Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
42


__ADS_3

Arga melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam setengah lima sore tapi yang ditunggu belum menampakan batang hidungnya. Fokus matanya pada pintu keluar berharap yang ditunggu segera muncul dari sana. "Harusnya dia sudah keluar kan?" Mulutnya terlihat beberapa kali berdecak. Andai saja ini bukan menyangkut perasaan dirinya. Dia tidak akan mau sama sekali menunggu.


Bibir yang sejak tadi berdecak kini tersenyum lebar saat orang yang ditunggu mulai menampakan batang hidungnya. "Shepa" Teriak Arga


Shepa melirik ke sumber suara, dengan langkah ragu dia menghampiri. "Ada apa?"


"Aku perlu bicara sama kamu"


Tak ada penolakan dari Shepa dia mengikuti Arga masuk ke dalam mobil. Hening tak ada perbincangan yang begitu berarti semua sibuk dengan segala pemikiran masing masing.


Arga membawa Shepa ke taman dekat jalan awal pertemuan mereka. Shepa sama sekali tak mengingat peristiwa itu. Dia hanya berpikir mungkin Arga ingin berbicara di tempat yang dia sukai.


Mereka duduk berdampingan namun masih ada jarak diantara mereka. Arga melirik Shepa yang sedang menatap sejauh mata memandang. Meski dengan perasaan yang tak karuan Arga mengutarakan niat yang selama ini dia pendam. "Di jalan sana awal pertemuan kita, kau masih ingat bagaimana awal pertemuan kita?" Shepa menjawab dengan menganggukan kepala. Bagaimana mungkin dia lupa awal pertemuan merka namun dia tak mengingat dengan jelas tempatnya.


"Kau ingat bagaimana sikap mu dan sikap ku saat itu. Awalnya aku berpikir kalau aku tak mungkin akan jatuh cinta dengan gadis itu. Aku malah memperjuangkan yang tak ingin di perjuangkan." Arga melirik Shepa yang tak memberikan reaksi apa pun. "Aku pernah melihat cinta di matamu namun aku memilih menampiknya, sampai akhirnya aku tiba di titik penyesalan itu."


Shepa mengerti maksud Arga namun dia memilih tidak menunjukan wajah senang dia hanya penampilan wajah datar kemudian diikuti senyum kecil setelahnya. "Saat berada di jalan yang sama pun aku merasa tak mungkin, apalagi sekarang kita berada di jalan yang berbeda"


"Itu karena aku yang egois"

__ADS_1


"Kau dan aku pernah menulis cerita yang sama, namun kita bukan tokoh utama untuk akhir"


"Shepa" Arga menarik Shepa untuk menatap, dia memaku untuk meyakinkannya. "Kau dan aku adalah cerita yang belum selesai. Izinkan aku menemani mu menyelesaikan cerita ini"


"Kau yakin?"


"Apa kau tidak tahu alasan aku sampai saat ini tak mencari tokoh lain dalam perjalanan cerita ini? Itu karena aku ingin menyelesaikan dengan yang seharusnya"


"Aku tidak ingin menyambung cerita itu, aku punya cerita yang harus aku selesaikan sendiri. Sudah ku katakan berkali kali. Kita sudah tida berada di jalan yang sama"


"Kau bisa pindah dari jalan itu, tergantung bagaimana kau memilih."


"Kamu egois, Shepa. Padahal kita sama sama tahu bahwa Kia membutuhkan sosok itu"


Shepa tak langsung menimpali perkataan Arga, dia sibuk menimang kata yang pantas namun tidak menyakiti. Dia sendiri sadar akan perasaanya, perasaan yang sempat dia tutup rapat namun hari ini Arga sendiri yang memilih membukanya.


"Izinkan aku menemani cerita Kia hingga dia dewasa dan mengerti. Izinkan aku memaafkan segala penyesalanku terhadapu mu She"


Shepa menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak. Airmata mulai terlihat di pelupuk matanya. Arga memang benar, tapi haruskah dia kembali menyambung cerita yang pernah dia tutup. "Aku tidak ingin menyesal di akhir cerita karena mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Aku akan menjawabnya nanti"

__ADS_1


Arga mengangguk, meski sebenarnya dia menginginkan jawaban hari ini. Apa daya dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. "Apa kau masih terikat dengan masalalu mu?" Shepa bertanya setelah melirik Arga.


"Iya"


"Lalu bagaimana ceritanya kau ingin melanjutkan cerita ini. Aku tak sanggup untuk itu, aku hanya perempuan biasa Arga."


"Masalalu yang mengikatku adalah kau Shepa. Revina sudah memilih jalan cerita dan berakhir bahagia, hanya kita yang ceritanya belum selesai"


"Sudah malam, aku harus harus pulang putriku pasti menunggu. Tolong kasih aku waktu untuk menimang semua itu"


"Berapa lama lagi aku harus terbelenggu dengan semua ini. Tidakkah kau merasa puas melihat aku dengan segala penyesalanku" Arga mengacak rambutnya prustasi.


"Aku tidak pandai mengambil keputusan dalam keadaan seperti ini. Tolong mengertilah." Setelah mengucapkan kalimat itu Shepa memilih pergi meninggalkan Arga dengan segala harapannya. Arga melihat kepergian Shepa yang tak memberikan kejelasan jawaban untuk dirinya. tanpa dia tahu kalau Shepa menangis di dalam taksi yang ditumpanginya.


***


Shepa menjemput Kia lebih dulu dirumah sang kakak. Sepanjang perjalanan dari rumah Leela hingga sampai dirumahnya Shepa terus memikirkan perkataan Arga. Benarkah dirinya egois. Padahal dia yakin Arga lah yang egois.


Sampai di rumah Shepa langsung membawa Kia ke kamarnya. Gadis itu tertidur sejak di perjalanan tadi. Dengan Lembut Shepa membelai rambut sang putri. Benar Kia membutuhkan sosok ayah untuk menemani perjalanan hidupnya, tapi apa harus dengan Arga. Haruskah dia menyetujui apa yang Arga katakan tadi, atau dia berpegang teguh dengan jalan ceritanya sendiri. Akankah mereka saling menerima dan hidup seperti seharusnya. Jalan mereka terlalu berliku, apalagi dengan keadaan sekarang. Tentu Shepa harus memikirnya matang matang. Dia dulu menginginkan Arga, tapi apa sekarang dia pantas untuk Arga. Shepa tidak yakin akan itu saat melihat kondisinya saat ini. Dia harus berpikir bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk Kia. Perbedaan mereka terlalu jauh sekarang. Arga pengusaha sukses sementara dirinya hanya janda yang dipaksa oleh keadaan. Perasaannya untuk Arga tak bisa dia akui, namu. di tepis pun tak bisa. Shepa dilema oleh keadaan.

__ADS_1


__ADS_2