
Arga merasa hari harinya makin berwarna semenjak Kia memanggilnya papa. Padahal dia sendiri tidak tahu sebenarnya Kia itu anak siapa. Yang Arga tahu, Kia adalah anak yang dititipkan pada Leela saat ibunya bekerja. Arga bahkan meminta sekertarisnya untuk membelikan mainan. serta mengirimkannya ke rumah Bimo.
Rencana hari ini usai menemui relasi bisnisnya, Arga akan mengajak Kia jalan jalan. Saat hendak kembali ke kantornya sekilas dia melihat seseorang yang dirasa kenal. Benar itu Shepa. "Shepa?" Segera Arga mengejarnya.
Merasa namanya dipanggil, Shepa pun menoleh. Kaget, itulah ekspresi yang ditunjukan Shepa. "Kamu, kok?"
"Hai, long time no see"
"Hai"
"Tadi aku selesai menemui rekan kerja, dan ternyata ketemu kamu disini. Emh kamu kerja disini?"
"Iya, maaf aku harus kembali kerja" Shepa meninggalkan Arga yang belum mengizinkan dia pergi.
Sebuah senyum nyata terlihat di bibir Arga, "Juteknya masih sama".
***
Setelah dirasa langkahnya jauh dari Arga, Shepa memelankan langkahnya. Bruk seorang perempuan menabrak Shepa, membuat berkas yang Shepa bawa jatuh kelantai dan berhamburan.
"Makanya jadi anak baru gak usah sok kecakepan" Kata perempuan itu.
Shepa yang sedang merapihkan berkasnya pun mendongak. "Mbak bicara ke saya?"
"Iya, kamu cewek gatel yang sok kecakepan. Padahal masih cantikan aku kemana mana" lanjutnya sambil mengkibaskan Rambut hitam panjangnya.
"Ada masalah apa mbak?" Tanya Shepa sambil berdiri setelah berkas yang tadi berantakan kembali tersusun.
__ADS_1
"Heh, kamu itu anak baru gak usah belagu" mendorong pundak Shepa, sampai Shepa hampir jatuh. Sejurus kemudian perempuan tadi pergi.
"Aneh, orang gak apa apa di bilang belagu. Dasar."
***
Sejak pertemuan dengan Shepa siang tadi Arga tak melepaskan senyum dari bibirnya. Ah rasanya ingin sekali kembali ke sana untuk sekedar berbincang dengan Shepa. Gadis yang selama empat tahun tak pernah pergi dari otaknya.
"Kejar, gak ya? Dikejar malah makin jauh, gak di kejar ya gitu. Ah bodoh terobos aja lah"
Arga, mampir dulu ke sebuah toko mainan di sebrang jalan. Hari ini dia akan mengobati rasa rindu pada Kia. Rasanya mengeluarkan berapa pun untuk mainan Kia tak masalah. Arga sendiri merasa aneh kenapa dia begitu menyayangi gadis itu. Padahal dia sendiri selalu bersikap jahil pada adik perempuannya.
Sebuah boneka besar berwarna pink menjadi pilihan Arga. "Kia pasti senang dengan boneka ini" ucapnya setelah membayar.
"anaknya pasti seneng deh punya papa kaya bapak" ucap kasir yang melayani Arga.
***
"Papi belum pulang om" Andra menghampiri mobil Arga.
Arga menggaruk kepala bagian belakang merasa bingung, dia kira Andra sedang salah faham pada dirinya. "Om bukan mau ketemu papi, tapi Kia. Dia ada kan?"
"Oh om mau ketemu Kia? Kalau Kia ada kalau papi belum pulang"
"Ya udah panggilan Kia buat om"
"Om tunggu disini jangan masuk. Pamali" Andra meninggalkan Arga sendiri di depan rumah. Dia tidak ingin ada pria lain dirumah selain sang papi.
__ADS_1
"Papa" Kia berteriak sambil berlari saat melihat Arga berdiri tak jauh dari mobil. Arga menyambut Kia dengan merentangkan tangan. "Papa kok kesini nya lama sekali" Gadis kecil itu memanyunkan bibirnya.
"Ah Kia rindu papa ya?" yang di jawab dengan anggukan langsung oleh Kia.
Sementara di dalam rumah Andra sedang mengintip di balik jendela, diikuti Leela. "Kenapa kita gak kasih tau aja om Arga kalau Kia anaknya bibi Shepa mi?" Andra mendongak menatap sang mami.
"Jangan, biarkan saja waktu yang memberitahu om Arga"
"Terus bibi Shepa?"
"Udah anak kecil gak usah mikirin hidup orang dewasa, pusing"
Sementara di luar rumah Kia tampak senang mendapat hadiah boneka besar dari Arga. Bahkan Kia sempat merengek nggak mau Arga meninggalkan dirinya. Padahal itu bukan papa aslinya. Arga sendiri sempat merasa bersalah memainkan peran ini saat melihat ekspresi sedih di wajah Kia. Terlanjur, itulah yang Arga katakan pada dirinya. Mau tidak mau dia harus tetap menjalankan peran tersebut.
***
Waktu terus berputar menelan kejadian yang akan menjadi sejarah. Shepa begitu kaget saat mendapati Kia sedang bermain dengan beberapa mainan barunya. Padahal dia sendiri belum membelikannya. "Kak, Kia dapat mainan baru dari mana?"
"Oh tadi ada orang baik, yang membelikannya untuk Kia" jawab Leela sekenanya.
"Kok bisa?"
"Ya bisalah kan banyak orang baik She"
Shepa tampak berpikir, dia menebak-nebak siapa orang baik yang dimaksud kakaknya. Leela sendiri tak ingin mengatakan jika itu pemberian Arga. Biarlah waktu yang menuntun keduanya jika memang mereka jodoh.
Leela tahu bagiamana terlukanya Shepa dulu. Dia juga tahu bagaimana penyesalan Arga setelah shepa menikah. Jika takdir mengizinkan mereka saling melengkapai. Sejauh apa pun mereka berpisah tentu akan kembali dipersatukan alam. Tentu sebagai orang terdekat, Leela mengharapkan yang terbaik untuk sang adik. Apalagi Kia bisa jadi jembatan penghubung antara Shepa dan Arga.
__ADS_1