Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
16


__ADS_3

"Jadi kapan Re"


"Apaan sih bu" ucap Revina yang sudah tau maksud dan tujuan ibunya.


"Yang tadi malam"


"Nggak semudah itu, emangnya gampang apa tiba tiba ngajak anak orang menikah. Nanti aku disangka hamdu (Hamil duluan) lagi bu"


"Justru menikah itu juga untuk mencegah itu" tukas ibunya.


Revina diam sejenak bingung tidak tau harus berkata apa lagi pada ibunya. "Secepatnya Revi kasih kabar baik ke ibu ya" berusaha untuk tidak berdebat dengan ibunya.


Sang ibu mencebikan bibirnya, ia sudah tau apa yang akan Revina ucapkan. "Kalau kamu sulit untuk menentukan dengan siapa kamu menikah, maka menikah lah dengan pilihan ibu!"


"Bu, jangan seperti itu dong bu" memasang wajah sememelas mungkin.


"Halah kalau nunggu kamu menemukan pasangan yang cocok mau sampai kapan? Nak Arga aja yang jelas jelas menurut ibu baik kau malah menyakitinya"


"Apa menurut ibu itu yang terbaik?"


"Ya, karena tidak bagus kalau anak perempuan seperti kamu sering keluar sama teman laki laki, ya meskipun ibu mengenalnya tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya"


"Astagfirullah bu, tidak baik berprasangka buruk. Lagian Revi pergi dengan Rega karena urusan pekerjaan" Revina berusaha menjelaskan.


"Ya ibu tau tapi alangkah lebih baik jika kamu menikah dengannya! Kalian bisa pergi kemana pun kalian mau baik itu untuk urusan pekerjaan atau pun yang lainnya"


"Aaaaahhh kenapa sih ibu tiba tiba memaksa aku menikah? ngapain juga aku melepaskan Arga waktu kalau tau ibu akan seperti ini. Ah dasar bodoh bodoh"


Revina diam tidak memberikan tanggapan apa pun pikirannya sibuk berkelana memikirkan kebodohannya. Yang ia lakukan adalah segera menghabiskan sarapannya dan segera pergi untuk menghindari ibu yang akan menuntut panjang lebar.


***


"Selamat pagi ratu patah hati 😊 semoga hari ini hati mu menemukan obat agar kau tak menutup hati untuk pria seperti ku" ~~?


Shepa memanyunkan bibirnya saat membaca kata ke tiga, ke empat dan kelima. "Ratu para hati, Astagfirullah"


"***apa tidak ada sebutan lain selain ratu patah hati?" ~~Shepa


"Sepertinya hari ini belum ada, tapi tidak tau besok semoga aku melihat sesuatu yang baru dari mu******" ~~?


"Ah berarti harus nunggu besok agar aku bisa menghapus gelar yang baru saja sematkan untukku. Terimakasih 🤗" ~~Shepa


"Have a nice day 🤓🤓" ~~?


"You too" ~~Shepa

__ADS_1


Seorang pria yang cukup dewasa sedang tersenyum disana.


Setelah berkirim pesan Shepa melanjutkan rutinitas yang ia lakukan disetiap pagi.


Lumayan pesan yang selalu dikirim seseorang untuk nya selalu membantu menambah warna baru dalam kehidupannya.


Dia lah yang selalu membantu Shepa untuk bangkit dari keterpurukkannya. Meski demikian Shepa tak pernah menceritakan itu pada teman temannya, termasuk pada Gia yang notabene nya sahabat paling dekatnya.


Shepa yang sekarang terlihat jauh lebih ceria dari sebelum sebelumnya. Mungkin ia benar benar move on dari Arga, semoga.


***


Selepas Arga menyegarkan diri ia lantas menemui Andi sang adik. "Di?"


"Apa?"


"Emangnya kalau jatuh cinta semenyakitkan ini ya?"


"Itu mah nasib kak Arga aja yang kurang beruntung" ucap Andi


"Kakak nanya harusnya di jawab bukan di ledek" kesana Bimo sambil mentoyor kepala adiknya.


"Emang ya kalau bujang jomblo ya bawaanya ngenes mulu" celetuk Andi lagi.


"Nggak ada gunanya bicara sama jomblo" ucap Arga sambil menekan kata terakhir di kuping Andi.


"Nasib nasib, padahal kamu ganteng Ga, tajir lagi" ucap Arga dalam hati sambil menggelengkan kepala pelan.


"Eh tunggu tunggu tapi apa benar Revina menikah ya? Ah semoga saja tidak, kenapa aku percaya begitu saja sih sama dia." Gumam Arga.


Dan pada akhirnya Arga jomblo kembali. Setelah beberapa bulan Arga di kejukan kedatangan Bimo di kafenya. Tapi kali ini yang mambuatnya terkejut adalah apa yang Bimo bawa.


"Apa ini serius atau ini hanya kerjaan mu saja kawan" tanya Arga sambil membuka kartu undangan yang baru saja di letakkan diatas meja oleh Bimo dan bertulisakan nama Shepa serta Wiji sebagai pasangannya.


"Tidak, tapi kali ini sungguhan. Apa yang aku khawatirkan ternyata benar Shepa akan menikah dengan Wiji" ucap Bimo yang sebenarnya lebih khawatir jika nanti Wiji mengganggu rumah tangganya. Dasar Bimo bucin akut.


"Kau kapan?" lanjut Bimo


Arga tersenyum kecut "Rupa nya keberuntungan tak lagi berpikah kepada ku" ucap Arga sambil membenarkan posisi duduknya.


"Tuhan menyediakan yang terbaik untuk mu sobat, tak apalah jomblo sebentar. Untuk sementara tahan dulu ya" ucap Bimo diselingi candaan.


"Astaga kau ini" Arga melotot mendengar perkataan Bimo.


"Kan biasanya juga kuat kok tahan lama lama jomblo" ucap Bimo lagi.

__ADS_1


"Dasar"


"Aku kesini hanya untuk mengantarkan ini, kau akan datang kan?" tentu saja.


Arga menarik salah satu sudut bibirnya. "Tentu saja, karena aku tak sepencundang itu"


"Aku tau kau jomblo yang hebat kawan. Sepertinya alam semesta lebih menyukai kau sendiri dari pada memiliki pasangan"


"Aaahhh Bimo"


Bimo hanya terkekeh melihat raut muka Arga yang menurutmu lebih mirip Andra ketika Andra merajuk.


"Berhenti tertawa Bimo, sebelum aku benar benar melempar kau ke dasar bumi" Ancam Arga yang merasa kesal akan Bimo yang selalu saja mengejeknya.


"Baiklah baiklah aku pulang dulu, jangan lupa datang"


Selepas kepergian Bimo Arga kembali membuka kartu undangan tersebut. "Beruntung kamu Wij , Wij. Dia perempuan yang baik tapi sayang aku yang terlalu bodoh" ucapnya sambil membuang nafasnya secara perlahan.


Sejenak memejamkan matanya untuk meresapi kesalahannya. "Andai aku tak bersikap serakah mungkin aku juga akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti dia dan Shepa"


Kasihan ya nasib Arga, 😂 😂 😂


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.Sekian dulunya kita sambung besok selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga tercinta. Salam sayang dari author, tetap jaga kesehatan dan semoga sehat selalu 😘 😘 😘 😘


__ADS_2