
Perbincangan Bimo dan Arga terus berlanjut, sesekali mereka tertawa bersama meneteskan Andra yang selalu bertingkah polos. Obrolan mereka terhenti saat ada panggilan masuk dari istri Bimo. Bimo mengangkat telpon tersebut sementara Andra bercanda bersama Arga.
"Hahaha kenapa kau selalu menggemaskan?" Arga mencubit kedua pipi Andra yang menyembul itu.
"Mami juga selalu bilang begitu om. Kata mami aku lucu hihi" ucap Andra sambil mengongkang ongkangkan kakinya karena tidak sampai mmmenyentuh lantai.
"Om dirumah aku sekarang rameee bangeeet" ucap Andra penuh ekspresi.
"Oh iya rame kenapa?" balas Arga.
Andra melipat kedua tangannya di dada, kepalanya di gelengkan pelan sementara bibirnya sedikit maju ke depan. "Iiihhh om Arga ini benar benar tidak asik. Masa om tidak tau, di rumah kan ada adik Kean, terus aku juga akan dapat adik baru lagi" ucap Andra, setiap nada yang mengiringi kalimat yang di ucapkan Andra selalu menjadi daya tarik Arga untuk menarik kedua sudut bibirnya.
"Adik baru? waaahhh hebat si Bimo dulu aja pura pura nggak mau sekarang berkembang biak terus" ucap Arga dalam hatinya.
Arga menahan senyum saat ia mengingat bagaimana dulu bersikap pada Leela. Mendengar ucapan Andra tentang adik baru lagi, rasanya ia ingin sekali meledek Bimo lalu tertawa sekenacang kencangnya.
"Waaah papinya Andra hebat ya, bisa bikin adik bagi lagi" ucapnya
"Kok papi sih om, kan adik barunya dari bibi Shepa dan paman Wiji, kata mami aku jadi kakak lagi" jelas Andra dengan logat khasnya.
Arga diam sejenak mencerna ucapan Andra. Berpikir sejenak, rupanya memang benar benar tak ada celah lagi bagi ia memperjuangkan perasaannya. Shepa sudah bahagia, Revina apa kabar? Bagaimana dengan dirinya sendiri.
Bimo menepuk pundak Arga yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Arga terlonjak kaget kemudian ia kembali menguasai dirinya.
"Bengong aja" ucap Bimo sambil kembali duduk setelah tadi ia harus pergi sejenak dari sana demi sebuah panggilan dari orang terkasih.
"iya, pi dari tadi om Arga banyak diamnya. Benar benar tidak asik" ucap Andra sambil turun dari sofa dan berjalan menghampiri Bimo.
"Kau baik baik saja" tanya Bimo saat ia melihat perubahan dari raut wajah sahabatnya itu.
"Aku tidak baik baik saja"
"Kau butuh bantuan ku?" tawar Bimo.
__ADS_1
"Terlambat" jawab Arga. Wajah sendu itu kembali menghampiri hidup Arga. Ingin rasanya Arga mengumpat nasib yang tak pernah berpihak kepada dirinya. Ya Arga memang berpikir demikian. Berkali kali ia menomcoba untuk bangkit dari lubang penyesalannya namun ada saja batu yang menghantamnya hingga ia harus kembali jatuh.
"Andra tadi bicara apa sama om Arga?" tanya Bimo pada anaknya. Bimo memang cukup kritis pemikirannya. Ia yakin yang membuat raut wajah Arga kembali sendu pasti sesuatu yang mengenai Shepa.
"Aku tidak berkata yang buruk kok pi, tadi aku hanya kasih kabar bahagia pada om Arga."
"Kabar bahagia?" kening Bimo berkerut.
"Iya papi, aku kan mau jadi kakak lagi dari adik bayinya bibi Shepa dan paman Wiji" balas Andra.
Bimo berdecak kesal. Bukan kesana pada Andra namun ia lebih kesal akan sikap Arga. Baru saja tadi ia memberikan nasehat panjang lebar kepada Arga. Rasanya sungguh sia sia jika nasehat itu tidak diterima dengan baik.
Bimo menatap Arga dengan tatapan tajamnya. "Rasanya percuma aku memberikan saran pada mu. Semua kalimat yang keluar dari mulut ku kau anggap sebagai angin lalu saja. Kau akan terus seperti ini Arga?" ucap Bimo lantang.
"Datanglah ke rumah ku, disana banyak rok dan gaun yang tidak dipakai lagi oleh istriku. Rasanya itu akan sangat cocok jika yang memakainya adalah pria seperti mu" kalimat yang Bimo ucapkan memang tidak banyak namun penuh penghinaan.
Kalau istilah sunda mah "Saeutik tapi nyelekit"
Sebenarnya Arga tidak menerima apa yang baru saja Bimo katakan. Ingin ia menyela ucapan Bimo namun hati dan pikirannya tak sanggup untuk bekerja sama. Bahkan urat syaraf nya pun terasa melemah. Kadang cinta itu bisa membuat yang waras menjadi tidak waras, yang kuat menjadi lemah. Seperti Arga saat ini.
Arga mengangkat wajah sendunya. Matanya menemui Bimo yang juga sendang menatapnya. Senyum sebagai tanda untuk memberikan semangat pada Arga terlukis di wajah Bimo. Bimo mengangguk.
"Haaahhh pusing, aku tidak mau jadi seperti om dan papi" celetuk Andra yang sejak tadi memperhatikan serta menyimak percakapan dua orang dewasa yang ada di dekatnya. "Papi aku mau pulang"
Bimo melirik Andra yang membrengut kesal. "Sebentar ya" ucapnya.
"Ga, sebagai salah satu orang yang dekat dan mengenal bagaimana kau yang sebenarnya. Kami sangat menyayangkan sikap kau yang seperti ini. Kau bukan orang yang asyik lagi. Jika aku tak mampu menolongmu dari lubang penyesalan tersebut, maka aku mengharapkan dengan sangat kau akan mampu keluar dari sana secepat yang kau bisa."
Pernah tidak kalian merasakan penyesalan yang teramat sangat? jika pernah bagaimana kalian menyikapi hal tersebut. Dan apa dampak dari penyesalan tersebut. Markishe!
Setelah Bimo kembali memberikan saran kepada Arga kemudian berpamitan karena Andra tak berhenti merengek ingin segera pulang.
Bimo berpapasan dengan Andi yang kebetulan saat itu juga sedang berada disana.
__ADS_1
"Di?" sapa Bimo.
"Kak Bimo, Andra kenapa terburu buru sekali?" balas Andi.
"Andra sudah kangen dengan mami dan adiknya. Makanya kami harus segera pulang" jelas Bimo.
"Oh begitu, hati hati ya kak" ucap Andi sopan. Setelah bertegur sapa dengan Bimo Andi kembali melangkah menunju ruangan kerja sang kakak.
Andi datang ke AGB kafe tak lain karena tugasnya dari sang papa. Galih Firdawan ingin Arga segera menenuminya. Jika tidak di jemput paksa seperti ini Arga selalu saja memberikan banyak alasan. Namun kali ini Galih tidak ingin menunggu kesadaran Arga untuk berkunjung ke perusahaannya. Jemput paksa adalah cara yang tepat.
Andi tiba diruangan kerja sang kakak, ia menggelangkan kepalanya berkali kali saat melihat ekspresi Arga. "Ya ampun apa dunia ini sebegitu sempitnya bagi mu kak. Bosan kak jika harus melihat ekspresi seperti ini tiap hari" ucap Andi sambil duduk di sofa single tepat di seberang Arga.
"Jika kau datang hanya untuk meledek ku maka segeralah pergi! aku tidak membutuhkan mu" ucap Arga sambil memalingkan wajahnya.
Andi mencebikkan bibirnya. "Ikutlah bersama ku jika kau tidak ingin terjadi sesuatu dengan papa" ucap Andi.
Spontan Arga langsung menatap Andi meminta penjelasan. 'Terjadi sesuatu' Memangnya apa yang terjadi dengan papa bukankah tadi sepertinya papa baik baik saja.
"Aku juga tidak tau tapi tadi di perusahaan papa begitu banyak sekali polisi berlalu lalang. Makanya ikutlah dengan ku" Bohong Andi. Soal bersilat lidah jangan ragukan Andi, jika ia tidak pandai mana mungkin ia sudah kembali mendapatkan gadis incarannya.
Tak disangka Arga akan percaya dengan mudahnya kepada Andi. Padahal ini hanyalah sebuah trik Andi dengan sang papa.
Yang tua ternyata tak selalu kalah oleh yang muda. Kalimat tersebut adalah kalimat yang sering Galih katakan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Next jangan lupa kasih dukungannya ya!!!