat tidak ingin tahu apa pun yang terjadi dengan mereka. Hari ini matanya terbuka, dia menyadari itu hanya suatu kebodohan.
.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih untuk sahabat author yang masih menyimpan cerita ini di fav kalian. Author senang bisa kembali melanjutkan cerita ini. Semoga sahabat pun merasakan seperti itu. Author rindu sama sahabat. Minal aidin walfaizin ya sahabat.