
Sebagai pasangan pengantin baru, Aega tak ingin jauh dari Shepa. Setiap aktifitas rumah yang sedang di kerjakan, Arga selalu membuntuti. Sekedar untuk memperhatikan, jika dibutuhkan tenaganya, Arga pun turun tangan.
Kia yang usianya akan menginjak empat tahun tampak tak mempedulikan tingkah orang dewasa. Kia sibuk menyisir bulu boneka yang di berikan oleh Arga. Bernyanyi lagu anak sambil menelengkan kepalan.
"Akhirnya, selesai juga" Shepa membuang nafas. Merentangkan tangan untuk sekedar melenturkan otot.
"Ada aku pasti beres" Celetuk Arga dengan wajah tanpa dosa. Padahal tak banyak yang dia kerjakan selain mengganggu.
"Dih, Emangnya apa yang Aa kerjakan? Perasaan dari tadi hanya ngekor kerjanya" Aa adalah panggilan sayang yang Shepa guankan sekarang. Maklum, masih ingatkan Shepa orang mana? Orang sunda.
"Kok Aa? Aa, Aa, Aa."
"Memangnya aku harus panggil apa?"
"Sayang dong, kan aku juga manggilnya sayang."
"Itu berlaku kalau di dalam kamar, di luar beda lagi"
"Sama lah, kalau panggil Aa kan seperti kakak beradik. Ntar ada yang naksir lagi sama aku" Merebahkan kepala di pangkuan sang istri saat mereka mengistirahatkan tubuh di sopa.
"Biar saja ada yang naksir. Perselingkuhan tidak akan terjadi kalau tuan rumah tahu diri. Mereka mengetuk boleh di buka, tapi tidak dibiarkan masuk begitu saja. Kalau sudah tahu niatnya terserah."
"Memangnya sayang gak takut aku berpaling?"
"Aku percaya, apa yang sudah di takdirkan untuk pasti datang. Yang tidak di takdirkan untuk ku pasti pergi. Emangnya ada niat untuk berpaling?" Melirik dengan tatapan mengiris.
"Menaklukan satu perempuan saja aku memerlukan waktu lama. Lalu untuk apa aku membuang waktu hanya untuk mengenal perempuan lain. Yang di rumah pun aku rasa sudah cukup."
"Emmh"
"Gak usah percaya She, aku tahu bagaimana dia. Jangan tertipu dengan rayu, bisa saja itu menebar racun." Suara itu terdengar dari pintu masuk yang menampakan Bimo dan Andra di sana.
"Iya Bibi Shepa, kata Papa orang yang berkata manis biasanya ada maunya. Semacam udang di balik bakwan. Enak" Andra yang dulu selalu bertingkah lucu pun sudah pintar dalam merangkai kata.
Shepa tertawa mendengarnya. Dia segera membenarkan posisi duduk. Termasuk membuat Arga kembali duduk.
__ADS_1
"Ganggu saja." Meski menggerutu tapi Arga tetap membenarkan posisi duduknya.
"Ya elah mentang-mentang manten baru. Noh nanti malam juga masih ada waktu." Bimo dan Andra duduk di sofa setelah di persilahkan oleh Shepa.
Minuman segar dengan cemilan ringan di sajikan untuk menemani mereka.
"Ah syegeeerrr" Andra menghabiskan satu gelas jus langsung.
"Di rumah gak ada ya, Ndra?" Arga melirik Bimo. Saling roasting itu sudah kebiasaan. Tak aneh.
"Di rumah adanya yang manis dan hangat seperti Mami iya kan, Pi"
Bimo mengangguk mengiyakan. Sebab jika tidak, bisa jadi dia tidak bisa mememeluk istrinya malam nanti. Leela sangat sensitif di kahemilan ke dua.
"Yah, Kia mainnya sama boneka mulu, minta adik dong ke papa Arga."
"Aadiik"
"Iya biar mainnya kayak kak Andra dan kak Kean."
"Papa, Kia mau adik"
"Iya, sedang dalam proses. Sabar ya." Tawa mengantarkan kehangatan dalam obrolan mereka.
Shepa tak ikut menimpali, dia memilih menyiapkan makan siang bersama Bibi di dapur.
***
Arga sibuk dengan laptopnya di tempat tidur. Shepa memilih memasukan pakaian yang selesai di lipat. "Yang, nanti gak usah kerja lagi ya."
"Kenapa harus berhenti."
"Aku ingin proses pembuatan adik untuk Kia lancar."
Shepa memberengut mendengar jawaban Arga yang spontan. Sementara Arga tertawa puas tanpa mengalihkan pandangan. Tak mendengar jawaban dari Shepa, Arga menoleh sejenak.
__ADS_1
Menyimpan laptop yang dia pegang di tempat tidur dan segera menghampiri sang istri.
"Bukan begitu, mencari nafkah bukan kewajibanmu. Sekarang akulah yang bertanggung jawab nafkah atas dirimu dan Kia."
Pelukan serta kecupan Arga berikan.
"Tapi kenapa harus berhenti juga. Bukanya membantu suami mencari nafkah itu berpahala."
"Benar, tapi di dalam rumah akan lebih banyak kebaikan untuk mu. Terutama menghindari fitnah. Aku juga tidak ingin orang lain di luar sana menikmati kecantikan mu. Cukup aku saja"
Shepa mengangguk, dia mengerti akan hal itu. Sebenarnya dia tidak ingin terlalu menggantungkan diri pada Arga.
"Tapi aku, ...."
"Shuuuuttt, sudah tidak ada bantahan lagi. Kewajibanmu hanya melayani ku, menjaga Kia. Itu saja sudah cukup jadi bakti mu."
Kata manis selalu terucap dari Arga, akan tetapi Shepa merasa khawatir. Khawatir dia tidak bisa membalas cinta Arga sebagai mana mestinya.
"Kebiasaan, bengong lagi. Mikirin apa sih?"
Helaan nafas panjang terdengar jelas. "Kamu memberikan cinta yang begitu besar. Aku takut aku tak mampu membalasnya."
"Pengabdian mu saja sudah cukup. Cinta? Biarkan cinta-Nya menaungi rumah tangga kita. Jangan pikirkan lagi ya" Satu kecupan kembali Shepa dapatkan.
Mengayuh rasa, memeluk cinta bersatu dalam lautan hasrat. Berlayar bersama bertukar rasa. Dibalut kehangatan dalam ikatan yang sah. Ibadah yang paling di cintai setiap insan.
.
.
.
.
. Malam minggu mblo, kemana nih? Jangan lupa berikan cinta untuk yang terdekat saja. Yang jauh biarkan saja toh dia yang memilih pergi. Peluk hangat di malam minggu dari author 😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1
Ini bonus yang kalian tagih selalu 😵