Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
27


__ADS_3

Ledya masih memfokuskan tatapannya pada layar monitor yang menunjukan angka angka. Sesekali ia terlihat membenarkan kacamatanya. Tangannya yang berwarna kuning langsat serta jari jarinya yang lentik menari indah diatas keyboard.


Sementara rekan kerja yang ada tepat di samping kubikelnya sedang menyusun beberapa berkas yang ia siapkan untuk pertemuan setelah jam makan siang.


"Ya, makan siang di kantin atau di tempat lain?" tanya rekan kerja sekaligus rekan satu kost nya.


"Kayaknya makan di kantin deh" balas Ledya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar monitor.


"Kafe di sebrang jalan lagi ada promo dan diskon sampe 30% lho" ucap rekan kerjanya lagi.


Mendengar kata promo Ledya menghentikan jarinya yang sejak tadi tak hentinya menari diatas keyboard. Maklumlah nama juga anak kost, meskipun gajinya cukup memandai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tapi tatkala ada kata promo pasti tidak akan terlewatkan. Kalimat yang sering keluar dari mulut mereka "Dimana ada promo, Serbu!" Begitulah kurang lebihnya.


*Pengalaman authornya😊*


"Serius?" tanyanya


"Iya ih, dah yuk berangkat langsung. Kan kerjanya bisa dilanjutkan nanti" lanjut teman Ledya sambil beranjak berdiri dan menarik tangan Ledya.


"Eeh, bentar dulu jam makan siang kan masih kurang sepuluh menit lagi"


"Aduh udah deh gak usah terlalu disiplin toh gaji kita juga tetap aman kok"


"Tidak selamanya akan aman Lu. Lagi pula kita di gaji untuk bekerja sesuatu dengan aturan tertentu, mau makan gaji buta?" ucap Ledya dengan senyum tipis.


Ledya kembali memfokuskan diri pada pekerjaanya. Sementara temannya yang bernama Lulu tersebut berdecak kesal akan sikap Ledya yang terlalu patuh dengan aturan yang ada di perusahaan GF Commpany.


"Le, cepetan tar kafe nya keburu penuh, dan kita gak kebagian diskonnya"

__ADS_1


"Ya, diam dulu makanya, biar ku selesaikan lebih dulj pekerjaanku. Jika kau mengajakku terus bicara ya mana bisa selesai" ucap Ledya dengan mata yang masih berpusat pada layar monitor.


Ledya selain cantik ia juga terkenal akan sikap patuhnya pada aturan yang dibuat oleh perusahaan. Menyadari jika dirinya bukan siapa siapa dan gaji di perusahaan GF Commpany sungguh menggiurkan bagi orang sekelas Ledya untuk memenuhi kebutuhan dirinya serta ibunya yang ada di kampung, itulah alasan Ledya selalu patuh akan aturan ditempat kerjanya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ledya dan temannya berjalan menyembrang jalan untuk menuju kafe yang hari ini sedang ada promo diskonnya.


Seperti biasa Ledya dan Lulu selalu memilih meja yang ada di pojokan dan berdekatan dengan jendela kaca. Setalah memesankan makan siangnya mereka terlihat berbincang ria. Entah apa yang mereka bicarakan, gosip artis terbaru? pria impian mereka? gosip sesama pegawai GF commpany atau yang lainnya. Entahlah.


***


Arga mengeluarkan beberapa umpatan saat mobil yang dikemudikannya terjebak dalam kemacetan lampu merah.


Sementara Andi yang duduk di kursi penumpang sedang sibuk membalas pesan yang dikirimkan oleh ayahnya. Apa yang Andi dan sang ayah rencanakan? yang jelas author pun tidak mengetahuinya.


"Sabar kak, jakarta kan memang biasa macet" ucap Andi disela sela membalas chat dari ayahnya.


"Heh penumpang diam saja. Balas saja tuh chat dari kekasihnya" ucap Arga dengan ketus.


Andi menggelengkan kepala sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "Jomblo itu sungguh tidak enak sekali. Orang orang jomblo seperti mu cenderung tempramen, mungkin efek dari tidak tersalurkan" ucap Andi. Pipinya mengembung menahan tawa saat Arga semakin menunjukan ekspresi tidak sukanya.


Setelah bergelut dengan kemacetan dan panasnya ibukota akhirnya Arga dan Andi tiba di tempat parkir gedung GF Commpany.


Arga mengedarkan pandangannya memastikan jika dirinya tidak sedang dikerjai oleh sang papa. "Tidak ada polisi satu pun yang aku lihat disini" ucap Arga dalam hati.


Sebelum ia menanyakan yang sebenarnya pada Andi, tak sengaja matanya sekilas menangkap gadis yang ia cari tadi pagi. Gadis itu terlihat sedang berjalan bersama rekannya menyebrangi jalan namun Arga tidak terlalu jelas melihatnya karena efek teriknya mata hari yang begitu menyengat dihari itu.


Arga mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa orang yang ia lihat adalah orang yang sedang ia cari.

__ADS_1


"Benarkah gadis itu yang sedang ku cari. Tuhan tidak salahkan jika aku berharap. Semoga saja kali ini kebaikan Tuhan berpihak kepadaku" ucap Arga dilanjut dengan mengaminkannya.


Melihat Andi sudah berjalan lebih dulu, Arga pun segera mengikutinya. Arga dan Andi menaiki lift untuk bisa tiba diruangan kerja papanya.


Selama di lift pikiran Arga terus tertuju pada gadis yang ia lihat sekilas tadi. Jika itu benar gadis yang ia cari, berarti tidak ada ruginya ia ke kantor sang papa hari ini.


Denting lift yang menunjukan bawah mereka sudah sampai dilantai sang ia tuju menyadarkan Arga dari segala pikirannya.


Ruangan Galih tak jauh dari letak lift berada jadi merka tidak akan kesusahan mencari ruangan papanya. Terlebih lagi ini baru pertama kalinya bagi Arga menginjakan kaki di lantai ruangan sang papa.


Meski Arga sudah melihat dengan jelas kesuksesan yang didapatkan oleh ayahnya, tetap saja ia tidak tertarik untuk melanjutkan bisnis tersebut. Ini bukan fasihonnya, dalih Arga. Padahal apa bedanya dengan kafe yang dikelolanya sama sama bisnis bukan?


Galih tersenyum saat melihat siapa yang ada dibalik pintu namun ia masih pura pura memfokuskan mata pada dokumen yang sedang dibacanya.


"Pa" tegur Andi yang kemudian mendarakan pantatnya pada sofa berwarna abu namun terlihat elegant dan mewah diikuti Arga.


Arga tak menampakan senyum sama sekali pada papanya saat ia menyadari bahwa tidak ada satu polisi pun seperti yang dikatakan Andi tadi.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Galih saat ia sudah menutup serta menyimpan berkas yang tadi dipelajarinya.


"Belumlah pa" balas Andi.


"Arga?"


"Sudahlah pa, tidak usah terlalu banyak basa basi. Andi tadi bilang dikantor papa banyak polisi sementara aku tidak melihatnya satu pun polisi disini. Pa, aku sudah tau maksud dan tujuan papa. Sekali lagi aku tidak tertarik menjadi pengganti papa disini." Andi langsung bicara pada inti. Susana hati yang buruk sejak tadi membuat Arga bicara dengan nada sedikit tidak sopan.


"Tidak tidak, papa tidak akan membahas soal itu. Papa hanya ingin makan siang bersama kalian saja" ucap Galih dibumbui dengan senyum tipisnya. Sementara Arga mendelik hebat saat mendengar pengakuan ayahnya.

__ADS_1


"Ya jika papa tidak seperti ini kapan lagi papa bisa mengajak mu untuk makan siang bersama disini. Tau sendiri kau sangat susah sekali diajak ke kantor papa. Sepertinya kau sangat alergi dengan kantor papa" kilah Galih Firdawan.


"Meskipun aku sudah tua tapi aku tidak akan kalah ide dengan yang muda" ucap galih dalam hatinya.


__ADS_2