
"Kan Arga sudah bilang tidak pak, kenapa papa jadi pemakasa begini" ucap Arga sambil membrengut. Padahal lawan bicaranya itu tak mampu melihat ekspresi Arga.
"...." Suara di seberang sana.
"Tidak bisa pa, mengertilah papa" balas Arga dengan nada sedikit melas. Pandai sekali ia merayu sang papa.
"...."
"Iya iya aku paham pa" balas Arga. Sambungan telepon putus Arga pun berjingkrak ria, seperti berhasil menenangkan sebuah lotre. Persis anak kecil sekali.
Hari ini, Arga berencana untuk survei tempat untuk pelebaran cabang kafenya. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Arga meraih kunci mobil dan berjalan keluar.
Saat Arga sudah membuka pintu mobil, seseorang menghentikan niat Arga. Seseorang tersenyum ramah menghampirinya. Dialah Bimo sahabatnya yang tak pernah bertemu lagi dengannya sejak beberapa bulan yang lalu.
Bimo datang tidak lagi sendiri, melainkan ditemani seorang bocah kecil yang menggemaskan. Siapa lagi jika bukan Andra.
"Bim?" Sapa Arga saat Bimo sudah mendekat ke arahnya.
"Rupanya kau sedang sibuk sekali Ga" ucap Bimo saat langkahnya sudah berhenti tak terlalu dekat dengan Arga namun juga tidak terlalu jauh.
Arga menggelangkan kepala pelan, "Tidak juga, ada apa kau kemari? Ah dan ini si ganteng Andra sudah besar sekarang ya" ucap Arga sambil mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Andra.
"Iya dong om sekarang aku sudah besar, kan aku sudah jadi kakaknya adik Kean" ucap Andra. Sekarang nada bicara sudah tak lagi cedal, maklum lah sekarang Andra sudah duduk di bangku kelas satu SD. Meski demikian aura lucu nan menggemaskannya tak pernah luntur dari Andra.
"tidak apa apa, kebetulan tadi aku menjemput Anda dari sekolah, mungpung lewat sini ya aku sempatkan untuk menjenguk sahabat lama ku yang tenggelam dalam penyesalan. Terperangkap dalam rasa yang tak berkesudahan, yang berakhir dengan kasih tak sampai" ucap Bimo terdengar penuh dengan ledekan ditelinga Arga.
"Emmmmhhhh begini nih, kalau orang tidak tau terimakasih, padahal kau dan Leela juga bertemu karena ada perantara aku di dalamnya." ucap Arga tersenyum menang saat ia mengingat dulu pernah berhasil mengerjai Bimo.
"Om panas, masuk yuk" ucap Andra polos sambil mengipas ngipaskan tangannya. Memang hari ini cuaca sangat cerah sekali. Langit yang berwarna biru bersih tanpa di temani awan sedikitpun.
Arga tergelak melihat tingkah Andra yang sejak dulu selalu saja ada cara untuk membuat perhatian orang teralih kepadanya. "Baiklah, baiklah mari masuk" ucap Arga sambil mendorong pintu kaca yang menjadi pintu utama keluar masuk AGB kafe.
__ADS_1
"Andra lucunya gak pernah hilang ya Bim" ucap Arga saat mereka sudah masuk kedalam kafe dan memilih berbincang diruangan kerja Arga.
"Pasti dong, siapa dulu bapaknya" ucap Bimo sambil menepuk dada bidangnya.
"Jauh beda, jangan jangan Andra bukan gen dari kau lah Bim" ucap Arga, tawanya meledak saat melontarkan kalimat tersebut yang disambut ekspresi tidak suka oleh Bimo.
"Hus, ngelantur aja kalau bicara. Makanya cepat menikah biar nanti setiap kau pulang kerja di sambut oleh anak anak mu yang lucu. Cari yang singgel bro jangan wanita yang sudah bersuami" ucap Bimo. Tangannya terulur untuk mengambil cangkir berisi kopi yang baru saja di hidangkan oleh pegawai di AGB kafe.
"Betul om" ucap Andra tanpa melihat Arga, ia lebih fokus dengan makanan yang ada dihadapannya.
Bimo dan Arga saling bermain mata saat mendengar celetukan Andra yang terucap tanpa di komando.
"Tuh kan benar, Andra saja setuju dengan usul ku"
Arga diam sejenak sehingga keheningan tercipta diantara mereka. Kening Arga berkerut dalam sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Bimo memperhatikan sahabatnya itu. "Ada apa Ga?" tanya Bimo setelah keheningan terjadi selama beberapa menit yang lalu.
"Bim, sebenarnya aku juga ingin merasakan kebahagian seperti yang sedang kau miliki saat ini. Dan kau sangat tahu lah bagaimana aku selama satu tahun kebelakang ini ..." ucap Arga diam sejenak untuk menghirup udara sebanyak mungkin.
"Kenapa kau tidak kembali dengan sahabatnya Leela saja. Siapa dia aku lupa" ucap Bimo
"Revina?"
"Ya, bukankah gadis itu juga memiliki perasaan yang sama seperti Shepa kepada mu. Mungkin akan lebih baik jika kau melupakan rasa yang tidak tepat itu, dan kembali dengan rasa yang pernah ada. Revina masih sendiri kan?" Kali ini Bimo memberikan saran kepada Arga. Ya Bimo tidak menginginkan jika Arga terus terhanyut dalam perasaan yang tak seharusnya. Meskipun rasa tidak pernah salah dalam memilih tuannya, tapi jika melihat norma yang berlaku di masyarakat rasa Arga untuk Shepa adalah kesalahan.
Ya salah, karena status Shepa yang tak lagi sendiri, melainkan istri orang.
"Aku tidak tau dia masih sendiri atau tidak, tapi aku rasa jika harus kembali ke masa lalu rasanya tidak mungkin" ucap Arga.
"Kenapa tidak mungkin? Tidak ada yang salahkan? Daripada kau terus bergalut dengan perasaan yang semu dan tak akan terbalaskan. Yang ada kau akan semakin terluka" jelas Bimo.
Arga terlihat memikirkan apa yang Bimo ucapkan. "Bim, sebenarnya aku sudah menemukan seseorang yang memiliki sikap sama dengan Shepa. Ya mungkin aku tidak ditakdirkan untuk bersama Shepa tapi kebaikan Tuhan tak bisa kita perhitungan. Aku dipertemukan dengan dua kepribadian yang sama namun dalam jiwa yang berbeda" ucap Arga antusias saat ia mengingat tentang gadis yang di temuinya beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
Bimo menggeser posisi duduknya hingga berdekatan dengan Arga. Tangan kanan Bimo menepuk pundak Arga.
Bimo menggelangkan kepala sebelum ia memberikan tanggapan dari ucapan Arga. "Kau yakin kau akan bahagia?" Arga mengangguk, sementara Bimo kembali melanjutkan kalimatnya. "Tidak Ga" lanjut Bimo.
Arga menatap Bimo dengan tatapan minta penjelas dari kalimat yang diucapkan oleh Bimo.
Bimo mengerti arti tatap Arga. Ia kembali membenarkan posisi duduknya. "Maksud ku, jika kau ingin memulai sesuatu yang baru, apalagi soal pendamping hidup yang bukan kita butuhkan sementara tapi untuk selamanya, janganlah terikat oleh masa lalu. Menyamakan atau membanding bandingkan seseorang yang menjadi pendamping kita dengan masa lalu kita akan menimbulkan masalah baru. Apa lagi jika sampai kau membandingkannya dengan istri orang. Sampai sini paham?. Mulai lah dengan niat baik agar berkahir dengan baik pula. Bukan karena penyesalan atau obsesi mu semata. Aku yakin kau akan mengerti apa yang ku maksud" ucap Bimo.
Ditengah perbincanagn serius mereka tiba tiba terdengar letusan yang di sertai bau yang tidak mengenakan.
"Broooot" Kentut Andra keluar tanpa diminta. Andra nyengir menunjukan giginya yang masih terisisa disana, dengan ekspresi yanh biasa saja tanpa merasa bersalah.
"Astaga" ucap Bimo dan Arga serempak.
"Gak sengaja anginnya keluar sendiri pi" ucap Andra.
.
.
.
.
.
Hia apa kabar readers setia ku, yang selalu setia menunggu karya author meski karyanya masih jauh dari kata layak. Terimakasih sudah memberikan kritik dan saran melalui komentar aku sangat menghargai itu. Maafkan author ini jika apa yang author tulis sesuatu dengan apa yang kalian inginkan.
untuk lebih dekat dengan author silahkan Follow ig author (Ig: Nuryanthiag)
Sekali lagi Terimakasih ☺
__ADS_1