
"Mau coba wahana apa dulu?" tanya Wiji
"Yang mana aja, tapi ini kakak kan yang bayar?"
"Ya iya masa kakak di traktir kamu. Bisa turun harga diri" ucap Wiji sambil menarik lembut tangan Shepa untuk menuntun jalan.
Shepa memandang tangan Wiji yang sedang menggenggam tangannya. Sebuah senyum terpancar dari bibir tipisnya yang berwana merah muda.
Hari mulai menjelang malam, kelap kelip lampu di taman hiburan membuat hati setiap para pengunjung berubah menjadi senang. Tak terkecuali Shepa, hari ini hidupnya benar benar terasa nikmat dan berbeda.
Bagaimana tidak, malam ini Wiji benar benar memanjakan dirinya. Tidak ada stu pun wahana yang terlewatkan. Sampai pada akhirnya mereka sama sama merasa lelah.
"Huuuuuhhh luar biasa, kak sering sering ajak aku kesini ya" ucap Shepa sambil membuang nafasnya pelan.
Wiji membalas dengan senyum menawannya serta diikuti oleh anggukan kepala. "Sekarang mau kemana lagi?" tanya Wiji.
"Pulang" jawab Shepa pelan.
"Ini baru jam delapan lho, masa udah pulang"
"Aku nggak biasa kak pulang terlalu malam" Shepa memasang senyum menyeringai kemudian melanjutkan kembali kalimatnya.
"Antarkan aku pulang ya ka, tapi mampir ke tempat makan dulu ya" ucap Shepa.
"Euh ada mau nya baru aja bersikap manis"
"Nggak ikhlas nggak bakal berkah lho kak rezeki kakak" ucap Shepa dengan nada sedikit dinaikan.
Akhirnya Wiji menyetujui permintaan Shepa, bahkan Wiji juga membelikan beberapa cemilan kesukaan Shepa.
"Kak, kok banyak banget belinya?" tanya Shepa saat melihat jinjingan kantong plastik yang dibawa oleh Wiji.
"Bagi bagi rezeki biar tambah kaya" ucap Wiji diselingi candaan saat memberikan jinjingannya pada Shepa.
"Bisa naik ni BB kalau kayak gini" ucap Shepa pelan namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Wiji.
"Nggak apa kali She, kan bentar lagi lebaran haji, pasti banyak yang nyari" ucap Wiji sambil mulai menjalankan mobilnya ke arah jalan menuju kost an Shepa.
"Jahat emangnya aku kambing?"
"Iya"
__ADS_1
"Ih kak Wiji jahat, sebentar memuji tiga detik kemudian menjatuhkan, menyebalkan sekali" ucap Shepa sambil mendengus.
Wiji terkekeh melihat ekspresi Shepa saat sedang kesal seperti ini. Rasanya terlihat sungguh menggemaskan, kalau saja itu makan mungkin sudah dilahap langsung oleh Wiji.
Mobil yang dikendarai oleh Wiji kini tepat berhenti di depan gang ke kost an Shepa.
"Makasih ya kak untuk semuanya hari ini" ucap Shepa dengan senyum manis khasnya sebelum ia turun.
"Tunggu She" Wiji menghentikan Shepa sebelum pintu mobil benar benar terbuka.
Terlihat Wiji turun dan memutari mobil kemudian membukakan pintu penumpang untuk Shepa.
"ya ampun kak Wiji"
"Kak Wiji jomblo ya, makanya so soan romantis romantisan ke aku. Makanya kak segera cari calon" ucap Shepa sambil turun dari mobil milik Wiji.
"Lagi berusaha menedekati, siapa tau jodoh" ucap Wiji sambil tersenyum. Wiji benar benar mengantar Shepa sampai ke depan pintu kamar kost dan memastikan Shepa benar benar sampai di tempat dengan aman.
Shepa tersenyum khasnya setelah mengucapkan Terimakasih dan dijawab oleh Wiji disertai senyum pula.
Setelah Shepa masuk dan mengunci pintu, Wiji kembali ke mobil miliknya. Wiji diam sejenak memandang gang kost yang baru saja dilaluinya kemudian ia melajukan mobilnya menuju apartemen tempat tinggalnya.
***
Pada akhirnya Shepa membaringkan badannya di kasur yang selalu menemeninya setiap malam. Senyum manis khasnya masih terukir di bibir Shepa. Tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh Shepa jika ia akan tertawa kembali seperti tadi.
Wiji benar benar telah membuatnya tersenyum, bahkan sampai kantuk menyerang pun Shepa sama sekali tak mengingat Arga maupun Revina.
Shepa hanyut dalam indahnya mimpi dimalam yang dingin ini.
***
Didalam kamar yang terasa dingin oleh dinginnya Ac, seseorang sedang tersenyum mengingat kejadian hari ini yang tak pernah dipikirkannya sama sekali sebelumnya.
Namun sesuatu hal hari ini terjadi begitu saja, mungkin ini yang dikatakan rencana Tuhan selalu lebih indah.
"Apa aku bisa mengalihkan posisi dia dari hatimu?" ucapnya pelan sambil menatap langit langit kamarnya. "Semoga saja bisa"
***
Dinginnya udara pagi diperkampungan membuat dua orang yang kemarin datang dari ibukota sama sama malas bangun.
__ADS_1
Yah, Arga dan mang Ujang sama sama masih bergelut dengan selimut tebal yang melekat ditubuhnya seperti kepompong.
Ketukan dari luar kamar sama sekali tak dihiraukannya. Entah sudah berapa kali pintu diketuk namun tetap pada keadaan yang semula, tidak ada yang bangun dan membukanya.
"Waduh den, sudah pagi geuning tapi mamang mah masih betah didalam selimut" ucap mang ujang yang lebih dulu beranjak duduk dari tidurnya.
"Sama mang, mamang turun lebih dulu aja, nggak enak sama yang punya rumah, udah di ketuk mulu dari tadi pintunya" ucap Arga yang masih bergelut dibalik selimutnya.
"Bilang sama Revina, antarkan air minum hangat kesini" pinta Arga.
"Bilang aja aden mau berduaan dulu sama neng Revina, gitu aja kok repot" ucap mang ujang sambil memaksakan diri untuk bangun.
"Hehe mamang tau aja" Arga terkekeh.
Tak selang berapa lama setelah mang ujang keluar kamar, seseorang terdengar masuk dan mendekat ke arah dimana Arga tidur.
"Ga, bangun ih sudah siang" ternyata Revina benar masuk dan membawa minuman atas permintaan Arga yang disampaikan oleh mang ujang.
"berrrrr masih dingin" ucap Arga dari balik selimut.
"Udah tau perkamungan dingin masih aja kesini" ucap Revina sambil mendengus pelan.
"Namanya juga perjuangan cinta" ucap Arga masih seperti posisi semula.
"Halah lebay, ingat umur ingat" Revina mengingatkan sambil menarik selimut yang membungkus tubuh Arga.
"Iya makanya aku kesini, aku tidak mau jadi bujang selamanya"
Revina terkekeh mendengar jawaban Arga, hatinya terasa damai kembali saat Arga ada disisinya. "Andai apa yang kamu ucapan jadi kenyataan Ga, tapi apa aku tidak terlalu egois mementingkan kebahagiaan sendiri tanpa melihat disana ada hati yang tersakiti" batin Revina.
"Udah ah cepetan bangun ditunggu sama ibu untuk sarapan" ucap Revina sambil berdiri hendak meninggalkan Arga. Namun belum juga melangkah Arga berhasil menghentikan langkahnya. "Kenapa lagi?" tanya Revina.
Arga tersenyum menyeringai "Cium dulu boleh?" tanya Arga membuat Revina membelalakkan matanya lebar.
"Dasar mesum, belum waktunya" ucap Revina sambil menimpukan bantal yang dekat dari jangkauannya ke kepala Arga.
"Terus kapan" teriak Arga yang tak dibalas lagi oleh Revina. "Heemm ya sudah" ucap Arga pasrah sambil beranjak bangun meski sebenarnya ia masih merasa betah lama lama dibalik selimut.
Vote, like dan commentnya jangan lupa ya
Love U😘
__ADS_1