Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
45


__ADS_3

Setelah perbincangan tadi dengan Tari, hatinya sedikit menghangat. Tak ada salahnya jika dia memberikan kesempatan untuk Arga. Sebenarnya tak perlu dia melihat yang sudah lalu. Sebab semua memiliki jalan cerita sendiri. Harusnya dia bisa berdamai dengan keadaan. Lebih lagi wajar jika dulu Arga mengabaikan perasaan dirinya. Dia tidak bisa memaksakan kehendak sendiri demi perasaan.


Hari ini dia berniat menemui Arga. Ya semoga saja Arga tidak tersinggung dengan sikapnya tadi malam.


"Kia ingin bertemu dengan mu, bisakah?" Shepa memberanikan diri mengirim pesan tersebut. Mengatas namakan Kia itu adalah jalan ninjanya.


Di sana Arga yang enggan keluar dari selimut membuka paksa matanya saat mendengar sebuah notifikasi. Mata yang tadinya rapat seperti di lem kini membuka lebar. "Bisa, haruskah aku menjemputnya ke sana" Secepat kilat Arga membalas pesan tersebut. Dia tak berpikir lain, ini merupakan kesempatannya.


"Taman minggu lalu" Shepa berusaha menenangkan detak jantung yang berlalu tak karuan. Pipinya memerah saat membaca kembali isi balasan dari Arga.


Segera Shepa menghampiri Kia. Dia mensejajarkan tingginya dengan gadis itu. Dengan senyum dia berkata "Kia mau ketemu papa lagi kan?"


Kia yang sedang memasukan buah ke dalam mulutnya pun langsung mengangguk. "Kalau gitu ayo kita ganti baju dulu" ajak Shepa.


Beberapa potong buah yang tersisa di piring langsung Kia masukan ke dalam mulutnya. Pipinya mengembung dan dia terlihat kesulitan untuk mengunyah. Namun di mata sang ibu Kia malah terlihat menggemaskan.


***


Arga kembali membaca pesan dari Shepa. Memastikan jika dia tidak salah baca. Seketika Arga loncat kegirangan, tak disangka Shepa benar benar mengajaknya bertemu.


Selimut yang tadi dia peluk langsung ternistakan begitu saja. Arga segera membersihkan diri. Beberapa lagu bernada cinta kini terlontar secara random dari mulut Arga.


Senang bukan main, ini yang dia harapkan. Andai saja ada yang melihatnya pasti akan menyangka jika Arga sudah gila. Tak lupa dia pun mengirimkan pesan pada Bimo. Memberitahu kabar gembira menurutnya. Padahal di sana entah seperti apa yang membacanya.


Arga memakai pakaian santai Jeans selutut serta kaos berwarna putih. Sapatu warna putih dan jam tangan hitam jadi pemanisnya. Rambutnya di sisir rapi ke belakang.


"Aku tak sabar ingin segera mendengar pujian dari Shepa. Arga kau tampan sekali" ucapnya menirukan gaya Shepa dulu.


Sebelum berangkat dia mengirimkan pesan lebih dulu pada Shepa. "Aku sudah berangkat, kamu yakin aku tak perlu menjemputmu?"


Setelah mendapatkan balasan penolakan Arga segera menyalakan mesin mobilnya. Kembali berkaca pada kaca spion untuk memastikan penampilannya. Berdeham beberapa kali untuk menenangkan perasaan. Dia tidak boleh bersikap nora atau kekanak-kanakan.


"Lets go" ucapnya bersemangat lalu menjalankan mobilnya.


***

__ADS_1


Shepa memilih menggunakan taksi untuk sampai di tujuannya. Dia sungguh pandai menyembunyikan perasaannya. Dia bersikap seolah biasa biasa saja padahal hatinya bergetar, jantungnya berlalu kencang.


Sementara Kia bersenandung riang menyanyikan lagu khas anak anak meski intonasinya tak begitu jelas.


Shepa sibuk menyusun kata, memilih dan memilah. Jangan sampai dia mengeluarkan kata yang akan membuat dirinya menyesal seumur hidup. Lagi pula jika ini memang takdir yang harus dia terima, ya mau bagaimana lagi.


Tanpa ada yang meminta senyum tipis terlukis di bibirnya. Sepandai pandainya menyembunyikan perasaan pasti ada saja anggota badan yang membocorkannya.


***


Arga tiba lebih dulu. Dia sudah duduk di bangku taman yang sama seperti minggu lalu. Boneka lucu berwarna pink kini di sebelahnya. Kakinya mengetuk ngetuk tanah tanda dia tak sabar. Cemas, bisa saja Shepa membatalkannya.


Sepuluh menit menunggu akhirnya datang juga. Si kecil Kia berlari ke arahnya sambil berteriak papa. Segera Arga merentangkan tangan menyambut si kecil. Entah lah dia sesayang itu pada Kia. Kalau sama ibunya tentu lain cerita.


"Lama menunggu ya?"


"Enggak aku baru saja sampai."


Baru sepulu menit, jangankan sepuluh menit, empat tahun menunggu saja aku kuat kok. Ucap Arga dalam hatinya.


Melihat Arga dan Kia yang bermain kejar kejaran sampai Kia tertawa puas, Shepa kembali meyakinkan diri. Apapun nanti orang berkata dia harus menerimanya. Mungkin saja nanti akan ada yang berkata "Ko orang se-ganteng Arga mau sih sama janda anak satu?" "Daripada sama janda mending sama aku saja"


"Ah papa capek, duduk dulu yuk" Ajak Arga.


"Seru mainnya?" Shepa bertanya pada Kia.


Kia mengangguk diikuti senyum.


"Jadi gimana?" Tak sabar menunggu Shepa yang tak kunjung bicara akhirnya Arga bertanya lebih dulu setelah meneguk air mei eram yang di sodorkan Shepa.


"Apa?" Shepa pura-pura lupa.


Arga tersenyum melihat tingkah Shepa yang seolah malu-malu. "Sudah gak usah malu-malu, aku sudah tahu perasaan mu dari dulu. Tak perlu berdusta lagi"


"Kalau kamu tahu dari dulu kenapa tak di perjuangkan"

__ADS_1


"Aku terlambat menyadarinya" Arga terkekeh geli saat mengatakan itu. "Kenapa kamu tak jujur?"


"Aku menghargai perasaan dia"


"Tapi kamu tak menghargai perasaan mu"


"Aku wanita, tak mungkin memulai lebih dulu"


"Jadi intinya?" Arga menatap Shepa. Tatapan merek bertemu. Saling mengunci untuk menemukan jawaban. Cukup lama mereka saling tatap sampai akhirnya Arga menimpulkan jika Shepa menerimanya.


Kia yang sedang memakan eskrim menatap tak mengerti dua orang dewasa tersebut. Kalau saja dia sudah pandai berkata mungkin akan mengatakan. "Apaan sih gak jelas amat"


Shepa mengangguk meyakinkan Arga. Lalu keduanya saling tertawa menyadari sikapnya masing masing. "Aku sudah lelah membohongi diri, berusaha menghapus bayangmu namun ternyata tak mampu. Empat tahun ku tutup perasaan untuk mu ternyata tak hilang bagitu saja. Seharusnya aku senang saat mendengar permintaan mu. Namun aku memilih pura pura. Padahal aku tersiksa dengan semua itu. Aku menyetujui permintaan mu"


"Aku pun sama tersiksnya, seharusnya waktu itu kamu tak ambil keputusan secepat itu. Aku menyesal menyadari nya. Saat itu aku ingin bangkit mengejar cinta mu namun terlambat. Aku menghabiskan malam bersama bayanganmu. Ku peluk bayang itu untuk menengakan, meski ketika pagi kembali menyapa pahit yang ku terima. Jadi kamu mau menemani ceritaku?"


Shepa mengangguk, sementara Araya bersorak melihat itu. "Kalau aku tahu kamu akan menerimanya, mungkin hari ini aku sudah boleh memeluk mu"


"Emangnya bisa secepat itu?"


"Bisa dong kan sekarang kereta cepat Bandung-Jakarta sudah mau jadi." balas Arga dengan canda.


Semua persiapan Arga hilang begitu saja. Yang tadinya dia berpikir untuk bersikap tenang malah kebalikannya. Terlampau senang. Tak sia-sia dia menyebut nama Shepa dalam doa malamnya.


Arga langsung mengangkat Kia ke udara. "Kia aku jadi papa kamu"


Sementara Kia terlalu asik dengan keadaan dan memang tak mengerti maksud Arga. Kia hanya tertawa lepas.


.


.


.


.

__ADS_1


Selamat pagi sahabat author, selamat beraktifitas. Nanti sore sepertinya akan ada bab lagi. Keep health, stay safe dan tetap semangat. Yang jomblo kalau gak ada yang ngasih semangat, tenang saja kita sama kok 😊


__ADS_2