Biarkan Hati Yang Memilih

Biarkan Hati Yang Memilih
9


__ADS_3

Malam ini mau tidak mau Arga harus pergi ke acara ulang tahun Andra di rumah Bimo. Meski hatinya sedang kacau tak menentu rasanya tidak enak jika harus menolak undangan Bimo.


jam menunjukan pukul 19.05 Arga segera memasuki mobilnya dan meluncur kerumah Bimo. Ketika tiba disana ternyata suasana rumah sudah ramai, banyak kolega bisnis Bimo yang diundangnya.


Terlihat juga Shepa dan Wiji ada disana sedang bersenda gurau bersama Andra.


Bimo membuang nafasnya pelan kemudian melangkah masuk dan mulai berbaur dengan yang lainnya.


"Sudah ku duga kak Bimo pasti mengundangnya" batin Leela saat melihat Arga menyapa teman dan kolega bisnis Bimo.


"Tante sama om ini, sama kayak mami sama papi ya" celetuk Andra membuat Shepa kebingungan untuk menjawab namun tidak dengan Wiji.


Wiji tersenyum sambil membelai puncak kepala Andra "Doakan saja" ucap Wiji membuat Shepa membelalakkan matanya.


Seakan mengerti akan tatapan yang dilayangkan Shepa, "Apapun itu, yang baik itu harus selalu didoakan, benar kan Ndra?"


"Benal om" ucap Andra sambil mengangkat jempolnya.


"Jangan aneh aneh kak" ucap Shepa sedikit berbisik takut ada yang mendengarnya.


Wiji terkekeh melihat ekspresi wajah yang ditunjukan Shepa "Nggak ada yang aneh aneh, kakak cuma minta mendoakan" ucap Wiji santai.


"Iya tapi itu artinya kakak mengharapkan" ucap Shepa merasa geram.


"Lho kata siapa sok tau, emang salah jika mengharapkan sesuatu yang baik? kakak rasa tidak"


Shepa mencebikan bibirnya merasa tidak setuju dengan yang Wiji ucapkan. Shepa bukan lah anak SD yang mudah dibodoh bodohi, ia paham maksud Wiji. Namun Shepa memilih tidak ingin memberikan harapan apa pun yang belum tentu ia bisa memberikannya.


Acara ulang tahun Andra berlangsung selama 2 jam dan itu begitu ramai sekali. Maklum anak horang kaya.


Sepanjang acara berlangsung baik Shepa maupun Arga belum ada yang saling bertegur sapa. Mungkin Arga masih dilanda kegalauan akibat penolakan Revina siang tadi.


Lepas acara selesai dan tamu undangan sudah membubarkan diri masing masing. Bimo, Leela, Shepa, dan Arga duduk di meja bundar. Otomatis Shepa duduk di sebelah kanan Leela yang artinya di sebelah kiri Arga.


Sementara Wiji sudah pulang karena Shepa akan nginap di rumah Bimo.


"Jadi gimana Ga?" Bimo mengawali percakapan diantara mereka. "Berhasil kamu menemui Revina?"


Semua mata tertuju pada Arga yang sedang menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Berhasil" Lalu Arga memberi jeda sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Bahkan aku berniat untuk melamarnya"


Deg hati Shepa mendadak terasa ditusuk ribuan panah yang ujung sudah diolesi bisa ular. Sekuat tenaga Shepa tidak menunjukan reaksi apa pun.

__ADS_1


"Tapi sayang" Arga menarik salah satu bibirnya sehingga membentuk sebuah senyum sinis. "Sebelum aku benar benar melamarnya dia sudah menolak ku lebih dulu, Haaah" Arga tersenyum getir.


"Sabar Ga, mungkin dia bukan tulang rusuk yang diciptakan tuhan untuk mu" kali ini Leela yang bicara.


Sementara Shepa diam tak memberikan tanggapan apa pun.


Ia tidak tau harus senang atau harus sedih melihat Arga yang terlihat seolah begitu terpuruk.


"Apa rencana kau selanjutnya?" tanya Bimo sambil menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan oleh pelayannya.


"Aku tidak tau, aku butuh waktu untuk memikirkan hal itu" ucapan Arga terdengar begitu berat.


"Apa kau tidak akan membuka hati untuk hati yang baru?" tanya Bimo. Sejak tadi ia memperhatikan raut muka Shepa.


Bimo sangat tau bagaimana perasaan adik iparnya terhadap sahabatnya. Bahkan beberapa bulan yang lalu Shepa meminta bantuannya untuk menghindar dari Arga agar mampu melupakan perasaannya dan menerima lapang dada atas keputusan yang di ambil Arga waktu itu.


"Mungkin saja di luar sana masih ada hati yang menunggu untuk kau jemput" lanjut Bimo.


Arga terlihat memaksakan senyumnya "Aku belum memikirkan hal sejauh itu, aku masih yakin dengan perasaan ku saat ini. Mungkin butuh waktu untuk aku bisa meyakinkan dirinya" ucap Arga yang mengikuti Bimo menyeruput kopi yang ada dihadapannya.


"Terus sampai kapan kau akan menyendiri seperti ini? ingat Ga umur mu tidak muda lagi, Shepa aja sudah mau menikah, iya kan She?" ucap Bimo membuat Leela dan yang lainnya tercengang.


Leela memanadang Shepa sejenak sebelum mengalihkan tatapannya pada Bimo suaminya seolah meminta penjelasan atas pernyataan yang baru saja Bimo lontarkan.


"Benar itu She?" kali ini Arga bertanya dengan tatapan yang tidak bisa Shepa mengerti.


"Emmhhh anu" Shepa bingung harus menjawab apa.


"Benarkan She?" kali ini Bimo yang bertanya pada Shepa untuk memperkuat pernyataannya.


Shepa mengangguk sebagai tanda apa yang Bimo katakan adalah benar. Deg detak jantung Arga terasa berhenti sejenak, ada perasaan tidak rela dalam hatinya.


"Semoga kau menikah dengan orang yang tepat ya She" ucap Arga dengan senyum yang terlihat tidak tulus sama sekali.


Arga melirik jam tangan yang nelingakar ditangan sebelah kirinya. "Maaf Bim, sepertinya aku harus pulang dulu" Arga memandang Shepa sejenak kemudian melanjutkan kembali ucapannya. "Sekali lagi selamat ya She"


Arga meninggalkan rumah Bimo setelah sebelumnya berpamitan terlebih dahulu. "Beruntung orang yang mendapatkan hati perempuan seperti Shepa," mengambil nafas sejenak kemudian melanjutkan kembali yang sempat berhenti. "Mungkin ini yang terbaik untuk Shepa"


Matanya terasa perih saat cairan bening mulai menggenangi pelupuk matanya. Hari ini terasa hari paling buruk bagi Arga dari hari hari sebelumnya.


Ibarat kata pepatah "Sudah jatuh tertimpa tangga pula"

__ADS_1


***


Sementara dirumah Bimo, selepas Arga pergi. Leela langsung memberondong suuami dan adiknya dengan pertanyaan.


"Aku juga tidak tau maksud kak Bimo apa?" ucap Shepa.


Leela mengalihkan pandangannya pada Bimo meminta jawaban atas pertanyaan yang baru saja dilontarkannya.


"Penasaran ya?" ucap Bimo sambil mencolek dagu istrinya.


"Udah papi nggak usah basa basi, sekarang jelaskan apa maksud papi tadi" ucap Leela.


"Dikamar aja ya jelasin nya" ucap Bimo.


"Loh, kalau dikamar, Shepa tidak akan tau" protes Leela. Sebenarnya bukan itu yang Leela pikirkan, kalau dikamar Bimo akan bebas meminta imbalan kepadanya.


"Kasihan Shepa nya sudah ngantuk sayang, iya kan She?" Bimo selalu ada saja akalnya, namanya juga bos.


Shepa mengangguk sebagai tanda jawaban iya, meski sebenarnya dia juga masih belum paham maksud Bimo tadi.


"Ya udah sayang biar Shepa istirahat dulu, besok kan dia harus kuliah" ucap Bimo lagi.


"hayo mau alasan apa lagi?"


Bimo terlihat menyeringai karena berhasil meyakinkan istrinya. Ia hari ini bebas mau minta imbang berapa kali pun begitu yang dipikirkan oleh Bimo.


Shepa masuk ke dalam kamar yang sudah biasa ia pakai jika nginap di rumah kakaknya. Sementara Bimo sedang bersiul riang sambil menggendong istrinya ke kamar mereka.


.


.


.


.


.


.


Hai hai lama sekali author tidak menyapa readers setia ku. Semoga kalian dalam keadaan sehat selalu ya. Emmhh sebenarnya ini konflik tidak terlalu berat tapi ya cukup menjadi bumbu emosi kan?

__ADS_1


Oke jangan lupa tinggalkan jejak baca dan bantu vote, like ang comment ya 😘😘😘😘


__ADS_2