
Tepat pukul 18:15 menit Ledya baru tiba di kostnya. Badannya basah kuyup karena sore tadi hujan mengguyur ibukota, belum lagi ia terkena macet.
Setelah memarkirkan motornya, ia segera masuk ke dalam kamar kostnya yang terletak dilantai 2.
Lima belas menit Ledya menghabiskan waktu untuk membersihkan diri serta menjalankan kewajibannya. Setelah itu ia langsung merebahakan tubuhnya pada kasur swalow yang jadi alas tidurnya selama ia menjadi anak kost.
Mata Ledya memandang langit langit kamar kostnya. Kejadian sore tadi kembali terngiang dibenaknya. "Pria itu tidak akan bisa berbuat macam macam terhadapku. Aku bukan gadis rata rata yang kebanyakan rela melepas harga dirinya hanya karena uang. Kita lihat apa yang akan dilakukan pria brengsek itu besok" ucap Ledya dengan bibir setengah tersungging hingga senyum sinis terlukis jelas disana.
Setelah memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi besok, Ledya dikejutkan oleh dering telpon yang begitu nyaring dari handphonenya yang sedang di charge.
Karena tubuhnya sudah sangat nyaman nempel dengan kasur tidurnya, dengan malas malasan Ledya memaksa tubuhnya untuk bangun dan mengangkat panggilan yang sejak tadi tak kunjung berhenti.
Layar telpon tersebut memunculkan tulisan bernama "Ibu" Ledya segera menggeser ikon berwarna hijau dan meletakan benda pipih itu pada daun telinganya.
"....." Suara di seberang sana.
"Iya bu, Dya sudah pulang, ini juga sedang tiduran di kamar kost" jawab Ledya. Entah apa yang mereka obrolkan karena tiga puluh menit sudah berlalu namun sambungan telpon tersebut belum berakhir.
Melepas rindu? bisa jadi namanya juga anak kost ya.
"Ibu dari dulu selalu saja mengkhawatirkan ku, padahalkan aku sudah besar, sudah bisa jaga diri pula" ucap Ledya saat panggilan bersama ibunya sudah berakhir.
Baru saja Ledya meletakan kembali benda pipih tersebut pada meja, sebuah notifikasi masuk. Ledya yang sudah kembali menempelkan tubuhnya pada kasur, kini ia dipaksa harus bangun kembali.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. "Selamat tidur๐" 082113xxxxxx
Ledya mengerutkan kening saat membaca pesan dari no tak dikenal itu. "Tidak penting sekali" ucap Ledya sambil meletakan kembali ponsel tersebut.
Notifikasi kembali masuk, dan Ledya segera membuka pesan masuknya. "Sudah ku duga kau takan membalas pesan ku. Tapi tak apalah semoga mimpi indah ya" 082113xxxxxx
__ADS_1
"Dasar manusia tidak punya kerjaan" ucap Ledya sambil merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya. Dering ponsel tak lagi mengganggunya, tapi kali ini bunyi perutnya lah yang memaksa Ledya untuk kembali bangun.
Ledya pergi ke warung untuk membeli mie instan. Biasa anak kost saat tak ingin ribet memasak atau tak ingin menunggu pesanan lama maka mereka memilih yang paling praktis dan bisa diandalakan "Mie instan"
***
Senyum tipis yang nyaris tak terlihat menyertai Arga yang sedang asyik dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukan oleh Arga sehingga dirinya senyum senyum seperti itu.
Memang sejak makan malam tadi Arga tak lagi keluar dari dalam kamar. Pintu kamar Arga terdengar dibuka oleh seseorang dari luar. Arga terhenyak dan segera menegakan tubuhnya untuk duduk.
"Kenapa kau tidak ketuk pintu dulu" tegur Arga saat melihat Andi berdiri dekat pintu.
"Percuma kak diketuk jika kakak pun tak menghiraukan ketukan di pintu ini" balas Andi dengan wajah sedikit membrengut. Entah kenapa bisa seperti itu. "Papa menunggu kakak diruang kerjanya!" seru Andi setelah tadi diam sejenak. Mungkinkah ekspresi wajahnya seperti itu karena ia tidak ingin diperintah oleh papanya? Bisa saja.
Arga mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Sementara Andi kembali pada aktifitasnya semula sebelum ia disuruh oleh sang papa.
Arga membenahkan pakaian serta rambutnya sebelum akhirnya ia melangkah untuk menemui papanya.
Setelah mendapat jawaban dari yang didalam, Arga segera memutar handle pintu dan masuk. "Ada apa papa memanggilku kemari?" tanya Arga sambil ikut duduk di sofa dimana sang ayah sedang duduk juga disana.
"Ini ...." Galih menyodorkan beberapa dokumen kepada Arga. "Pelajari ini karena besok ada pertemuan dengan pihak SG coorporation" lanjut Galih sambil membenarkan letak kacamatanya.
Arga memicingkan mata sambil meraih dokumen yang ada dihadapannya. Tangan Arga segera membuka dokumen tersebut. Setelah ia melihat inti dari dokumen itu, barulah Arga memberikan kembali bicara. Senyum karaguan terlihat dari raut wajah Arga. "Aku tidak yakin akan berhasil dengan proyek ini" ucap Arga.
Galih menepuk pundak Arga dan meyakinkan anaknya itu. "Berhasil atau tidak itu urusan belakang, tapi tugas yang harus kau lakukan adalah mencobanya lebih dulu" ujar Galih.
"Tapi aku belum pandai untuk hal itu pa"
"Kau akan selamanya seperti itu jika kau tak mau mencoba untuk mempelajarinya. Ingat perubahan tidak akan terjadi jika kau tak merubahnya sendiri. Hapus keraguan mu dan cobalah!" ucap Galih pasti.
__ADS_1
Arga mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut papanya. Diam sejenak sambil matanya terus menatap dokumen itu.
Keraguan selalu menghinggapi seseorang saat dirinya diharuskan mencoba sesuatu hal yang baru. Banyak dari mereka yang langsung berani tapi tidak sedikit pula mereka meragukan dirinya. Itu hal yang wajar. Benar bukan?
"Bagaimana?" tanya Galih sambil mata yang dilindungi kacamata itu menatap Arga penuh harap. "Demi papa" ucapnya lagi.
Arga mengatur nafasnya secara perlahan dan mencoba meyakinkan diri. Tangannya kembali meraih dokumen yang tadi sempat diletakan kembali pada meja oleh Arga.
"Baiklah, aku akan mencobanya sebaik mungkin. Tapi aku harap papa tidak kecewa jika nantinya aku tidak sesuai seperti apa yang papa harapkan" ucap Arga, meski berkata demikian keraguan Arga mesin tetap menyelimutinya.
"Harus" balas Galih singkat.
Arga memainkan bibirnya saat rasa ragu itu tak kunjung pergi dari hatinya. Setelah terdiam cukup lama Arga bangkit dari duduknya serta membawa dokumen yang diberikan Galih. "Aku akan pelajari ini didalam kamar pa" ucap Arga yang langsung mendapat anggukan dari sang papa.
"Jika tidak dipaksa seperti ini, akan sulit sekali meminta Arga untuk melakukannya. Lagi pula aku merasa ini adalah hal wajar untuk anak pertama apalagi anak laki laki" ucap Galih dalam hatinya sambil memandangi Arga yang menghilang dari balik pintu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Maaf ya upnya masih terganggu. jangan lupa kasih dukungannya ya!!!! biar tambah semangat dan teu elok emol up na ๐