Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
30


__ADS_3

Arga pulang kerumah orang tuanya dengan perasaan senang. Turun dari mobil Arga langsung masuk kedalam rumah dan memeluk sang mama yang sedang berkutat didapur bersama beberapa pelayan.


"Kenapa?" tanya sang mama yang kaget tiba tiba dipeluk oleh Arga, namun Arga bukannya menjawab perkataan sang mama dia malah memeluknya kembali sambil memberikan kecupan dipipi sang mama.


"Ih Arga kenapa?" lanjut mama Arga yang tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. "Arga jawab mama"


Arga melepaskan pelukannya pada sang mama. Sekali lagi ia mendaratkan kecupan pada pipi sang mama kemudian ia melangkah menuju kamarnya.


Mama Arga menatap putranya dengan penuh rasa heran juga khawatir. Pasalnya tadi sebelum Arga tiba dirumah, suaminya sempat memberitahu dirinya bahwa ia berhasil membujuk Arga untuk menjadi penggantinya di kantor. Teringat akan hal itu ia khawatir jika Arga mendadak stres dengan permintaan papanya. Bukankah sejak dulu Arga tak menginginkannya.


Mama Arga yang sedang memikirkan anaknya dikagetkan oleh suaminya. "Mama kenapa sayang? Ada yang aneh?" tanya Galih saat memperhatikan raut wajah istrinya itu.


"Pa, apa tadi mama tidak salah dengar kabar dari papa kalau Arga setuju menggantikan papa di kantor?"


"Tidak, tadi dia langsung iya iya aja saat papa menjelaskan alasan papa. Ya meski alasan bohongan sebenarnya" Galih berbisik pada akhir kalimatnya takut jika Arga datang tiba tiba dan mendengarkan rencananya.


Wajah khawatir sang istri tak hilang begitu saja. "Apa tidak akan jadi masalah pada Arga jika kita terlalu memaksakan dirinya dengan keinginan kita pa?"


"Tidak, justru ini yang terbaik buat Arga." balas Galih. "Memangnya apa yang mama khawtirkan? Arga sudah dewasa kok ma" lanjut Galih.


Istrinya memejamkan mata sebelum lanjut menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Galih. "Barusan Arga pulang, tapi sikapnya jadi aneh begitu. Masa datang datang dia langsung memeluk mama dengan keadaan senyum senyum sendiri. Terus mama tanya dia kenapa dia malah mengecup pipi ma pa. Ah mama jadi khawatir terjadi sesuatu dengan Arga" jelas mama Arga.


Galih berdecak sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Mama mama, itu tandanya Arga sedang bahagia. Bukankah dulu sikap Arga memang begitu? Sudahlah ma tidak usah terlalu khawatir bukankah itu harapan kita beberapa bulan ini. Arga menjadi Arga yang dulu. Sudahlah mama lanjutkan buat masakan yang enak buat nanti malam. Jangan lupa yang spesial"


Galih meninggalkan sang istri dengan segala kekhawatirannya akan Arga. Ia memberengut saat semua kekhawatirannya tak ditanggapi oleh suaminya.


Mama Arga kembali dengan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. "Masa papa tidak khawatir sama sekali dengan perubahan Arga yang tiba tiba. Ah sebelum terlambat aku harus segera menghubungi psikolog. Siapa tau batin Arga semakin terguncang akibat penyesalannya serta beban pekerjaan yang papa berikan." ucap mama Arga.

__ADS_1


***


Sementara yang dikhawatirkan oleh mamanya kini sedang asyik rebahan diatas kasur dengan tangan dilipat dan jadikan bantalan kepalanya. Matanya menatap langit langit kamar dengan senyum yang tak menyurut dibibirnya.


Terkadang perasaan cinta yang hinggap di jiwa manusia menjadikan manusia tersebut lupa akan segalanya, bahkan tak sedikit orang sampai dibuat gila oleh rasa tersebut. Jika perasaan cinta tersebut didasari oleh rasa syukur akan kehadirannya dan tak melupakan yang maha memiliki-Nya maka perasaan cinta tersebut akan membawa jiwa manusia kearah kebaikan. Namun jika perasaan cinta tersebut didasari oleh nafsu belaka maka ia akan membawa kehancuran dan berujung dengan rasa sakit dan penyesalan. "Al Hubbu Fillah wa Lillah \= Mencintai makhluk Allah karena Allah"


"Mungkin kehadirannya adalah obat dari segala rasa sakit serta penyesalan yang ku alami sebelumnya" ucap Arga. Mata yang berbinar, senyum yang tak menyurut serta hati yang berdesir tak karuan membuat Arga enggan untuk beranjak dari kasur empuknya.


Apa kehadirannya terlalu cepat? atau bahkan sebaliknya? Entahlah rahasia skenario Tuhan tak bisa ditebak oleh akal secara nalar. Yang pasti harus kita yakini dibalik sesuatu yang terjadi pada kehidupan kita pasti ada sesuatu nilai yang sangat berharga disana.


Ketukan pada pintu kamar yang tak kunjung berhenti memaksa Arga untuk bangun dan membukakan pintu kamarnya.


"Papa..." ucap Arga saat pintu sudah ia buka dan menampakan sosok papanya sedang berdiri didepan pintu kamarnya.


"Boleh papa masuk?" tanya Galih.


Galih memperhatikan Arga dari atas kepala hingga kaki dengan seksama. Tak ada yang salah begitu pikir Galih.


"Ada apa pa?" tanya Arga yang heran karena papanya memperhatikan dirinya hingga sebegitunya.


"Tadi mama mengkhawatirkan mu. Kata mama kau pulang dengan senyum senyum sendiri lalu memeluk mama berkali kali. Apa kau baik baik saja?" tanya Galih.


Arga yang ikut duduk disamping sang papa memberanikan diri menatap mata sang papa. Dengan yakin Arga mengangguk dan menjawab bahwa dirinya memang baik baik saja.


"Yakin kau baik baik saja? Apa papa perlu memanggil psikolog untuk membantu mu?" tanya Galih lagi.


Arga melotot mendengar pertanyaan papanya. "Apa papa mengira aku kena tekanan batin? atau secara kasarnya papa sedang mengatakan aku gangguan jiwa?"

__ADS_1


Galih hendak menyela perkataan Arga namu. Arga lebih dulu melanjutkan kalimatnya. "Aku yakin aku baik baik saja kok pa, papa dan mama tidak usah terlalu khawatir" ucap Arga dilanjutkan dengan senyum tulus.


Setelah memastikan jika putranya memang baik baik saja, Galih memilih keluar dari kamar Arga. Seperti biasa Galih mengatakan bahwa ingin yang terbaik untuk puta putrinya dan Arga pun mengerti itu.


Sebelum pintu kamar Arga kembali ditutup, Galih mengatakan ini pada Arga. "Lekas mandi dan papa tunggu di meja makan."


Arga menjawab perintah Galih dengan sopan kemudian ia kembali menutup pintu kamarnya.


Arga memandang pantulan dirinya pada cermin yang menampakan bayangan dirinya dari atas kepala hingga kakinya. Sebenarnya hidup itu simple, Aku saja yang membuatnya terlihat sulit.


Kembali melanjutkan hidup adalah pilihan yang tepat dibandingkan terus tenggelam dalam rasa penyesalan yang tak berujung. Semakin dipikirkan maka akan semakin terasa sulit, tapi jika diterima dengan hati yang lapang, semua yang hilang terasa biasa biasa saja.


Jika kita terjebak dalam sebuah penyesalan, hadapilah dengan ikhlas untuk melaluinya. Karena jika kita berada dalam lorong yang gelap tanpa cahaya dan diujung sana menampakan sebuah cahaya untuk harapan baru, maka lalulilah lebih dulu kegelapan tersebut untuk bisa sampai pada ujung yang terang.


.


.


.


.


.


.Duuuuhh malam minggunya author menghabiskan waktu untuk menulis ini. Lanjutkan jangan? Btw kalian lagi apa dan malam mingguan dengn siapa? kalau nanya author jawabannya sendiri.


Olangan w olangan author mah 😪😪😪

__ADS_1


__ADS_2