Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
34


__ADS_3

Masih sibuk dengan pekerjaannya, Arga tak menghiraukan notifikasi yang masuk di ponselnya. Notifikasi yang masuk ialah pesan dari Galih.


Beberapa notifikasi itu terdengar namun Arga masih saja tak menghiraukannya. Galih yang memang sedikit memaksa akhirnya melakukan panggilan telepon.


Arga meraih ponselnya yang tak henti berbunyi sejak tadi. Mulutnya berdecak saat melihat nama yang tertera di ponselnya. Setelah menggeser ikon berwarna hijau Arga mendekatkan benda pipih tersebut ke daun telinganya.


Baru saja Arga hendak bicara papanya sudah mendahuluinya.


"Kenapa kau tidak membaca pesan yang papa kirim sejak tadi?"


"Pa, aku sedang sibuk dengan pekerjaan yang papa berikan" balas Arga


"Cepat pulang, papa lupa nanti malam kita harus menghadiri undangan dari keluarga Ahmed"


Arga menghela nafas saat sambungan telpon sudah berakhir. Inilah yang Arga tidak suka dari sifat sang papa. Pemaksa.


***


Meskipun tidak ingin ikut menghadiri undangan dari keluarga Ahmed akhirnya Arga berangkat juga. Papa nya semakin berdalih alasan mengapa Arga harus hadir ialah karena ia sekarang pemimpin diperusahaannya.Arga merasa hidupnya semakin dibuat ribet olah sang papa.


"Kau lihat, yang hadir disini mereka kebanyakan para pemilik saham dari perusahaan besar. Jika kau berhasil membuat satu saja dari mereka tertarik untuk bekerja sama dengan kita, itu akan sangat menguntungkan sekali" ucap Galih


Arga hanya mengangguk angguk saja mendengarkan ucapan papanya. Ditengah keramaian itu ada satu sosok yang menarik perhatian Arga.


Ya wanita yang Arga lihat bersama dengan anak sulung dari keluarga Ahmed adalah seseorang dimasa lalunya. Arga semakin mempertajam penglihatannya. Ya tidak salah lagi itu adalah Revina. Kekasihnya dimasa lalu dan orang yang pernah ia perjuangkan.


Satu sudut bibirnya Arga tarik hingga terlukis senyum sinis disana. "Hebat" ucapnya. Meski demikian ia masih saja memusatkan pandangnnya kesana. Mulut dan hatinya tidak singkron

__ADS_1


Arga menjauh dari tempatnya tadi. Berharap agar luka di setahun yang lalu tidak teringat kembali. Harapan ternyata tidak sesuai ekspektasi. Arga yang berusaha menjauh dari tempat itu malah berhadapan dengan Shepa dan Wiji.


"Ya Tuhan"


"Arga" Wiji menyapanya.


"O, o hai apa kabar?" balas Arga pada Wiji namun tatapannya mengarah Shepa yang sama sekali tak menganggap keberadaanya.


"Aku ke toilet sebentar" ucap Shepa pada Wiji dan Wiji mengiyakannya. Melihat hal itu Arga yakin jika Shepa tidak menginginkan pertemuan ini meskipun tidak sengaja sama sekali.


Basa basi seperti ini sebenarnya adalah hal yang membosankan baginya ditambah jika hal itu harus dibumbui dengan kepura puraan. Ah sungguh tidak ada faedahnya sama sekali.


Meninggalkan semua hal yang membuatnya sakit itu adalah hal paling penting. Hidup tak hanya sekedar harus merasakan luka, jika hanya luka yang selalu ditemukan maka cobalah buka mata selebar mungkin agar kau mampu melihat yang namanya kebahagiaan meskipun itu sangat kecil.


Arga dan yang lainnya sedang menikmati jamuan yang disediakan penyelengara. Saat Arga berdiri dan hendak melangkah ke kamar mandi ia berpapasan dengan Revina yang saat itu juga baru keluar dari sana.


Arga dan Revina saling menatap satu sama lainnya. Bibir Revina terlihat bergetar hendak mengucapkan sesuatu namun terlihat masih ditahan.


"Aku mencarimu dan ternyata kau disini" ucap pria yang sedang berjalan menghampiri Revina. Pria itu memicingkan mata saat melihat Arga masih saja berdiri disana.


"Kau mengenalnya?" tanya pria itu kepada Revina. Revina terlihat sedang menyusun sebuah jawaban.


Mengejutkan, Arga pikir Revina akan mengatakan bahwa ia adalah masalalunya, ternyata tidak.


"Tidak, mungkin dia salah satu kolega bisnis papa mu" balas Revina.


Revina dan pria itu berlalu dari sana dan Arga melanjutkan tujuannya. "Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk seseorang mengakui kalau aku pernah dihidupnya. Seburuk itukah aku dimata mereka" ucap Arga yang berdiri didepan cermin wastafel sambil membenarkan jas yang melekat ditubuhnya.

__ADS_1


***


Pukul 24:05 acara yang Arga hadiri sudah berakhir dan Arga lebih memilih pulang lebih dulu tanpa menunggu Galih.


Apa yang Revina ucapkan tadi masih melekat diingatan Arga hingga menemani perjalanan pulangnya.


Malam itu Arga memilih tidak pulang ke rumah orangtuanya. Dia lebih memilih untuk pulang ke rumah yang dibelinya dulu. Sampainya dirumah Arga langsung menuju kamarn dan merebahkan diri di tempat tidurnya.


Sudah cukup rasanya melewati hari yang melelahkan dan kini tiba saatnya ia mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah melewati hari ini.


Tubuh yang lemah itu kini terlihat tenang dengan hembusan nafas yang teratur. "Kenapa hari ini harus ada?" kalimat itu masih menari dipikirannya hingga Arga tak mengingatnya lagi dan benar benar terlelap.


.


.


.


.


.


.


.Menurut kalian bagaimana sih sikap Arga seharusnya?


Guys coba deh berikan komentar kalian dengan apa yang dilakukan Revina, dan Shepa dimalam itu!.

__ADS_1


Menurut kalian bagaimana dengan Ledya?


Aku tunggu dikolom komentar ya. Terimakasih


__ADS_2